Belum Ada Kerjasama Dan Pengakuan Paten DR Terawan Di Jerman

Category: BERITA -> KESEHATAN | Posted date: 2018-05-06 01:26:49 | Updated date: 2018-05-17 04:32:52 | Posted by: Marah Sakti Siregar


Ceknricek.com - INFORMASI itu viral di media sosial. DR Terawan Agus Putranto (TAP) yang terapi pengobatan anti strokenya kontroversi dan kurang diterima komunitas kedokteran di dalam negeri, ternyata dipuji dan diakui di luar negeri. Sebuah rumah sakit t



Ceknricek.com - INFORMASI itu viral di media sosial. DR Terawan Agus Putranto (TAP) yang terapi pengobatan anti strokenya kontroversi dan kurang diterima komunitas kedokteran di dalam negeri, ternyata dipuji dan diakui di luar negeri. Sebuah rumah sakit top di Jerman telah mengontrak DR TAP untuk mengembangkan sistem pengobatan anti stroke yang ditemukannya.

[caption id="attachment_1483" align="aligncenter" width="500"] (Foto : Sosmed.id)[/caption]

Begitulah. Info dan foto DR TAP di media sosial itu kemudian divalidkan oleh media arus utama yang menghubungi DR TAP. “Saya masih di Jerman, Mas. Rumah sakit Krankenhaus di Jerman mengajak riset bersama,” ujar DR TAP kepada wartawan surat kabar Media Indonesia di Jakarta.

Ia menambahkan bahwa ia tengah memenuhi undangan rumah sakit terkenal di Jerman itu, sekaligus menunjukkan kemampuan dan kepakaran dokter Indonesia. “Jangan sampai kami di Indonesia hanya dianggap ngeyel saja dan tidak ilmiah,” ujarnya, bernada heroik.

DR TAP kemudian seperti mendramatisasi nasib yang diterimanya: keahlian dan temuannya ditolak para sejawatnya sendiri. Ironis. Sebab, negara lain justru sangat menghargai. “Kalau bisa nangis, saya nangis tenan, karena sedih,” tambah dokter kelahiran Yogyakarta itu.

Tak ayal. Curhat dokter Tim Kepresidenan itu mengundang reaksi. Berbagai kecaman, kritik dan sindiran pun bermunculan di media sosial. “Itulah hebatnya negeriku Indonesia. Merdeka..., komentar anggota Whats App Group wartawan di Jakarta.

Komentar bernada sama pun langsung meruyak. Mengecam dan mencela para dokter terutama MKEK (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran) PB IDI yang pada 12 Februari 2018 sudah menjatuhkan sanksi keras terhadap DR TAP. Dokter sekaligus doktor lulusan FK Unhas ini dikenakan sanksi pemberhentian sementara sebagai anggota IDI karena dinilai terbukti telah melakukan pelanggaran etik serius.

Keputusan itulah yang amat disesali dan dikecam terutama para tokoh publik, seperti Abu Rizal Bakrie, Hendroprijono dan Machfud MD dan lain-lain. Dukungan mereka terhadap DR TAP, ahli Radiologi lulusan Universitas Airlangga, Surabaya itu, minggu lalu seperti absah dan menguat. Itu gara-gara foto yang viral serta “curhat singkat” DR TAP dari Jerman.

Tapi, benarkah dokter tentara berpangkat mayor jenderal TNI itu sudah menandatangani MoU kerjasama riset dengan rumah sakit Krankenhaus, Jerman? Benarkah ia sudah dikontrak rumah sakit itu untuk mengembangkan metode pengobatan anti stroke yang ditemukannya?
 Kontributor ceknricek.com di Bamberg, Jerman, Dimas Surya Alfaruq menerima bantahan.

“Belum ada kerjasama riset. Baru menanda tangani LoI. Letter of Interest. Semacam Kesepakatan Minat Bekerjasama,” ujar Anita Muller, sekretaris Prof DR med Uta Meyding Lamade, Kepala Departemen Neurologi RS Krankenhaus Nordwest. Anita membenarkan RS Krankenhaus memang mengundang DR TAP dan koleganya DR Abraham untuk berkunjung dan melihat-lihat rumah sakit yang terletak di Steinbacher Hohl 2-26 60488, Frankfurt, Jerman itu.

Sambil mendiskusikan kemungkinan bekerjasama. Dan akhirnya kedua pihak sepakat menandatangani LoI. Anita menjelaskan, LoI baru langkah awal dari proses panjang yang harus dilalui dan dibutuhkan untuk direalisasikannya suatu kerjasamana di Jerman. Memakan waktu paling cepat 4-6 bulan, katanya, baru kerjasama bisa deal. Malah, “bisa saja pada akhirnya kerjasama tidak jadi,” tukas Anita.

Pemerintah Jerman mengatur dengan ketat dan berhati-hati kerja sama antara birokrasi dan institusi swastanya dengan pihak luar (asing). Setelah data lengkap dan valid barulah suatu kerjasama bisa disetujui. Jika kerjasama saja diawasi secara ketat, apalagi pengakuan sebuah temuan ilmiah. Misalnya, pernah tersiar kabar bahwa metode terapi “cuci otak” DSA DR TAP - disebut sebagai Terawan Theory - sudah diakui dan sudah pula dipatenkan di Jerman.

Benarkah itu? Sumber ceknricek.com yang mericek informasi itu ke Kantor Pendaftaran Paten Jerman (Deutsches Patents und Markenant) lewat email, mendapat jawaban singkat. “Tidak ada tertera nama Terawan Agus Putranto di Kantor Pendaftaran Paten tersebut". Dihubungi untuk konfirmasi dan klarifikasi semua informasi dari Jerman itu, DR TAP tidak mengangkat telpon dan menjawab pesan WA wartawan ceknricek.com.

Pihak rumah sakit Krankenhaus mengatakan DR TAP sesuai jadwal mereka berada di Jerman sampai 12 April 2018. Walhasil, ihwal kebenaran testimoni publik dan kebenaran ilmiah para pakar kedokteran, berkaitan metode pengobatan stroke via DSA DR TAP agaknya tetap masih akan berlanjut.

Sampai Tim Evaluasi yang sudah dibentuk terdiri atas pejabat Kementerian Kesehatan Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi dan wakil IDI, merampungkan evaluasi mereka. Inti hasil evaluasi Tim itu nanti akan bermuara pada jawaban pertanyaan kunci. Masih perlukah uji klinis bagi dokter, jika puluhan ribu pasien mengaku sembuh oleh terapi seorang dokter selama bertahun-tahun, padahal dia tidak pernah melakukan uji klinik resmi.