Opa-Oma Tersesat di Rimba Cosplay Australia

Category: NEWS -> SOSIAL BUDAYA | Posted date: 2018-05-07 23:08:36 | Updated date: 2018-05-10 08:20:44 | Posted by:


Ceknricek.com - Agenda Minggu (22/4) siang mencari mainan oleh-oleh pesanan delapan cucu di Jakarta. Satu cucu, Raihan Bintang berulang tahun kelima Senin (23/4). Pesanannya khusus : mobil balap yang besar. Saat berada di kawasan Southgate, CBD Melbou



Catatan Ilham Bintang*
 
 Ceknricek.com - Agenda Minggu (22/4) siang mencari mainan oleh-oleh pesanan delapan cucu di Jakarta. Satu cucu, Raihan Bintang berulang tahun kelima Senin (23/4). Pesanannya khusus : mobil balap yang besar.
 
 Saat berada di kawasan Southgate, CBD Melbourne, masuk informasi di WAG keluarga dari Raihan — tentu saja dikirim oleh ayahnya. Isinya iklan Supanova Melbourne 21-22 April di Melbourne Exhibition Pavilion. Pas. Kata Oma setelah baca iklan itu. “Di Pameran mainan anak-anak pasti modelnya baru-baru, dan harganya lebih murah dibanding toko biasa,” kata Oma.

Melbourne Exhibition Center, kebetulan cuma 300 meter dari lokasi kami berada saat itu. Segeralah kami ke sana. Ternyata salah. Lokasi Supanova di Melbourne Exhibition Pavilion, ke sana naik Trem kira-kira 30 menit melalui sepuluh stopan.
 
 Kami pun ke halte Trem, dan naik transportasi gratis itu sesuai petunjuk petugas di Melbourne Exhibition Center. 

Tiba di lokasi yang dituju, ternyata Trem ini berbayar karena di luar wilayah City yang gratis. Yang jadi persoalan trem tidak bisa dibayar cash. Harus pakai kartu e-pay, pintu bisa terbuka dengan  kartu itu. 

Apaboleh buat. Terpaksa bicara  sama masinis. Untung masinisnya golongan “anak saleh”. Tahu kami orang asing, dia pun membuka pintu dan menyilahkan kami melenggang turun. 
 
 Turun dari Trem persoalan baru muncul. Kami salah milih trem tadi, lokasi Supanova Melbourne Showground masih jauh. Perlu jalan kaki 20 menit untuk sampai ke sana. Demi cucu-cucu, jalan kaki 20 menit apalagi dalam cuaca dingin, enteng. 
 
 Kami tiba di lokasi sekitar pukul 3 siang. Acara bubar jam 5. Masuk  arena pengunjung harus beli tiket AUD 40/ orang atau sekitar Rp.425 ribu. “Tiketnya kok mahal amat yah,” tanya Oma berbisik.
 
 Tapi kejutan baru benar-benar terjadi waktu masuk arena. Ratusan orang tumplek di situ dalam pakaian tokoh-tokoh komik dan film legend seluruh dunia. Ada batman, iron man, super man, cat women dan entah apalagi.

 Ada juga pengunjung wanita dalam kostum entah tokoh apa tapi hampir menampakkan seluruh auratnya. Saya lirik Oma, dia mulai tampak tak nyaman.

Di dalam arena memang ada banyak kios penjualan mainan, tetapi tidak ketemu mainan yang dicari.
 
 Kami baru ngeh beberapa menit kemudian. Saya  baca ulang kembali iklan yang dikirim cucu. Rupanya ini memang pameran dan kompetisi cosplay. Cosplay adalah kostum tokoh komik. 

Sejak lama tren ini melanda generasi muda seluruh dunia. Amerika yang mulai sejak awal tahun 70 an kemudian  Jepang tahun 80 an. Selanjutnya mewabah di seluruh dunia termasuk Indonesia. 

Di tanah air kita punya  puluhan ribu cosplayer. Mereka malah teratur tiga bukan sekali bikin festival, pameran maupun kompetisi. Belakangan malah Indonesia berkali-kali menang dalam kompetisi cosplayer di kawasan Asia. 

Tapi tak jelas adakah cosplayer kita juga ikut mengenalkan tokoh-tokoh komik lagend kita, seperti Si Buta Dari Goa Hantu, Panji Tengkorak, maupun Pendekar Tongkat Sakti.
 
 Sejak 1960
 

 Cosplay mulai tumbuh pertengahan tahun 1960-an di Amerika. Diperkenalkan oleh penggemar cerita dan film fiksi ilmiah yang sering mengadakan konvensi  fiksi ilmiah. 

Pada saat  konvensi itulah peserta mengenakan kostum seperti yang yang dikenakan tokoh-tokoh film fiksi ilmiah seperti Star Trek. Cosplay ini tumbuh subur karena ditopang oleh budaya  Amerika Serikat yang sejak dulu mengenal bentuk-bentuk pesta topeng (masquerade) seperti dalam perayaan Halloween dan Paskah.


 Tradisi penyelenggaraan konvensi fiksi ilmiah sampai ke Jepang pada dekade 1970-an dalam bentuk acara peragaan kostum (costume show).
 

Di Jepang, peragaan “cosplay” pertama kali dilangsungkan tahun 1978 di Ashinoko, Prefektur Kanagawa dalam bentuk pesta topeng konvensi fiksi ilmiah Nihon SF Taikai ke-17. 

Kritikus fiksi ilmiah Mari Kotani menghadiri konvensi dengan mengenakan kostum seperti tokoh dalam gambar sampul cerita “A Fighting Man of Mars “ karya Edgar Rice Burroughs. 

Tidak hanya Mari Kotani menghadiri Nihon SF Taikai sambil ber-cosplay, Direktur perusahaan animasi Gainax, Yasuhiro Takeda juga hadir memakai kostum tokoh Star Wars 2.

Pada waktu itu, peserta konvensi menyangka Mari Kotani mengenakan kostum tokoh manga Triton of the Sea karya Osamu Tezuka. Kotani sendiri tidak berusaha keras membantahnya, sehingga media massa sering menulis kostum Triton of the Sea sebagai kostum cosplay pertama yang dikenakan di Jepang. 

Selanjutnya, kontes cosplay dijadikan acara tetap sejak Nihon SF Taikai ke-19 tahun 1980. Peserta mengenakan kostum Superman, Atom Boy, serta tokoh dalam Toki o Kakeru Shoujo dan film Virus.

Selain di Comic Market, acara cosplay menjadi semakin sering diadakan dalam acara pameran  dan pertemuan penggemar fiksi ilmiah di Jepang.
 

Majalah anime di Jepang sedikit demi sedikit mulai memuat berita tentang acara cosplay di pameran dan penjualan terbitan doujinshi. Liputan besar-besaran pertama kali dilakukan majalah Fanroad edisi perdana bulan Agustus 1980. 

Edisi tersebut memuat berita khusus tentang munculnya kelompok anak muda yang disebut “Tominoko-zoku” ber-cosplay di kawasan Harajuku dengan mengenakan kostum baju bergerak Gundam. Kelompok “Tominoko-zoku” dikabarkan muncul sebagai tandingan bagi Takenoko-zoku (kelompok anak muda berpakaian aneh yang waktu itu meramaikan kawasan Harajuku).

 Istilah “Tominoko-zoku” diambil dari nama sutradara film animasi Gundam, Yoshiyuki Tomino, dan sekaligus merupakan parodi dari istilah Takenoko-zoku. 

Foto peserta cosplay yang menari-nari sambil mengenakan kostum robot Gundam juga ikut dimuat. Walaupun sebenarnya artikel tentang Tominoko-zoku hanya dimaksudkan untuk mencari sensasi, artikel tersebut berhasil menjadikan “cosplay” sebagai istilah umum.
 
 Oma mengeluh. “Aduh mainan pesanan cucu tak ada di sini,” katanya. Ya, maklum : kami memang tersesat masuk “hutan” cosplay, kurang cek dan ricek tentang acara pameran. Ya, sudah nikmati saja. “Hibur diri saja, “ respons saya.
 
 Singkatnya di Supanova ini kami  “ tersesat”. Tapi apa boleh buat harus tahu cara menghibur diri. Sudah berjuang jalan jauh, bayar tiket mahal. Harus ada hikmah yang dipetik. Maka kami pun berburu cosplayer yang paling atraktif untuk foto bersama. 

Kecuali dengan perempuan yang berpakaian yang menampakkan aurat tadi. Oma yang sudah sebel karena tidak ketemu oleh- oleh yang dicari, bisa tambah sebel dia
 
 Nah! Beginilah Oma dan Opa jadul  mengubah diri (baca: menghibur diri) menjadi Opa dan Oma zaman Now.