Rekaman Rini dan Sofyan Bicarakan Proyek

Category: BERITA -> EKONOMI & BISNIS | Posted date: 2018-05-08 00:00:11 | Updated date: 2018-05-07 14:56:53 | Posted by:


Ceknricek.com - Sebuah pembicaraan per telepon antara Menteri BUMN Rini Soemarno dan Dirut PLN Sofyan Basir bocor atau dibocorkan di media sosial. Rekaman terdengar agak kresek kresek itu untuk beberapa bagian tidak terdengar jelas. Tapi ada beberapa bagi



Ceknricek.com - Sebuah pembicaraan per telepon antara Menteri BUMN Rini Soemarno dan Dirut PLN Sofyan Basir bocor atau dibocorkan di media sosial. Rekaman terdengar agak kresek kresek itu untuk beberapa bagian tidak terdengar jelas. Tapi ada beberapa bagian rekaman suara dua pejabat penting ini yang lumayan jelas terdengar khususnya saat membahas sebuah proyek dimana BUMN khususnya PLN ingin terlibat. 

Mendengar bagian rekaman yang terdengar jelas, bisa menimbulkan kesan kedua pembicara ini sedang mempersoalkan sebuah proyek. Ada kesan Dirut PLN “mengadu” kepada Menteri BUMN  tentang proyek dimana perusahaan listrik negara itu menghadapi masalah dengan seseorang yang diduga “Pak Ari”. Kesan miring pun akhirnya timbul, seolah mereka berdua sedang bagi-bagi proyek.

Rekaman telepon Rini Soemarno dan Sofyan Basir isinya seperti ini:

Sofyan: Saya juga kaget kan Bu, saya mau cerita ke Ibu, beliau (diduga Pak Ari) kan panggil saya, pagi kemarin kan saya baru pulang.

Rini: Yang penting ginilah, sudahlah, kan yang harus ambil kan dua, Pertamina sama PLN.

Sofyan: Betul.

Rini: Ya, dua-duanya punya saham lah Pak, begitu.

Sofyan: Waktu itu saya ketemu Pak Ari juga, Bu. Saya bilang ‘Pak Ari mohon maaf, masalah share ini kita duduk lagi lah, Pak Ari.

Rini: Saya terserah bapak-bapak lah, saya memang kan konsepnya sama-sama Pak Sofyan.

Sofyan: Saya kemarin bertahan, Bu, kan beliau ngotot. ‘Kamu gimana sih, Sof?’ Lho kan, Pak, kalo enggak ada PLN kan Bapak enggak ada juga tuh buat bisnis.

Sofyan: Kan saya ketemu Pak Ari juga, Bu.

Rini: Menurut saya banyak yang nerusin, cuma saya bilang sama kakak saya yang satunya, biasanya kalau dia sudah enggak mau ngomong, saya ngomong sama yang satunya supaya nyambung ke sana gitu kan

Sofyan: Betul, betul.

Kementerian BUMN  Mengecam

Pihak Kementerian BUMN dan PLN  langsung menjadi pihak “tercela” atas rekaman itu. Rini Soemarno tidak muncul di publik untuk menjelaskan  kasus ini, tapi ia memerintahkan Sekretaris Menteri BUMN menjelaskan duduk perkara sebenarnya.

Kementerian BUMN mengeluarkan keterangan pers berjudul *Klarifikasi Atas Informasi Menyesatkan Terkait Percakapan Menteri BUMN dengan Direktur Utama PLN”.  Penjelasan  ini dikeluarkan  Sekretaris Kementerian BUMN, Imam Apriyanto Putro yang sedang berada  di Solo, Sabtu (28/4). 

Dari judulnya saja sudah sangat jelas bahwa Kementerian BUMN menilai intrepetasi oleh penyebar video sangat menyesatkan. 

“Sengaja diedit sedemikian rupa dengan tujuan memberikan informasi yang salah dan menyesatkan,” begitu bunyi pernyataan Imam.

Kementerian BUMN menegaskan bahwa percakapan tersebut bukan membahas tentang 'bagi-bagi fee'.Pembicaraan itu terjadi tahun lalu itu diskusi biasa dalam hal membahas sebuah proyek.

Tapi Imam mengakui, memang benar bahwa Menteri BUMN Rini Soemarno dan Dirut PLN Sofyan Basir melakukan diskusi mengenai rencana investasi proyek penyediaan energi yang melibatkan PLN dan Pertamina.

“Keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu memastikan bahwa investasi tersebut memberikan manfaat maksimal bagi PLN dan negara, bukan sebaliknya untuk membebani PLN,” katanya.

Iman menjelaskan percakapan lengkapnya justru  membahas upaya Sofyan Basir untuk memastikan PLN ikut serta dalam proyek tersebut dan mendapatkan porsi saham yang signifikan. “Sehingga PLN memiliki kontrol dalam menilai kelayakannya, baik kelayakan terhadap PLN sebagai calon pengguna utama, maupun sebagai pemilik proyek itu sendiri.”

Dalam pembicaraan lengkap, Menteri Rini justru ingin  BUMN berperan maksimal dalam setiap proyek yang dikerjakan. “Sehingga BUMN dapat mandiri dalam mengerjakan proyek dengan penguasaan teknologi dan keahlian yang mumpuni.”

Soal selengkap apa bentuk rekaman aslinya, Imam belum menjawab saat dikonfirmasi Ceknricek.com.

Nah, ternyata proyek penyediaan energi yang dibicarakan kedua pejabat tadi malah batal dilaksanakan. “Akhirnya tidak terealisasi karena memang belum diyakini dapat memberikan keuntungan optimal, baik untuk Pertamina maupun PLN,” kata Imam.

Terhadap kasus penyiaran  rekaman itu, Kementerian BUMN akan mengambil upaya hukum untuk mengungkap pembuat serta penyebar informasi menyesatkan tersebut. “Penyebaran dan pengeditan rekaman pembicaraan itu jelas dilakukan dengan tujuan untuk menyebarkan informasi yang salah dan menyesatkan kepada masyarakat,”

Akun instagram @om_gadun diduga adalah yang pertama kali mengunggahnya dengan caption 'Dashyaaatttt...!!!! Mau kelanjutanhya? Om butuh 1000 likes #MafiaMigas #RIwayatpertaminakiNI'.

Percakapan tersebut juga diunggah  di akun instagram @jokerpolitik dalam bentuk video yang berisi suara rekaman tersebut.

Kementerian BUMN  belum memastikan siapa yang seharusnya dilaporkan ke polisi atas penyebaran ini. 

Pihak PLN belum mengeluarkan penjelasan khusus soal ini. Pihak humas PLN hanya menyatakan sudah ada pernyataan dari Kementerian  BUMN.

Proyek Polemik

Direktur Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Yusri Usman menyatakan rekaman itu tidak relevan karena proyeknya saja tidak jalan.

“Proyek  receiving terminal LNG di Merak Banten oleh PT BSM dengan Pertamina telah dihentikan pada kuartal ke 3 tahun 2017,” katanya, Sabtu (28/4) lewat keterangan tertulis.

Menurut dia, rencananya terminal  itu dibangun oleh PT Bumi Sarana Migas (BSM) yang bekerjasama dengan Mitsui dan Tokyo Gas. PLN minta saham 15%, bukan hanya beli saja  tetapi ingin juga  punya saham. Tapi BSM dan partnernya (Tokyo Gas & Mitsui) hanya bisa memberi 7.5%.

Ia menyatakan,  sejak  2016, CERI memprotes rencana kegiatan kerjasama ini , karena berpotensi merugikan Pertamina dan PLN.

Tiba-tiba  muncul rekaman itu, timbul pertanyaan mau kemana kasus ini mengarah? Pihak yang  merasa ternoda tentunya  adalah BUMN Rini Soemarno dan Dirut PLN Sofyan Basir. “Dan berpotensi menurunkan nama baik Jokowi-JK,” kata Usman.