In Memoriam Deddy Sutomo, "Perginya Sang Panji Tengkorak"

Category: NEWS -> SOSIAL BUDAYA | Posted date: 2018-05-06 01:33:36 | Updated date: 2018-05-17 01:19:52 | Posted by:


Ceknricek.com - Dunia perfilman Indonesia kembali berduka. Aktor kawakan Deddy Sutomo Rabu (18/4) pagi dipanggil menghadap Ilahi Rabbi. Aktor yang juga politisi ini menghembuskan nafas terakhir di RS Harapan Kita dalam usia 76 tahun. Ia dirawat di RS itu



Catatan Ilham Bintang*

Ceknricek.com - Dunia perfilman Indonesia kembali berduka. Aktor kawakan Deddy Sutomo Rabu (18/4) pagi dipanggil menghadap Ilahi Rabbi. Aktor yang juga politisi ini menghembuskan nafas terakhir di RS Harapan Kita dalam usia 76 tahun. Ia dirawat di RS itu karena sakit jantung sejak 30 Maret lalu. Persis ketika masyarakat perfilman memperingati Hari Film Nasional.

Aktris film Jajang C Noer yang pertama mengabarkan pagi tadi. Disusul kemudian aktor Leroy Oesmany, dan produser film Zairin Zain. Deddy Sutomo lahir di Jakarta 26 Juni 1941. Hampir seluruh hidupnya diabdikan dalam dunia seni peran. Ia memang pernah juga jadi politisi, tetapi dunia film tetap menjadi pengabdiannya di sisa usia.

Pada usia muda Deddy terkenal sebagai Panji Tengkorak. Itu tokoh utama film yang berjudul sama yang sukses dia perankan. Film itu beredar di tahun 1970an. Ia pernah berhenti sejenak setelah bermain dalam film “Tutur Tinular III” tahun 1998. Setelah merasa cukup istirahat Deddy kembali tampil di layar lebar dalam film “Maskot” pada tahun 2006. Dua tahun berikutnya Deddy tampil dalam film “Doa Yang Mengancam”, berperan sebagai Pak Tantra.

Diera 2010-an setelah kembali, Deddy membintangi lima film, antaranya “Menebus Impian”, “Tanda Tanya”. Tahun 2015 Deddy tampil dalam film “Ayat Ayat Adinda”, dan “Mencari Hilal”. Pada tahun itulah Deddy meraih penghargaan tertinggi sebagai aktir sepanjang kariernya dengan meraih Piala Citra Aktor Utama Terbaik Festival Film Indonesia 2015. Penghargaan itu mengapresiasi perannya sebagai Mahmud dalam film “Mencari Hilal”. Di film ini Deddy bermain gemilang. Saya termasuk anggota juri FFI 2015. Saya beberapa kali mengulang menonton permainannya yang cemerlang. Saya ikut memilih Deddy.

Perjalanan hidup Deddy memang cukup unik. Walaupun sejak muda ia tertarik pada dunia seni budaya, Deddy tidak sejak awal berkecimpung di bidang sinematografi. Pada awalnya ia adalah seorang guru di SMEA Negeri Klaten, mengajar Prakarya. Tidak puas sebagai guru, baru kemudian ia mencoba hijrah ke Jakarta untuk mengubah nasib. Semula ia menjadi tenaga kreatif di PT Sanggar Prativi. Ia meningkatkan kemampuan aktingnya dengan mengikuti kursus elementer Sinematografi yang diselenggarakan oleh Yayasan Film Indonesia.

Deddy mengawali debutnya di dunia seni oersn lewat film “Awan Jingga" (1970). Bila pada awal-awal kariernya di depan kamera ia mendapat peran jagoan, selanjutnya peran yang dimainkannya beragam: Pernah ia menjadi seorang pendekar seperti dalam "Panji Tengkorak". santri dalam ("Atheis"), peranakan Cina ("Mustika Ibu"), pawang buaya ("Buaya Putih"), sampai penjahat ("Marabunta"), pembunuh ("Laila Majenun") atau narapidana ("Embun Pagi"). Tapi ia juga pernah memerankan tokoh penting dalam sejarah kita, Jenderal Sudirman ("Janur Kuning").

Beragam peranan itu menunjukkan kemampuan Deddy dalam seni peran. Selain itu ia juga terkenal dengan perannya dalam sinetron era 80-an, Rumah Masa Depan. Ketika usianya semakin bertambah, Deddy mengurangi kegiatannya di dunia akting. Hanya peran yang pas untuk Deddy, dan itu terbatas. Dalam film “Tutur Tinular III" ia menjadi sebagai seorang empu yang berpraktik sebagai seorang "dukun".

Karier politik

Setelah tidak lagi main film, ia mencoba mencoba menjadi pengusaha, di antaranya dengan mendirikan PT Jakarta Pelangi Production. Tapi akhirnya Sang Panji Tengkorak ini pernah masuk bidang politik. Diawali dengan duduk dalam MPP (Majelis Perimbangan Partai) PDI Perjuangan, ia kemudian dicalonkan sebagai wakil rakyat di Daerah Pemilihan Jawa Tengah II. Pada pemilu tahun 2004, Deddy Sutomo terpilih menjadi anggota DPR RI, dan berada dalam komisi X (Bidang Pendidikan).

Selamat jalan Mas Deddy.