Indonesia Tuntut Aturan E-Commerce Yang Adil

Category: BERITA -> EKONOMI & BISNIS | Posted date: 2018-05-07 23:40:21 | Updated date: 2018-05-07 13:38:15 | Posted by: Rihat Wiranto


Ceknricek.com - Ekonomi digital menjadi salah satu pembahasan Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke 32 yang berlangsung di Singapura. Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar di ASEAN, memiliki  potensi besar untuk membangun ekonomi digital yang hebat. Tapi



Ceknricek.com - Ekonomi digital menjadi salah satu pembahasan Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke 32 yang berlangsung di Singapura. Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar di ASEAN, memiliki  potensi besar untuk membangun ekonomi digital yang hebat. Tapi Indonesia cukup khawatir bahwa perdagangan lewat online yang berlangsung tidak fair. Maka, Menteri Perdagangan  Enggartiasto Lukita mengusung tema tentang perlunya  "level of playing field" yang setara serta bea masuk dan pajak terhadap produk yang ditransaksikan melalui e-commerce.
 

"Kita sama-sama mempersiapkan diri untuk masuk ke digital ekonomi," katanya dikutip dari antara. 
 
 Enggartiasto mengatakan semua pihak di ASEAN harus mau memberikan "level of playing field" yang sama antara bisnis konvensional dengan bisnis digital. "Sebagai ilustrasi dari sisi perpajakan mereka juga harus diperlakukan sama," katanya.
 
 Hal kedua yang tak kalah penting, yakni mengenai penetapan bea masuk dan pajak atas barang dan jasa yang ditransaksikan secara elektronik atau e-commerce. Pernyataan Enggar  bisa dipahami karena begitu mudahnya produk luar negeri masuk ke Indonesia melalui online yang  membuat produk dalam negeri tidak bisa bersaing.  Produk dari luar negeri membanjir ke Indonesia lewat perdagangan online dengan begitu murah. Inib perlu diatur agar tidak merugikan. Salah satunya dengan pengenaan bea masuk.

Baca: Langkah Indonesia Bangun Ekonomi Digital

Dalam pertemuan Enggar dengan Dirjen WTO akhir tahun lalu di Argentina, dibahas bahwa barang dan jasa yang ditransaksikan dan ditransmisikan secara elektronik akan dipertimbangkan untuk dikenakan bea masuk secara sukarela (voluntary). Pelaksanaan pengenaan itu nantinya dikembalikan ke masing-masing negara.
 
 Barang dan jasa yang dapat dikenakan bea masuk dan pajak misalnya buku digital (e-book), musik digital, jasa akuntansi, serta jasa arsitektur. Sementara itu, jasa transmisi elektronik akan tetap dalam moratorium sehingga tidak akan dikenakan bea masuk dan pajak.
 
 Faktanya negara-negara anggota ASEAN, kata Enggartiasto belum seluruhnya memahami mengenai persoalan itu. "Thailand menanyakan dan kita klarifikasi mengenai masalah itu," katanya.
 
 Oleh karena itu, Enggartiasto ingin agar ke depan ASEAN benar-benar siap memasuki bisnis ekonomi digital dengan lebih matang.

Pasar Terbesar

Asia Tenggara adalah kawasan internet tercepat di dunia. Pada tahun 2020, wilayah ini diproyeksikan memiliki basis pengguna Internet 480 juta. Tetapi pengguna ini hanya menghabiskan $ 30 miliar secara online. ASEAN harus memanfaatkan teknologi digital untuk memungkinkan usaha mikro, kecil, dan menengah menjadi online dan menjadi bagian dari rantai nilai global seperti dikutip Thediplomat.

Teknologi digital dapat membantu negara-negara Asia Tenggara menjadi "pabrik-pabrik dunia" yang sesungguhnya, menghasilkan peningkatan keuntungan dari $ 216 miliar hingga $ 627 miliar, seperti disebutkan dalam  laporan baru dari konsultan AS McKinsey & Co. Secara global, McKinsey memproyeksikan peningkatan produktivitas manufaktur sebanyak $ 3,7 triliun. Jika perolehan ASEAN mencapai $ 627 miliar, mereka akan mencapai 17% dari perolehan  Global

Indonesia juga memiliki potensi untuk menjadi negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, baik di industri manufaktur dan ritel. Pengguna internet di Indonesia akan mencapai 215 juta orang sebelum 2020.
 
 Data di  BKPM, transaksi e-commerce di Indonesia sekitar 36%. Diperkirakan, sebelum 2025, e-commerce di Indonesia Indonesia akan mencapai US $ 81 miliar. Adanya layanan transportasi online seperti Gojek, Uber dan Grab, mendukung Indonesia untuk menjadi pasar transportasi online terbesar di Asia Tenggara. Pertumbuhan transportasi  online di Indonesia diperkirakan meningkat sekitar 22% per tahun, dari US $ 800 juta pada 2015 menjadi US $ 5, 6 miliar pada 2025.
 
 CEO Google Indonesia, Tony Kuesgen, menjelaskan bahwa peningkatan kualitas diperlukan untuk mempercepat inovasi di bidang  informasi dan teknologi untuk mendukung Indonesia menjadi ekonomi digital terbesar di ASEAN.

Baca: Generasi Muda Indonesia Ditantang Bangun Startup Hebat
 
 Pegiat digital marketing, Nukman Luthfie menyatakan Indonesia memang sangat berpotensi mengembangkan digital ekonomi yang hebat. Tentu perlu dibarengi dengan pembenahan di berbagai bidang. “Saat ini dalam hal bisnis online sekitar 95 persen berupa perdagangan. Prinsipnya mereka mencari barang yang murah dari mana saja termasuk dari China yang laku di sini,” katanya. Situasi ini memang melahirkan banyak entrepreneur khususnya anak muda yang terjun ke perdagangan online. Tapi perlu diimbangi dengan lahirnya banyak produk Indonesia yang mendunia. 

Di sisi lain diperlukan peraturan atau kebijakan untuk menciptakan kondisi persaingan yang fair.  Saat ini produk-produk dari luar negeri masuk begitu murah sehingga produk dalam negeri kesulitan bersaing. “Jadi apa yang diperjuangkan Indonesia di KTT ASEAN untuk menciptakan kesetaraan  "level of playing field" dalam bidang  perdagangan memang tepat,” kata Luthfie yang juga pegiat media sosial dan sering menjadi pembicara khususnya tentang digital marketing.