Mogok Pilihan Akhir, Karyawan Hanya Ingin Dialog

Category: BERITA -> EKONOMI & BISNIS | Posted date: 2018-05-08 00:24:43 | Updated date: 2018-05-10 09:16:42 | Posted by: Rihat Wiranto


Ceknricek.com - Karyawan Garuda Indonesia Persero yang tergabung dalam Serikat Bersama (Sekber) merasa gundah setelah melihat kondisi perusahaan, yang menurut mereka, sangat memprihatinkan. Ada tiga hal yang membuat mereka kecewa, yakni kondisi keuangan G



Ceknricek.com - Karyawan Garuda Indonesia Persero yang tergabung dalam Serikat Bersama (Sekber) merasa gundah setelah melihat kondisi perusahaan, yang menurut mereka, sangat memprihatinkan. Ada tiga hal yang membuat mereka kecewa, yakni kondisi keuangan Garuda yang merah, jumlah direksi bengkak, dan harga saham anjlok.

Mereka mengaku sudah menyampaikan kritik dan masukan kepada pemegang saham, dalam hal ini pemerintah agar kondisi Garuda diperbaiki. Sayang, tanggapan pemerintah ternyata dingin-dingin saja. Para karyawan sudah dongkol dan mengancam akan mogok jika tuntutan mereka diabaikan. “Kami memberi batas waktu satu bulan dari sekarang hingga pemerintah memenuhi tuntutan kami,” kata Ketua Umun Sekarga, Ahmad Irfan Nasution, kepada wartawan, termasuk ceknricek.com, di Jakarta Rabu (2/5/2018). “Kita bukan meminta ke manajemen tapi ke pemerintah dan pemegang saham.” Artinya, jika tidak ada tanggapan yang memuaskan, seluruh karyawan Garuda tidak bekerja sekitar 2 Juni 2018.

(Baca : Pilot Garuda Belum Puas Hasil RUPS)

Irfan sadar,  pemogokan karyawan akan merepotkan banyak orang. “Tapi mogok bukan tujuan kami. Kami cinta dengan perusahaan ini. Kalau ada orang lain yang ingin menghancurkan perusahaan ini, kami tidak akan membiarkannya,” ujarnya.

 Ahmad Irfan Nasution, Ketut Umum Serikat Karyawan Garuda (Sekarga) saat ditemui tim ceknricek.com, di Jakarta Rabu (2/5/2018). (Foto:Faisal Hidayat/Ceknricek.com)

Tahun lalu, karyawan Garuda sudah memberi masukan kepada pemerintah soal kemunduran kinerja perusahaan. “Pemerintah tidak mau mengakui kesalahannya. Kami, karyawan selalu memimpikan perusahaan ini lebih maju.  Tapi orang yang masuk justru membuat perusahaan makin terpuruk,” kata Irfan mengomentari masuknya jajaran direksi yang dianggapnya malah memboroskan uang saja.

Dia juga mengkritik manajemen Garuda membuat perubahan jadwal crew yang tidak  benar. “Akibatnya, setiap liburan panjang terjadi keterlambatan gila-gilaan. Kami sangat sakit hati, karena tadinya bangga dengan on time performance kami. “

(Baca : Garuda, Ancaman Mogok Setelah RUPS)

Tony Tampaty, Ketua Harian Serikat Karyawan Garuda (Sekarga) menyatakan sengaja menyampaikan kondisi  internal Garuda kepada publik. “Kami melihat ada yang membahayakan kondisi Garuda ke depan,” katanya.

Ia menyebut ada tiga masalah besar yang dihadapi Garuda, yakni masalah operasional, keuangan, dan hubungan industrial yang kian hari makin tidak kondusif. “Dalam operasional Garuda, banyak keluhan dari konsumen terkait masalah pembatalan maupun penundaan penerbangan. Ini  sudah bukan rahasia lagi. Kami sudah ingatkan tapi sampai detik ini masih terjadi.”

Tony juga menegaskan mogok bukan tujuan utama. “Kami lakukan ini karena ada hal yang kami lihat sangat membahayakan kelangsungan Garuda. Kami sudah mengirim surat  kepada bapak Presiden dan Ibu Menteri BUMN tapi belum ada tanggapan,” katanya.

Jika pemerintah terus mengabaikan, mau tak mau karyawan akan mogok. Ini adalah pilihan yang tidak terelakkan. “Langkah ini merupakan sinyal agar pemerintah berpikir. Tidak ada yang bisa kami lakukan selain mogok. Kami mohon maaf jika masyarakat terganggu, tapi yang kami pikirkan adalah kelangsungan Garuda. Semua rute akan mogok.”

(Baca : Garuda, Bayar Utang Tarik Utang)

Capt. Bintang Hadiono, selaku Presiden Asosiasi Pilot Garuda (APG) mengungkapkan, ia sungguh cinta  Garuda. "Kami selalu menjaga nama Indonesia tetapi belakangan konsumen mulai teriak Garuda telat, pelayanan kurang memuaskan,” katanya. Penumpang pun kecewa. “Pelayanan merosot. Akibatnya karyawan kami di lapangan dimaki-maki sama penumpang. Kalau Garuda sampai terpuruk, kami sedih juga.”

Mogok tidak melanggar hukum. “Seusai dengan undang-undang, mogok adalah hal dasar dari pekerja. Jadi ini langkah legal. Kami tidak menginginkan mogok, tapi kami bisa.”

Kinerja Turun

Para karyawan Garuda melihat, perjalanan bisnis Garuda terseok-seok belakangan ini. Pada 2016, dari sisi operasional, Garuda sebenarnya masih memperoleh keuntungan sebelum pajak sebanyak US$17.790.700, dan laba bersih US$9.364.858.  Tapi lihatlah pada 2017, perusahaan mengalami kerugian operasional sebelum pajak hingga US$158.180.637 dan rugi bersih US$213.389.678 atau sekitar Rp2,8 triliun.

Corporate Affairs Asosiasi Pilot Garuda, Capt Eric Ferdinand menyatakan bahwa masalah jajaran direksi juga merupakan sumber penyedot uang. Menurut dia, jabatan Direktur Kargo justru mengakibatkan keuangan perusahaan kian boros. Sebelumnya unit kargo ini hanya dipimpin oleh pejabat setingkat vice president. "Meski dipimpin seorang direktur sejak tahun 2016, kinerja direktorat kargo tidak meningkat dan hanya ada peningkatan biaya operasional," ujar dia. Kenyataannya, Garuda Indonesia tidak memiliki pesawat khusus kargo.

(Baca Juga : 4 Fakta Unik Maskapai Garuda Indonesia)

Direktur Personalia juga dianggap telah mengeluarkan peraturan  tanpa konsultasi serikat pekerja yang membuat suasana kerja tidak kondusif.

Kepercayaan investor terhadap Garuda tampak kian menurun. Hal itu bisa dilihat  dari penurunan harga saham Garuda Indonesia yang berkode GIAA. "Saat IPO, 26 Januari 2011, nilai sahamnya sebesar Rp 750, tapi per 25 April 2018 nilainya hanya  Rp 292 per lembar saham," kata dia.

Karyawan pun mengajukan dua tuntutan. Pertama, pemegang saham diminta mengurangi jumlah direksi dari 8 orang menjadi 6 orang. Kedua, direksi harus diisi dari internal Garuda karena mereka lebih memahami masalah yang ada. Tuntutan ditandatangani oleh Ketua Umum Sekarga, Ahmad Irfan Nasution dan Capt Bintang Hardiono, Presiden APG, tertanggal 2 Mei 2018.

Menghadapi masalah ancaman pemogokan, Direktur Utama PT Garuda Indonesia Pahala N Mansury  mengharapkan semua pihak bisa menenangkan diri. “Kinerja Garuda yang sudah baik ini jangan sampai menurun,” katanya kepada ceknricek.com.