Demi Kurangi Pemanasan Global, Rute Penerbangan Harus Ditata Ulang  

Category: BERITA -> POLITIK | Posted date: 2018-05-07 23:55:22 | Updated date: | Posted by: Rihat Wiranto


Ceknricek.com - Pesawat udara menjadi alat transportasi favorit masa kini. Lebih dari 3,3 miliar orang naik pesawat selama setahun di seluruh dunia. Di Indonesia, menurut data Departemen Perhubungan, tahun 2017 terdapat 16 ribu lebih penerbangan dengan 5,



Ceknricek.com - Pesawat udara menjadi alat transportasi favorit masa kini. Lebih dari 3,3 miliar orang naik pesawat selama setahun di seluruh dunia. Di Indonesia, menurut data Departemen Perhubungan, tahun 2017 terdapat 16 ribu lebih penerbangan dengan 5,8 juta penumpang. Dengan semakin favoritnya pesawat, jumlah penerbangan akan makin banyak di masa mendatang.

Mungkin sedikit yang menyadari, penerbangan yang makin banyak itu menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup. Tahun 2016, seluruh penerbangan di dunia menghasilkan 815 juta ton CO2. Secara keseluruhan, perjalanan udara menyumbang 2 persen emisi CO2 buatan manusia secara global. Otoritas Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) memperkirakan emisi pesawat akan naik lima kali lipat pada 2050.

Ada lagi dampak penerbangan yang juga cukup berpengaruh terhadap pemanasan global. Bahan bakar, ketika dibakar dalam mesin jet, menghasilkan karbon dioksida, nitrogen oksida, jelaga, uap air, dan sulfat yang semuanya dibuang ke atmosfer. Pada ketinggian tertentu, uap air menghasilkan contrails semacam jejak uap air yang terkondensasi sebagai sisa pembakaran mesin pesawat. Jejak kondensasi berwarna putih yang memanjang di belakang pesawat itu dapat terlihat dalam beberapa detik, menit, atau bahkan berjam-jam, bergantung pada kondisi atmosfer.

Di ketinggian 10.000 meter di mana kapal jet terbang, udaranya sangat dingin. Air mengembun pada partikel di knalpot jet dan berubah menjadi tetesan air. Tetesan membentuk partikel es yang dilihat sebagai contrails. Panjang contrail tergantung pada kondisi atmosfer. Jika terjadi kelembaban tinggi, contrails akan panjang dan dapat bertahan selama berjam-jam. Dibantu oleh angin, contrails ini dapat membentuk awan cirrus yang luas.

"Anda telah melihat contrails di langit, garis-garis awan, yang dapat berkembang menjadi awan cirrus dan mereka memiliki efek pemanasan,” kata Bill Hemmings, dari organisasi nirlaba yang berbasis di Brussels, Belgia dikutip dari ABCNews. Studi telah menghitung bahwa contrails dapat menghangatkan iklim lokal.

Saat ini, muncul sebuah ide, agar maskapai mengubah rute penerbangan untuk menghindari kondisi alam tertentu dan dengan demikian, menghindari pembuatan contrails.

Stefanie Meilinger, profesor teknologi berkelanjutan asal Bonn, Jerman  mendukung ide perubahan rute penerbangan agar bisa mengurangi pemanasan global. Bersama dengan Lufthansa dan layanan cuaca Jerman (DLR) Dr Meilinger dan timnya mempelajari pengaruh contrails dan dampak dari perencanaan penerbangan yang disesuaikan dengan kepentingan lingkungan.

Dia mengatakan awan dan contrail memiliki efek pemanasan dengan menjaga radiasi inframerah dari permukaan bumi di atmosfer bumi.

Meilinger  mengamati alat perencanaan penerbangan dan informasi yang disediakan oleh DLR untuk meninjau 40.000 rute penerbangan Lufthansa. Tujuannya untuk mencari rute yang bisa meminimalkan pembentukan contrails dan emisi CO2.

Penelitian itu menemukan data bahwa pesawat tidak layak melewati  daerah-daerah padat, seperti di Jerman. “Tetapi layak di daerah-daerah seperti di atas Samudera Atlantik yang memiliki lebih banyak ruang untuk pesawat," katanya. Meilinger mengatakan gagasan rute penerbangan yang disesuaikan kepentingan iklim masih belum dipahami dengan baik.

Ia memberi contoh, sepertiga dari maskapai penerbangan menawarkan pelanggann untuk untuk membayar beberapa dolar tambahan ketika mereka membeli tiket. Kemudian uang masuk dalam ke skema proyek perbaikan lingkungan.

Ide untuk menyesuaikan rute penerbangan mungkin menjadi sesuatu yang kontroversial, tetapi dengan meningkatnya lalu lintas udara, dan meningkatnya kekhawatiran tentang dampak penerbangan terhadap pemanasan global, penelitian tentang kelayakannya terus berlanjut.

Langkah Maskapai

Para pemilik masakapai menyadari bahwa penerbangan memang menyumbang pemanasan global. Namun industri pembuatan pesawat juga terus melakukan perbaikan. Dikutip dari aviationbenefits.org, generasi pesawat yang baru menggunakan bahan bakar 20 persen lebih hemat dari jenis  sebelumnya. Bahan bakar penerbangan alternatif yang berkelanjutan yang telah digunakan dalam skala kecil dalam penerbangan komersial, berpotensi untuk mengurangi emisi hingga 80 persen dibandingkan dengan bahan bakar jet tradisional.

Armada saat ini juga lebih ringan dan lebih efisien serta menghemat emisi. Contoh lain, menambahkan perangkat ujung sayap ke pesawat dapat mengurangi penggunaan bahan bakar hingga 4 persen.

Mempersingkat waktu terbang dengan satu menit menghemat setidaknya 100kg CO2 per penerbangan. Sistem manajemen lalu lintas udara yang direformasi di Amerika Serikat dan Eropa diharapkan juga akan mengurangi emisi secara signifikan.