Sophia Latjuba & Geger Busana Minang Modern

Category: NEWS -> SOSIAL BUDAYA | Posted date: 2018-05-06 00:49:14 | Updated date: 2018-05-07 15:11:11 | Posted by: Farid Iskandar


Ceknricek.com - Sophia Latjuba nyaris terjatuh saat memeragakan busana rancangan Anne Avantie dalam Indonesia Fashion Week, di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (29/3) malam. Pagelaran yang mengusung tema Sekarayu Sriwedari itu, sekaligus merayakan 29 tahun kar



Ceknricek.com - Sophia Latjuba nyaris terjatuh saat memeragakan busana rancangan Anne Avantie dalam Indonesia Fashion Week, di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (29/3) malam. Pagelaran yang mengusung tema Sekarayu Sriwedari itu, sekaligus merayakan 29 tahun karier Anne Avantie di industri fesyen Tanah Air.

Bersama sederet artis lain, Sofie -- begitu Sophia Latjuba akrab disapa -- ditunjuk mengenakan kebaya yang dipadu suntiang, hiasan kepala khas mempelai perempuan Minangkabau. Kebaya yang ia kenakan terbuka pada bagian punggung, bahu, dan dada. Detail kristal menempel pada bahan tule transparan. Bagian pinggang dirancang bersiluet a line dengan rok batik menyerupai jubah.

Sofie mengaku sangat exciting memeragakan busana dengan sentuhan adat Minangkabau. “Ini namanya suntiang. Belum pernah (pakai). Ini surprise dari Bunda (Anne Avantie). Saya cuma fitting bajunya tapi dengan tema apa, saya enggak tahu,” katanya usai peragaan busana.

Seumur hidupnya, itulah kali pertama ia mengenakan suntiang. Sofie mengaku hampir terjatuh bukan karena beratnya beban di kepala (suntiang), melainkan karena roknya yang terlalu ketat.

Menyalahi Falsafah

Busana rancangan Anne tak cuma “menyulitkan” gerakan Sofie, belakangan juga memicu protes masyarakat Minang. Protes terbuka setidaknya disampaikan Ketua Penasihat Bundo Kanduang Sumatera Barat, Nevi Irwan Prayitno, lewat pemberitaan media, Jumat (6/4).

Protes tersebut mendapat perhatian masyarakat karena berbarengan dengan kontroversi puisi Sukmawati Soekarnoputri yang dibacakan di acara yang sama.

Menurut Nevi yang juga istri Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, penggunaan suntiang pada kebaya rancangan Anne menyalahi falsafah hidup Minang : Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Falsafah yang dijadikan pegangan masyarakat Minang dalam menjalani kehidupan sehari-hari itu bermakna : “adat berlandaskan syariah, syariah berlandaskan kitab Allah”.

Ia bahkan sempat menggalang suara dan tanda tangan dari para ketua Bundo Kanduang se-Sumatera Barat, untuk melakukan somasi sebagai wujud reaksi keras atas pelecehan adat yang dilakukan Anne Avantie.

Menurut aturan adat, suntiang haruslah dikenakan bersama pakaian tertutup, tidak ketat, dan tidak mempertontonkan lekuk tubuh. Pernyataan tersebut diutarakan Elly Kasim, artis senior asal Sumatera Barat yang kini menekuni wedding organizer khusus adat Minang. Menurut dia, busana pengantin Minang boleh-boleh saja di up-grade, tapi jangan sampai menghilangkan identitas Minang atau pakemnya sesuai dengan falsafah tadi : Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Insiden Suntiang

Elly Kasim punya cerita menarik di balik munculnya insiden suntiang dalam pagelaran busana Anne Avantie. Ia bercerita, suntiang yang dikenakan Sofie diambil staf Anne dari sanggarnya, Elly Kasim Collection, beberapa jam sebelum acara digelar.

Dalam perbincangan dengan Elly, Anne terkesan galau menggunakan suntiang untuk kebaya yang dirancangnya. Hingga saat pagelaran tiba, Anne bahkan belum memutuskan untuk menggunakan hiasan itu atau tidak. Di tengah keraguan tersebut, tanpa sepengetahuan Anne, stafnya memasangkan suntiang pada Sofie saat memeragakan busana rancangannya.

Permintaan Maaf

Pernyataan Elly selaras dengan surat Anne Avantie yang diterima redaksi C&R, Senin (9/4) siang. Dalam surat yang ditujukan kepada masyarakat Minang melalui Forum Minang Maimbau itu, Anne membeberkan panjang lebar seputar insiden Suntiang.

“Pada saat itu saya sama sekali belum melihat bentuknya (suntiang), termasuk belum memegang dan belum juga memerintahkan untuk memasang di kepala model tersebut (Sophia Latjuba). Karena saya tahu bahwa model tersebut mengenakan gaun dengan aksen jubah batik. Awalnya saya berencana untuk merangkainya dengan hiasan rambut lain dan bunga,” tulis Anne dalam suratnya.

Menurut Anne, peristiwa itu terjadi di luar kuasanya, dan tidak ingin diperjelas karena menyangkut orang lain yang justru akan memperpanjang persoalan. “Namun sekali lagi semua sudah terjadi dan saya mohon maaf,” tulisnya lagi.

Anne Avantie bukan nama baru di industri fesyen Tanah Air. Desainer kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 20 Mei 1954 itu dikenal melalui berbagai koleksi kebaya rancangannya. Karyanya diakui dalam skala internasional dan sering dikenakan para selebriti dan Miss Universe yang datang ke Indonesia. Sepanjang 29 tahun berkarier, inilah kali pertama karyanya memicu protes masyarakat.