Transplatasi Alat Vital Habiskan Rp5,3 Miliar

Category: BERITA -> KESEHATAN | Posted date: 2018-05-06 05:52:17 | Updated date: 2018-05-17 04:34:56 | Posted by: Rihat Wiranto


Ceknricek.com - Sejumlah tim dokter ahli mampu membangunkan lagi kepercayaan seorang tentara pria yang terluka parah di bagian selangkangan. Akibat sebuah ledakan bom saat dia bertugas di Afghanistan, alat vitalnya rusak dan sekaligus meruntuhkan harga di



Ceknricek.com - Sejumlah tim dokter ahli mampu membangunkan lagi kepercayaan seorang tentara pria yang terluka parah di bagian selangkangan. Akibat sebuah ledakan bom saat dia bertugas di Afghanistan, alat vitalnya rusak dan sekaligus meruntuhkan harga dirinya. Tapi tim dokter di Rumah Sakit Johns Hopkins di Baltimore, Amerika, mampu “membangunkan penisnya”, hingga kepercayaan diri tentara tersebut  bangkit kembali.

Penis milik veteran perang tersebut sudah rusak total dan tak bisa dipakai lagi pasca disambar serpihan bom. Sebagai gantinya, para dokter mentransplantasi penis milik orang lain kepada pria malang yang dirahasiakan namanya tersebut. Dokter berhasil mencangkokkan  seluruh penis ditambah skrotum (kantong testis) sumbangan donor yang sudah meninggal. Hasilnya sangat memuaskan, karena penis tersebut diperkirakan akan mampu untuk kencing dan bisa ereksi, seperti idaman semua pria.

Akan tetapi, dokter tidak memasang testis milik donor kepada tentara itu. Bukannya dokter tidak mampu, tetapi ada masalah etika jika ternyata tentara itu nantinya  menghamili wanita. Pertanyaan akan timbul, anak siapakah dia?

Operasi itu berlangsung selama 14 jam yang melibatkan sembilan ahli bedah plastik dan dua ahli bedah urologi pada 26 Maret 2018. Pasien akan keluar dari rumah sakit pekan ini. “Kami berharap bahwa transplantasi ini akan membantu memulihkan fungsi untuk kencing dan hubungan seks mendekati normal untuk pria muda ini,” Dr. W.P. Andrew Lee, kepala bedah plastik  Universitas Johns Hopkins, dikutip dari Reuters.

Johns Hopkins membayar untuk operasi tentara ini, jumlahnya cukup besar sekitar  $400.000 atau Rp 5,3 miliar. Sementara semua dokter bersedia bekerja tanpa bayaran. Dr. Lee mengatakan dia mengharapkan hibah dari Pentagon untuk membantu membayar operasi serupa di  masa depan. 

Lee mengatakan transplantasi tersebut melibatkan transplantasi kulit, otot dan tendon, saraf, tulang dan pembuluh darah. Dokter mencangkokkan satu potong daging berukuran 25 cm kali 28 cm dan beratnya sekitar 2 kg. Dokter juga memasang uretra, jaringan ereksi, arteri, vena, saraf dan kulit penis dan dinding perut kepada pemilik barunya.

Lee menjelaskan proses  penyembuhan dan regenerasi saraf akan membutuhkan waktu. Buang air kecil  pertama mungkin terjadi dalam beberapa bulan ke depan. Sebagai gambaran, saraf tumbuh sekitar satu inci per bulan.

 (Foto : nytimes.com)

Karena jaringan reproduksi pasien itu hancur,  maka ia tidak akan dapat memiliki anak biologis. Agar ia bisa ereksi, dokter  mengambil testosteron untuk mengkompensasi hilangnya testisnya, dan meramu dengan obat lain agar “burung” bisa mendongak lagi.

Data dari Departemen Pertahanan menunjukkan bahwa lebih dari 1.300 orang menderita kerusakan alat kelamin di Irak dan Afghanistan, dan 31 persen di antaranya melibatkan penis. Sekitar 20 persen dari luka penis dianggap parah. Perempuan di militer juga menderita cidera di seputar kelamin  tetapi jarang terjadi.

Tim di Johns Hopkins dan di Rumah Sakit Umum Massachusetts sebenarnya bisa melakukan transplatasi  terhadap korban lain. Masalahnya, dokter tidak mudah menemukan donor yang cocok. Sebagai gambaran, pasien Johns Hopkins menunggu lebih dari setahun sebelum operasi. 

Dua transplantasi penis sukses lainnya terjadi  di Afrika Selatan pada tahun 2014 dan Massachusetts General Hospital di AS pada tahun 2016. Namun keduanya hanya melibatkan organ itu sendiri, bukan skrotum atau daging di sekitarnya.

Keberhasilan ini membawa berita baik bagi sekitar 60 prajurit lain dengan cidera genital untuk menjalani operasi transplantasi yang sama.

Terasa Hidup Lagi

Pasien merasa senang denga keberhasilan operasi tersebut. Veteran itu mengatakan bahwa cideranya sangat membebani jiwanya."Cidera itu, membuat saya terasing," katanya dikutip dari New York Times. Ia  juga kehilangan kedua kaki di bawah lututnya. Tetapi yang membuatnya sangat terpukul adalah alat kelaminnya hilang. Empat minggu setelah operasi dia berkata: "Saya merasa utuh lagi."

Dia meminta agar namanya tidak dipublikasikan, karena stigma yang terkait dengan cidera genital. Kecuali untuk keluarga dekat dan beberapa teman dekat, dia tidak memberitahu siapa pun tentang sifat luka-lukanya, katanya.

Pasien itu  bercerita, setelah ledakan yang melukainya, dia tetap sadar, dia ingat, tetapi tahu dia tenggelam dalam keterkejutan. Dia pingsan di helikopter. Ingatan berikutnya terbangun di Amerika Serikat, lega karena masih hidup.

Tak lama kemudian, dia diuberi tahu tentang nasib penisnya. Seorang dokter militer mengatakan kepadanya bahwa itu permanen dan tidak dapat diperbaiki."Itu menghancurkan,” katanya. Tapi dalam hatinya dia memprotes dengan pernyataan dokter tersebut.  “Saya pikir, dia belum menjadi dokter cukup lama, dia tidak tahu apa yang dia bicarakan," katanya. Dia yakin dokter lain akan bisa memecahkan masalahnya.

Bagaimanapun dia merasa terisolasi, bahkan saat  di rumah sakit di antara para prajurit yang terluka lainnya. Bahkan ia berjuang melawan kehendak untuk bunuh diri. "Ketika saya benar-benar berpikir untuk bunuh diri, saya akan berpikir, 'Apakah saya benar-benar akan bunuh diri dengan penis?"

Dia belajar berjalan dengan kaki palsu. Ia akan segera meninggalkan rumah sakit dan tinggal sendiri di apartemen. Seusai operasi, ia mencoba untuk menjalani hidup baru dengan penis baru tentunya.