Analisis JMD Pasca Kasus Saracen : Menambang Opini Yang Terbelah Di Media Sosial Dan Arus Utama

Category: NEWS -> SOSIAL BUDAYA | Posted date: 2018-05-06 01:37:14 | Updated date: 2018-05-17 01:19:40 | Posted by: Nisa Husna W


Ceknricek.com - Pengantar Redaksi : Kasus penyebaran berita hoaks dan ujaran kebencian di media sosial lewat akun bernama Saracen, sudah selesai diadili. Hakim memutuskan kordinator akun itu yang sebelumnya ramai diberitakan media (pers dan sosial) telah



Ceknricek.com - Pengantar Redaksi : Kasus penyebaran berita hoaks dan ujaran kebencian di media sosial lewat akun bernama Saracen, sudah selesai diadili. Hakim memutuskan kordinator akun itu yang sebelumnya ramai diberitakan media (pers dan sosial) telah mengumbar ujaran kebencian - beriming-iming bayaran - tidak terbukti melakukan apa yang didakwakan jaksa.

Padahal, berita media pers dan informasi di media sosial sebelumnya sudah gencar menghakimi penanggung jawab akun Saracen. Mengapa media kita bisa terseret dalam pro kontra akun tersebut?

DR Iswandi Syahputra dkk yang tergabung dalam kelompok peneliti: Jogya Mendaras Data (JMD) baru saja melakukan riset dan mengobservasi perilaku media kita berkaitan dengan kasus akun Saracen.


 DR Iswandi Syahputra (Foto : suaramuhammadiyah.id)

Hasil penelitian mereka, kami anggap menarik. Amat patut diketahui semua insan media dan pemangku kepentingan media lainya. Analisisnya kami muat lengkap berikut ini:

Akhir-akhir ini banyak pemberitaan mengenai penangkapan kelompok Saracen. Dalam melakukan aksinya, Saracen memiliki lebih dari 800.000 akun robot untuk menyebarkan kebencian di media sosial.

Penangkapan kelompok ini oleh Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri diduga terlibat dalam bisnis penyebaran ujaran kebencian melalui media sosial.

Setelah melawati proses persidangan di pengadilan, berbagai media memberitakan keputusan majelis hakim bahwa Saracen tidak terbukti bersalah dalam menyebarkan kebencian.

Atensi para netizen dalam mengomentari penangkapan Saracen berbeda ketika majelis hakim memvonis yang menyatakan Saracen tidak terbukti menyebarkan kebencian. Ini menjadi sebuah fenomena realitas virtual yang menunjukkan dinamika publik sedang dalam iklim demokrasi di Indonesia.

Percakapan netizen di media sosial twitter diperoleh dengan menggunakan kata kunci Saracen. Kemudian dikumpulkan menggunakan tool analisis Drone Emprit Academic dipasang center Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Kemudian data dikumpulkan kembali di Pengadilan Negeri Pekanbaru, yang memutuskan bahwa Saracen tidak terbukti sebagai sindikat kelompok penyebar kebencian pada tanggal 6 april 2018.

Data tersebut dikelompokkan berdasarkan tiga kategori, kemudaian dianalisis dengan teknik percakapan dengan pendekatan deskriptif-interpretatif.

  1. Cluster Netizen yang Timpang

Dalam hal ini mengetengahkan cluster netizen yang timpang antara kelompok yang Pro Saracen (Kontra Pemerintah) dan Kontra Saracen (Pro Pemerintah). Ini didasarkan pada percakapan netizen di twitter.

  1. Opinion Tanpa Leader

Pada saat Saracen ditangkap, terdapat sejumlah akun yang kontra dengan Saracen (Pro Pemerintah), seperti @GunRomli @Joxzin_Jogja dan @PartaiSocmed.

Dari ketiga akun tersebut, @GunRomli yang merupakan akun asli, sementara akun @Jozin_Jogja dan @PartaiSocmed adalah akun pseodonym.

akun yang Pro dengan Saracen (Kontra Pemerintah) yaitu @NetizenTofa merupakan akun asli. Yang lainnya seperti @maspiyuu @PlatoID dan @Ronin1948 adalah akun pseodonym.

Ini menunjukan bahwa opini mengenai Saracen pada percakapan netizen di twitter, tidak memiliki leader. Karena satu leader dalam suatu kelompok belum tentu menimbulkan opini publik sebagai salah satu gagasan.

  1. Konten Kebencian

Mengenai akun pseodonym (anonim) dalam percakapan tentang Saracen, yang paling berkontribusi dalam menyampaikan kebencian karena tidak memiliki hubungan sosial di dunia nyata.

Dengan memanipulasi identitas menggunakan akun anonim, untuk menyakiti bahkan merugikan orang lain di media sosial. Akibatnya, kelompok yang diserang dengan konten kebencian membalas dengan hal serupa. Pada akhirnya menyampaikan pendapat hanya untuk menyakiti sesama.

Lain hal dalam konteks demokrasi. Harus ada kelompok Pro dan Kontra untuk memperkuat fungsi saling kontrol dengan baik. Perbedaan dalam menyampaikan informasi, merupakan sesuatu yang berharga bagi publik.