Garuda, Ancaman Mogok Setelah RUPS

Category: BERITA -> EKONOMI & BISNIS | Posted date: 2018-05-08 00:14:50 | Updated date: 2018-05-07 13:35:35 | Posted by: Marah Sakti Siregar


Ceknricek.comĀ - BELUM sebulan RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) berlalu, manajemen Garuda sudah dihadang masalah. Ratusan pilot dan karyawannya akan melakukan aksi mogok kerja. "Ya, betul. Besok siang kami akan umumkan rencana itu," kata Tony Tampaty, Ketu



Ceknricek.com - BELUM sebulan RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) berlalu, manajemen Garuda sudah dihadang masalah. Ratusan pilot dan karyawannya akan melakukan aksi mogok kerja. "Ya, betul. Besok siang kami akan umumkan rencana itu," kata Tony Tampaty, Ketua Harian Serikat Karyawan Garuda ( SEKARGA) pada ceknricek.com, Selasa sore, 1 Mei 2018.

Tony menambahkan, aksi mogok itu akan diikuti para pilot dan karyawan  dikordinasikan oleh Serikat Bersama (SB) Karyawan Garuda yang menaungi  Asosiasi Pilot Garuda (APG) dan Serikat Karyawan Garuda (SEKARGA). "Aksi mogok kami lakukan karena beberapa tuntutan masih belum dipenuhi manajemen," tambah Tony.

Di antaranya, keinginan mereka agar jumlah direksi diperkecil dan hendaklah diisi oleh tenaga profesional yang menguasai bisnis penerbangan. Juga, pengaturan operasional di antaranya sistem penjadwalan crew. Termasuk pelbagai masukan agar ketepatan jadwal terbang dapat segera di atasi. Supaya tidak terus terjadi keterlambatan. "Masak kita kalah ama Batik (Air)."

Tapi, semua tuntutan itu, sambung Tony, tidak dipenuhi manajemen. Itu tercermin dari hasil RUPS yang baru dilaksanakan 19 April. Makanya, setelah melakukan rapat evaluasi SB Karyawan sepakat memutuskan; menolak hasil RUPS dan akan melakukan aksi mogok kerja.

(Baca Juga : 4 Fakta Unik Maskapai Garuda Indonesia)

Belum dipastikan kapan dan berapa lama akan dilakukan. Tapi, rencana mogok itu sudah diketahui manajemen. " Ya, malam ini juga direksi akan rapat membahas ancaman mogok itu," kata Hengki Heriandono, VP Corprate Secretary Garuda kepada ceknricek.com.

Ia mengatakan, sebenarnya sebagian dari tuntutan karyawan sudah dipenuhi. Misalnya, mereka mau direktur operasional dan direktur teknik diangkat RUPS, sekarang sudah begitu. Sebelumnya memang tidak diangkat RUPS," ujar Hengki

(Baca : Garuda, Bayar Utang Tarik Utang)

Dia menambahkan, tentu tidak semua keinginan karyawan harus dan bisa dipenuhi. "Misalnya, mereka mau direksi cukup enam saja. Tidak perlu ada direktur Pelayanan dan Direktur Cargo. Ini tidak dipenuhi karena rapat pemegang saham memandang dua kursi direksi itu penting ada saat ini," jelas Hengki.

Dia juga tidak sependapat dengan penilaian Serikat Bersama Karyawan bahwa kinerja manajemen Garuda setelah dipimpin dirut baru Pahala Nugraha Mansury sejak April tahun lalu,  belum membaik. "Gak benar begitu. Kita merasa sudah ada perbaikan."

Apa pun, bisnis maskapai penerbangan plat merah itu sejak dua tahun terakhir ini sedang mengalami pasang surut. Rugi terakhir sekitar USD 213, 4 juta atau sekitar Rp 2, 838 triliun. Sedangkan utang jatuh Tempo Juli tahun ini berkisar Rp 2 triliun — dari total utang Garuda sebesar USD 1,7 miliar. Atau sekitar Rp 23, 2 triliun.

Guna mengatasi beban utang tersebut, lewat RUPS, pemegang saham menyetujui langkah korporasi untuk menerbitkan  surat utang baru. Yakni, Global Bond alias Obligasi Global yang dijamin negara. Besar sekitar Rp 10 triliun. Rencana penerbitan obligasi itu bisa terkendala, jika kondisi internal Garuda tidak solid.