Tragedi Haymarket, May Day, May Day ...

Category: BERITA -> EKONOMI & BISNIS | Posted date: 2018-05-07 23:20:18 | Updated date: 2018-05-07 11:20:25 | Posted by: Asro Rokan


Ceknricek.com - SETIAP 1 Mei, buruh memperingati Hari Buruh Internasional - populer disebut May Day. Seluruh dunia memperingati hari buruh ini, termasuk di Indonesia. Di Jakarta, menurut Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, p



Ceknricek.com - SETIAP 1 Mei, buruh memperingati Hari Buruh Internasional - populer disebut May Day. Seluruh dunia memperingati hari buruh ini, termasuk di Indonesia. Di Jakarta, menurut Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, pada May Day buruh akan unjuk rasa di Istana Negara, Jakarta. Gerakan ini membawa tiga tuntutan rakyat: turunkan harga, tolak upah murah, dan tolak buruh kasar China - termasuk cabut Perpres 20/2018.

May Day di Indonesia mulai diperingati sejak reformasi. Sebelumnya, Orde Baru melarang kegiatan ini dengan alasan May Day mengindikasikan gerakan kaum kiri.

Dari mana asal-muasal May Day?

Dipelopori serikat buruh, ratusan ribu buruh berencana unjuk rasa di Haymarket pada 1 Mei. Sehari sebelum 1 Mei, puluhan buruh melakukan pemogokan dan turun ke jalan. Mereka meneriakkan tuntutannya,” Kerja Delapan Jam Sehari.” Pemogokan ini menyebabkan pabrik-pabrik di Chicago lumpuh. Kelas pengusaha panik.

(Baca : Besok, Arus Lalu Lintas Menuju Istana Dialihkan)

Pada 1 Mei, ratusan ribu buruh yang digerakkan Federasu Buruh Amerika, berkumpul dan melakukan pemogokan di berbagai tempat di AS. Pemogokan beberapa hari. Pada hari ketiga, pemerintah memerintahkan polisi menghentikan pemogokan. Bentrokan terjadi. Diperkirakan empat orang tewas dan puluhan luka. Ini memicu kemarahan buruh.

Seperti ditulis wikipedia, kelompok buruh yang dipimpin Albert Parsons dan August Spies dari kelompok buruh Knights of Labour, menyerukan buruh mempersenjatai diri dan terus melakukan perlawanan. Pada 4 Mei, buruh bekumpul dalam jumlah lebih besar di budaran lapangan Haymarket.

Saat itu hujan turun. Sejumlah buruh berpencar dan ada yang membubarkan diri. Namun di saat itulah, sekitar 180 polisi datang dan meminta unjuk rasa dihentikan. Tiba-tiba, sebuah bom meledak di barisan polisi. Satu polisi tewas, puluhan luka. Ini memancing kemarahan polisi. Mereka menembaki pengunjuk rasa. Lebih 200 buruh luka dan ada yang tewas.

Meski tidak diketahui asal bom, namun media massa serta politisi - yang disebut sebagai kalangan borjuis - melemparkan tuduhan kepada kalangan buruh. Media dan politisi bahkan menyerukan tindakan balasan kepada orang-orang yang mereka sebut sosialis dan anarkis tersebut.

Pembalasan berlangsung massif. Tokoh-tokoh buruh dan kelompok yang disebut sosialis, ditangkap dan disiksa. Ini diperburuk dengan penyataan Jaksa Penuntut Umum Chicago, Julius Grinnell, yang memerintahkan polisi, “sergap lebih dahulu, baru dipertimbangkan pelanggaran hukum mereka.”

(Baca : Buruh: Cabut Perpres Tentang Tenaga Asing)

Delapan tokoh buruh dan sosialis dihukum gantung, termasuk Albert Parsons dan August Spies, dengan tuduhan pembunuhan terencana. Pada 11 November 1887, mereka digantung oleh pengadilan yang dianggap pro pengusaha itu. Satu terhukum, Louise Lingg bunuh diri di penjara. Prosesi pemakaman tokoh-tokoh buruh yang digantung itu dihadiri 20 ribu buruh. Mereka mengecam ptaktik pengadilan korup itu.

Bagi para buruh, tragedi Haymarket tidak sekadar drama perjuangan buruh, tapi sebiah harapan untuk memperjuangkan dunia baru yang lebih baik.

Kongres Buruh Internasional di Paris, 1889, menetapkan Tragedi Haymarket tersebut sebagai Hari Buruh Internasional (May Day).

Di Indonesia, pada 29 Juli 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono resmi menandatangani Peraturan Presiden yang menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional.

Sejak reformasi, buruh memperingati 1 Mei sebagai hari buruh. Buruh mengakukan unjuk rasa besar-besaran menuntut hak-haknya, termasuk pencabutan berbagai aturan yang mereka anggap memberatkan buruh.

Pada 1 Mei 2018 ini, rencananya buruh mengerahkan massa ke Istana Negara. Mereka menuntut turunkan harga beras, tarif listrik, dan bahan bakar minyak. Kemudian, menolak upah murah dengan mencabut Peraturan Pemerintah No 78/2015, serta mencabut Perpres 20/2018 yang mempermudah tenaga kerja asing.

Menurut Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, mereka akan melakukan aksi di seluruh kota Indonesia. Untuk itu, dia meminta polisi menyekat bus-bus yang ikut aksi. “Aksi kami damai,” ujarnya keada ceknricek.com, Senin (30/4).