Penonton Melbourne Terkesan Film "Moonrise Over Egypt"

Category: ENTERTAINMENT -> FILM & MUSIK | Posted date: 2018-05-06 03:52:19 | Updated date: 2018-05-17 00:28:58 | Posted by:


Melbourne, Ceknricek.com - TIDAK banyak film cerita sejarah sukses di Indonesia. Tapi penonton di Melbourne, Australia, justru cukup antusias dengan film "Moonrise Over Egypt". Ini salah satu film sejarah Indonesia yang digarap produser eksekutif Amir Sam



Melbourne, Ceknricek.com - TIDAK banyak film cerita sejarah sukses di Indonesia. Tapi penonton di Melbourne, Australia, justru cukup antusias dengan film "Moonrise Over Egypt". Ini salah satu film sejarah Indonesia yang digarap produser eksekutif Amir Sambodo. Rabu malam lalu (25/4/18) film itu ditayangkan secara khusus di Sinema Hoyts di Mall Melbourne Central.

Penonton yang rata-rata masyarakat Indonesia dan bule-bule pecinta Indonesia tampak antre ingin berfoto dengan Amir Sambodo. Selain produser eksekutif, Amir Sambodo berperan sebagai Malik, wartawan Indonesia yang bertugas di Kairo dalam film Moonrise Over Egypt.

Film yang disutradarai Pandu Adi Putra ini  mengangkat peran delegasi diplomatik RI yang dipimpin oleh H. Agus Salim, menteri muda saat itu, guna mendapat dukungan dan pengakuan pemerintah Mesir.

Agus Salim didampingi beberapa tokoh lain. Misalnya, Mohammad Rasyidi, Sekjen Kementrian Agama. Abdurrahman Baswedan, kakek Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta. Lalu, Menteri Muda Penerangan dan Nazir Datuk Sutan Pamoentjak, ayah artis senior Jajang C.Noer Pamoentjak.

Para delegasi berkunjung ke Mesir untuk memperoleh pengakuan kemerdekaan RI dari Mesir. Kedatangan rombongan Agus Salim di Kairo waktu itu sempat terhambat. Antara lain, karena mereka tiba tanpa paspor. Hanya menggunakan secarik kertas sebagai identitas.

Sementara itu, kondisi mahasiswa Indonesia di Kairo terbelah. Sebagian mendukung Belanda karena tidak ingin beasiswa mereka diputus. Sedangkan yang lain mendukung kemerdekaan Indonesia.

Alur cerita menjadi menarik ketika mata-mata masuk dalam delegasi sehingga setiap gerak mereka diketahui Belanda. Seorang mahasiswa pendamping delegasi yang mengawal sejak kedatangan rombongan ternyata adalah mata-mata Belanda. Namun akhirnya tewas, saat ia berupaya menggagalkan upaya pembunuhan terhadap Nokrasy, pejabat pemerintah Mesir yang menandatangani pengakuan kedaulatan RI.

Wendy Miller, penonton bule yang fasih berbahasa Indonesia, mengaku menikmati film sejarah ini. "Saya bisa tahu sejarah Indonesia. Cuma terjemahannya ke Bahasa Inggris harus diperbaiki ya. Agak kurang halus..he he he ".

Sebagian penonton lainnya, ingin melihat pemandangan Mesir lebih banyak. Mereka menganggap dialog terlalu banyak dibandingkan situasi di Mesir kala itu.

Amir Sambodo, produser eksekutif mengakui tidak banyak penonton yang menikmati film dengan porsi dialog yang besar. "Tapi penonton di Melbourne ternyata suka dialog. Beda dengan penonton di Indonesia".

Amir menambahkan, proses shooting di Kairo bukan tanpa halangan. Sehari sebelum kedatangan kru film, mahasiswa Indonesia ditangkap oleh pihak keamanan Mesir, karena memotret jembatan di sungai Nil, yang berdekatan dengan kedutaan Amerika.

Meskipun, duta besar Indonesia untuk Mesir Helmy Fauzy sudah berupaya keras agar kru film mendapatkan ijin pengambilan gambar, namun pihak otoritas tetap tidak memberikan ijin. Ini menjelaskan mengapa tidak banyak pemandangan Mesir terlihat, hampir 90% pengambilan gambar dilakukan di dalam ruangan.

Secara keseluruhan film dengan biaya Rp 6 M ini cukup bagus. Sayangnya, Pandu, sang sutradara, kurang memperhatikan beberapa detail yang bagi saya cukup menganggu.

Misalnya, bulan purnama yang menjadi transisi dalam setiap pergantian sekuen. Wajar bila muncul pertanyaan, apakah setiap hari bulan bundar bulat purnama tidak pernah menjadi sabit?

Saya tidak bisa berhenti tertawa setiap bulan purnama muncul, bukan karena filmnya lucu, tapi tidak habis pikir bagaimana sang sutradara lupa bahwa bulan pun berputar, sehingga tidak harus purnama setiap hari.

Kedua, minimnya peran perempuan dalam film ini. Sejumlah mahasiswi muncul dalam beberapa sekuen, hanya ditampilkan mondar-mandir di perpustakaan dan dialog asmara yang tumbuh diantara para mahasiswa, serta peran mereka dalam membantu logistik makanan karena rombongan delegasi Haji Agus Salim kehabisan uang.

Wendy Miller yang menonton duduk di sebelah saya, sepakat. Ia yakin perempuan dan mahasiswi Indonesia berperan cukup besar lebih dari yang digambarkan dalam film. Yang juga cukup menggelikan adalah saat mahasiswa membawa buku. Tulisan judul di buku itu tulisan latin bukan tulisan Arab.

Pernah tinggal di Kairo selama beberapa bulan, saya tidak pernah melihat mahasiswa Indonesia membawa buku besar dan tebal dengan tulisan latin. Yang mereka bawa biasanya fotocopian tipis dan semuanya bertuliskan Arab gundul.

Dan terakhir, yang  juga membuat saya agak surprise kecerobohan sutradara menggunakan Al quran untuk pengganti buku pelajaran bertuliskan arab. Dalam salah satu adegan di perpustakaan, salah seorang mahasiswa Indonesia duduk dengan Al-Quran terjemahan didepannya sebagai pengganti buku pelajaran. Menariknya, perbincangan dalam adegan tersebut bukan perbicangan soal agama.

Namun dialog mahasiswa yang sedang kasmararan (flirting around). Mestinya sutradara berhati-hati, tidak menggunakan Alquran hanya karena tidak ada buku tulisan Arab. Perlu usaha sedikit, sebab buku tulisan arab bisa didownload dari internet.

Apapun, upaya mengangkat film sejarah harus mendapatkan apresiasi yang tinggi. Meskipun tidak mudah mendatangkan penonton, namun menghargai sepak terjang pahlawan di masa lalu telah mengedukasi penonton untuk menghargai pahlawan mereka.

 

Diway Flamboyan*