Antri Sembako Berujung Maut

Category: BERITA -> POLITIK | Posted date: 2018-05-08 00:48:52 | Updated date: 2018-05-16 04:19:54 | Posted by:


Ceknricek.com - Pembagian sembako oleh Forum Untukmu Indonesia di Monas,Jakarta, Sabtu (28/4) membuat dua nyawa bocah melayang. Komariah (49), salah satu orang tua korban kini sedang menuntut keadilan. Sebelumnya, polisi membantah jika almarhum Muhammad  



Ceknricek.com - Pembagian sembako oleh Forum Untukmu Indonesia di Monas,Jakarta, Sabtu (28/4) membuat dua nyawa bocah melayang. Komariah (49), salah satu orang tua korban kini sedang menuntut keadilan. Sebelumnya, polisi membantah jika almarhum Muhammad  Rizky Saputra (12), anak Komariah, meninggal karena terjatuh saat berdesak-desakan.

Di dalam kamar petak berdinding triplek di kawasan RT 12 RW 13, Pademangan Barat, Jakarta Utara, Komariah nampak sedang berbaring. Ketika dikunjungi C&R, Rabu (2/5), dengan malas ia hanya melihat lewat sudut matanya. Wajahnya nampak kelelahan. Kokom –begitu ia disapa- lantas memanggil Adi Asykhari, anak keduanya untuk menyambut C&R.

"Maaf pak. Emak masih capai. Baru saja pulang dari polisi (Bareskrim Polri). Kalau mau ngobrol langsung sama pengacaranya saja ya?" kata Adi.

Berselang tak lama mendekat anak pertama Kokom, seorang perempuan. Sama seperti Adi, ia juga meminta C&R pergi. Pasalnya, Kokom sering pingsan kalau habis wawancara. Ingatan akan anak bungsunya, Muhammad Rizky Saputra (12) yang tewas saat ikut pembagian sembako di Monas, Sabtu (28/4) lalu, kembali menghantui.

"Tadi aja di kantor polisi pingsan mulu pak. Emak nggak kuat kalau disuruh nginget kejadian itu lagi. Jadi mohon maaf. Mending ke pengacara saja. Soalnya pengacara pesannya begitu. Kalau ada yang mau wawancara emak lewat dia saja,"ujar anak perempuan Kokom sambil memanggil Adi, sang adik.

 kupon pembagian sembako

Isu Nasional

Muhammad Fayyadh, SH, pengacara Komariah membenarkan, jika pihaknya melarang Kokom ngomong. Fayyadh berdalih, kasus ini telah menjadi isu nasional. Ia tidak mau Kokom salah ngomong, hingga membuat keadaan jadi tidak kondusif. Fayyahd pun bercerita panjang lebar soal kejadian yang menimpa anak kliennya, di sebuah restoran di Jalan Sabang, Jakarta Pusat.

Menurut Fayyadh, Kokom sebelumnya mendapatkan tiga jenis kupon. Yaitu kupon makan,hadiah dan sembako. Kupon itu berasal dari Ibu Sri, warga RT 12 Pademangan Barat. Fayyadh mengutip omongan Bu Sri, yang menyuruh Kokom berangkat ke Monas sambil ngajak anaknya. Selain akan mendapat transportasi gratis, di Monas juga bakal disediakan makanan dan sembako gratis, selain hiburan musik dan tari tarian.

"Nanti berangkat pakai bus,pulang juga pakai bus. Sudah nggak usah khawatir. Sana refresing sama anak elu,"kata Fayyadh mengutip penuturan Bu Sri yang disampaikan ke Kokom.

Mendapat tawaran menggiurkan, Sabtu (28/4), Kokom berangkat mengajak Muhammad Rizky Saputra (12). Diantar oleh Adi menggunakan motor, mereka menuju titik kumpul di ruko Permata Ancol. Saat tiba di Permata Ancol, sudah berbaris beberapa bus yang akan mengangkut rombongan ke Monas. Ketika masuk ke dalam bus, Kokom didata oleh Putri dan Eni, dua orang warga yang masih satu RT dengan Kokom.

Bus pun berjalan. Begitu sampai di Monas sekitar pukul 10.30 WIB, rombongan turun. Karena bus berhenti cukup jauh dari pintu masuk Monas, Kokom dan anaknya langsung fokus mencari minuman lantaran keduanya kehausan.  Kokom sengaja membeli minum karena anaknya minta minuman dingin. Setelah minum, Kokom segera mencari antrian.

Tergencet Massa

Karena antrian di depan panggung sudah sesak, Kokom menarik anaknya mencari antrian yang agak lowong. Saat masuk antrian yang agak longgar, tiba-tiba barisan massa dari belakang mendesak maju. Dalam hitungan detik, Kokom terdorong. Tangannya masih menggenggam Rizky. Oleh panitia, massa kemudian disuruh mundur. Akibatnya, Rizky terjatuh dan terinjak-injak.

Kokom lantas menyeret Rizky agar keluar dari antrian barisan. Rizky dibawa ke bawah pohon rindang. Di sana, Rizky muntah-muntah. Oleh Kokom lantas diberi air minum. Tapi malah kejang-kejang. Karena panik, Kokom meminta 5 laki-laki yang memakai seragam dan diduga panitia untuk memberi pertolongan. Tapi semuanya jawabannya sama.

"Mereka bilang, maaf bu,kami lagi sibuk. Lagi kacau begini,"ujar Fayyadh.

Kokom semakin panik. Ia bahkan sudah memohon-mohon karena anaknya muntah-muntah terus. Tapi tak ada yang mau menolong. Berselang tak lama datang seorang perempuan. Kokom meminta tolong pada perempuan tersebut, agar menelepon Adi, anaknya. Setelah ditelepon, tiba-tiba ada seorang tentara lewat. Kokom kemudian meminta tentara itu membawa anaknya. Rizky di bawa ke posko medis dekat panggung.

Karena peralatan kurang, dokter kemudian menyuruh membawa Rizky ke RSUD Tarakan, Tomang, Jakarta Barat. Tiba di RSUD Tarakan sekitar pukul 14.00 WIB. Rizky dirawat di ruang Instalasi Gawat Darurat. Pukul 04.00 WIB Rizky dipindahkan ke ruang picu. Namun Minggu (29/4) pukul 04.35 WIB  nyawa Rizky tak tertolong. Ironisnya, saat keluarga akan membawa jenazah pulang, pihak RSUD Tarakan tidak mengijinkan dengan dalih loket pembayaran belum buka.

"Padahal itu khan hari minggu. Akhirnya setelah berdebat, oke jenasah boleh dibawa asal KTP orang tua korban ditinggal. Tapi begitu mau keluar, tidak ada ambulans. Pihak rumah sakit lantas menyuruh menelepon dua nomor ambulans darurat. Tapi dua-duanya mengaku tidak ada ambulans yang standby,"kata Fayyadh.

Sesuai kesepakatan keluarga, jenasah Rizky dibawa menggunakan taksi online. Rizky diurus warga kampung Pademangan Barat dan langsung disemayamkan di masjid dekat rumah Kokom. Pukul 12.30 jenasah dibawa ke Kampung Pabuaran, Desa Indah, Kecamatan Kemang, Bogor menggunakan  ambulan Partai Gerindra. Di sana, Rizky dimakamkan di samping makam ayahnya.Surat laporan ke Bareskrim Polri[/caption]

Misteri Sumbangan Rp 5 Juta

Menurut Sujiwanto (51), ketua RT 12 Pademangan Barat, sepeninggal Rizky ada orang yang mengaku relawan menyerahkan uang sebesar Rp 5 juta. Uang itu berada dalam amplop yang sudah tersobek. Mereka mengaku relawan, bukan panitia Forum Untukmu Indonesia, yang punya hajat bagi-bagi sembako. Saat itu, Kokom diminta untuk tidak melanjutkan kasus meninggalnya sang anak.

Belakangan diketahui, uang itu diberikan oleh relawan Merah Putih, sebagai tanda tali asih. Namun hingga Fayyadh melaporkan kasus ini ke Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (2/5), pihak panitia belum ada satu pun yang datang ke keluarga korban. Justru wali kota Jakarta Utara, Husein Murad, Kamis (3/5) menyempatkan menjenguk Komariah.

Fayyadh melaporkan Dave Revano Santosa,Ketua Panitia Forum Untukmu Indonesia ke Bareskrim Polri dengan pasal kelalaian, yang menyebabkan orang lain meninggal dunia.Menurut Fayyadh, ia sempat menanyakan soal izin Dave ke Tinia Budiati, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, yang mengeluarkan izin. Ternyata, izin itu hanya untuk pementasan tari-tarian. Memang panitia sempat nyeletuk kalau acara itu akan diramaikan dengan pembagian sembako.

"Tapi Bu Tinia sudah melarang.Kalau untuk pentas seni atau baca puisi silahkan. Ternyata di lapangan tetap dilakukan pembagian sembako,"kata Fayyadh.

Sebelumnya Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan panitia Forum Untukmu Indonesia di Monas tidak pernah menemuinya. Padahal, biasanya semua yang ingin menggunakan Monas akan meminta izin kepada dia atau Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. "Kalau yang datang ke saya bikin acara gede di Monas biasanya penanggung jawabnya datang ketemu saya. Karena sudah mulai sering kan (acara di Monas), sudah 6 bulan. Nah, yang ini enggak," ujar Sandiaga di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Senin (30/4).

Izin menggelar kegiatan di Monas memang bisa ke Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait. Namun, banyak panitia yang menemui Sandiaga untuk sekadar meminta izin langsung. Khususnya untuk acara dengan massa yang cukup besar. Dengan begitu, Sandiaga mengetahui betul acara yang akan digelar di sana. Untuk acara kemarin, Sandiaga ingin memanggil SKPD terkait. Ia juga akan memanggil panitia acara tersebut.

Sandiaga ingin tahu siapa yang mengadakan acara Untukmu Indonesia itu. Sebab dia juga mendengar kabar ada unsur politik di balik kegiatan itu. Selain itu Sandiaga mengatakan panitia awalnya meminta izin kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk membuat acara budaya. Namun kenyataannya ada juga kegiatan keagamaan di sana.

"Jadi ini ada beberapa dinas yang akan saya tanyakan karena enggak boleh kita bikin kegiatan enggak tahu siapa yang menyelenggarakan, apakah forum ini benar atau siapa penanggung jawabnya," tutup Sandi#