"Orang Jawa Naik Haji" Telah Tiada

Category: NEWS -> SOSIAL BUDAYA | Posted date: 2018-05-06 01:05:21 | Updated date: 2018-05-17 01:20:59 | Posted by:


Ceknricek.com - Seniman dan budayawan terkenal Indonesia Danarto (77 tahun) Selasa (10/4) pukul 20.45 WIB meninggal dunia di RS Fatmawati. Sahabat almarhum Jajang C Noer mengabari saya berita duka itu semalam via Whats App, pukul 10 malam waktu Kuala Lump



Ceknricek.com - Seniman dan budayawan terkenal Indonesia Danarto (77 tahun) Selasa (10/4) pukul 20.45 WIB meninggal dunia di RS Fatmawati. Sahabat almarhum Jajang C Noer mengabari saya berita duka itu semalam via Whats App, pukul 10 malam waktu Kuala Lumpur, Malaysia.

Dua jam sebelumnya istri almarhum sutradara film Arifin C Noer itu aktif menginformasikan kondisi penulis buku “Orang Jawa Naik Haji” itu sejak awal dirawat karena ditabrak sepeda motor hingga Danarto mengembuskan nafas terakhir.

Jajang baru saja pulang dari RS menunggui Danarto yang dirawat di ruang ICU ketika mendapat kabar Danarto sudah tiada. “Saya baru sampai di rumah. Sekarang mau balik lagi ke RS,” kata Jajang dalam nada berduka.

Selasa siang pukul 13.30 WIB Danarto ditabrak motor saat menyeberang jalan dekat kampus UIN di daerah Ciputat. Hari itu ia bermaksud ke sebuah bank. Kecelakaan itu membuat pengarang kumpulan cerpen “Godlob” itu tak sadarkan diri hingga menghembuskan nafas terakhir.

Lahir di Sragen, Jawa Tengah 27 Juni 1940.  Ibunya Siti Aminah, seorang pedagang eceran di pasar kabupaten. Sedangkan ayahnya Djakio Hardjosoewarno, seorang buruh pabrik gula Modjo. Danarto adalah anak keempat dari lima bersaudara. Menikah dengan Siti Zainab Luxfiati, seorang psikolog.

Selama kuliah di ASRI Yogyakarta, Danarto aktif dalam Sanggar Bambu pimpinan pelukis Sunarto Pr. Ia juga ikut mendirikan Sanggar Bambu Jakarta. Danarto yang pernah bekerja di majalah Zaman (1979-1985).

Pada tahun 1976 mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika Serikat. Tahun 1983 menjadi peserta Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda. Danarto pernah bergabung pula dengan Teater Sardono. Grouo itu ke Eropa Barat dan Asia pada 1974.

Menurut Wikipedia, 1 Januari 1986, Danarto mengakhiri masa bujangannya dengan menikahi Siti Zainab Luxfiati, yang biasa dipanggil Dunuk. Sayang, rumah tangga pasutri ini tidak berlangsung lama. Danarto dan Zainab bercerai setelah lebih kurang 15 tahun berumah tangga.

Danarto kaya dengan perjalanan kesenian baik di dalam negeri dan di luar negeri. Selain sebagai sastrawan, ia dikenal juga sebagai pelukis, yang memang ditekuni sejak masa muda. Sebagai pelukis ia pernah mengadakan pameran di beberapa kota. Di samping berpameran Kanvas Kosong (1973) ia juga berpameran puisi konkret (1978).

Sebagai budayawan dan penyair ia pernah mengikuti program menulis di luar negeri diantaranya di Kyoto, Jepang. Buku-bukunya antara lain kumpulan cerpen “Godlob” (1975), “Adam Ma’rifat” (1982), catatan perjalanan haji “Orang Jawa Naik Haji” (1983), “Berhala” (1987), “Setangkai Melati di Sayap Jibril” (2000), “Kaca Piring” (2008).

Jenazah almarhum Rabu pukul 02.00 diberangkatkan ke Sragen, Jawa Tengah untuk dikebumikan di kampung halamannya. Puluhan seniman dan budayawan menemani almarhum sejak kecelakaan hingga wafat dan ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Antaranya Putu Wijaya, Radhar Panca Dahana, Noorca Massardi, Jajang C Noer. Gubernur DKI Anies Baswedan tidak hanya menunggui almarhum semalan tapi juga menyelesaikan semua pembayaran pengobatan almarhum.

Saya terakhir bertemu Mas Danarto awal Desember lalu di resto Chatterbox, Plaza Senayan, Jakarta, bersama Marah Sakti Siregar dan Prof Salim Said. Waktu itu kami membahas rencana penerbitan buku “75 Tahun Salim Haji Said” yang akan diluncurkan bulan November yang bertepatan dengan ulang tahun Prof Salim. Mas Danarto rencananya akan menangani desain buku tersebut.

Saya sedih dikabari Jajang semalam. Begitu cepat Mas Danarto pergi. Tidak bisa melayat karena berita duka itu saya terima saat sedang berada di Kuala Lumpur, Malaysia.

Innalillahi Wainnailaihi Rojiun.Semoga almarhum Danarto Husnul Khotimah. Alfatehah.

Kuala Lumpur, 11 April 2018