Sehat, Meski Berkebutuhan Khusus

Category: Berita -> POLITIK & HUKUM | Posted date: 2018-05-08 01:20:22 | Updated date: 2018-05-16 03:40:05 | Posted by: Ariful Hakim


Ceknricek.com - Rizal, sebut saja begitu, pria asal Brebes, Jawa Tengah, yang tinggal di ujung gang tak jauh dari kontrakan Komariah (49) di Pademangan Barat, RT 12 RW 13, mengaku mendengar ada pembagian kupon sembako. Penjual mie ayam ini memilih untuk m



Ceknricek.com - Rizal, sebut saja begitu, pria asal Brebes, Jawa Tengah, yang tinggal di ujung gang tak jauh dari kontrakan Komariah (49) di Pademangan Barat, RT 12 RW 13, mengaku mendengar ada pembagian kupon sembako. Penjual mie ayam ini memilih untuk menunggui dagangannya, daripada ikut-ikutan ke Monas. Laki-laki yang sudah berada di Pademangan Barat sejak 1969 ini sering melihat mendiang Rizky semasa masih hidup.

"Anaknya sering jalan-jalan ke sini. Main kadang nggak pakai baju. Lucu meski agak ya begitu (anak dengan kebutuhan khusus)," kata Rizal.

Pemilik kontrakan tempat Komariah tinggal, Hj. Nonoy Kurniati (69) memiliki pandangan yang sama. Meski Rizal anak dengan kebutuhan khusus, tapi kondis fisiknya sehat sebelum diajak ke Monas oleh orang tuanya. Nonoy sering melihatnya main tanpa baju.

"Tahan angin anaknya," kata Nonoy.

Dari 4 anak Komariah, memang hanya Rizky yang mengalami kelainan. Anak pertama Kokom sudah menikah dan ikut suaminya. Sedangkan Adi Asykhari, anak keduanya bekerja sebagai office boy. Adik Adi, Dede Komarudin sehari-hari narik ojek online. Kokom sendiri  sudah 8 bulan tinggal di kontrakan Nonoy. Ia menempati kamar sempit bareng suami dan 4 anaknya, persis di belakang rumah Nonoy. Namun sejak 3 bulan lalu, suami Kokom meninggal dunia karena tumor paru-paru.

Sepeninggal sang suami, Kokom mengandalkan dua anaknya yang sudah bekerja. Ia membayar kontrakan 700 ribu tiap bulan. Saat suaminya masih hidup, Nonoy menarik sewa Rp 800 ribu per bulan. Tapi karena sudah janda, Nonoy memberi keringanan Rp 100 ribu, dengan alasan kemanusiaan. Karena keterbatasan ekonomi, menurut Nonoy, banyak warga di lingkungannya yang sering jadi sasaran kupon gratis.

[caption id="attachment_2776" align="aligncenter" width="200"] Ibu Nonoy, pemilik kontrakan.[/caption]

Menurut Nonoy, Kokom memang selalu bersemangat setiap kali ada pembagian sembako gratis. Pergaulannya yang luas, membuat ia sering mendapat jatah kupon, yang kadang tidak diketahui dari mana pemberinya. Inilah yang disesalkan  Sujiwanto, Ketua RT Pademangan Barat, tempat Kokom ngontrak. Sujiwanto mengaku tidak ada laporan masuk ketika warganya mendapat tiga jenis kupon dari Forum Untukmu Indonesia.

"Ya, merasa kecolongan. Saya nggak tahu. Pak RW juga nggak tahu dari mana asal kupon itu. Tiba-tiba saja ada kejadian begini," kata Sujiwanto, saat ditemui C&R, Rabu (2/5) di Pademangan Barat, Jakarta Utara.

Menurut ketua RT yang sudah menjabat selama 4 periode ini, baru kali ini ada kupon gelap yang beredar di tengah warganya. Biasanya semua sepengetahuan dirinya. Sujiwanto tahu Risky dirawat di RSUD Tarakan setelah ditelepon Kokom. Saat ditanya, Kokom mengaku anaknya habis tergencet di Monas. Pagi-pagi usai sholat subuh, Kokom menelepon lagi kalau anaknya sudah meninggal dunia.

"Saya suruh bendahara saya untuk mengurus semuanya karena kebetulan saya sedang piket," kata Sujiwanto.

Pengurusan jenasah Rizky dari masjid hingga dimakamkan di Bogor semua ditangani staf RT. Hingga sekarang, pihak RT belum menemukan siapa pihak yang harus bertanggung jawab. Sujiwanto juga mengaku lelah karena banyak yang datang meminta informasi. Ia bahkan sempat menolak ketika diajak pengacara  Kokom ke Bareskrim Polri untuk melaporkan ketua panitia Forum Untukmu Indonesia.

[caption id="attachment_2777" align="aligncenter" width="200"] Pak Sujiwanto ketua RT[/caption]

Secara pribadi, Sujiwanto ingin panitia mempertanggung jawabkan perbuatannya. Ia berharap ada perwakilan yang datang ke kontrakan Kokom. Minta maaf. Kemudian memberi sumbangan tiap kali Kokom mengadakan tahlilan mendiang Rizky.  Kalau bisa, kata Sujiwanto, kasus ini berakhir dengan damai. Ia tidak memungkiri sempat mendapat telepon gelap.

"Si penelepon bilang, saya bakal dipanggil pihak polisi. Saya katakan nggak tahu apa-apa. Begitu saya telepon balik nomornya tidak aktif," kata Sujiwanto.

Soal sumbangan Rp 5 juta yang diberikan Relawan Merah Putih, Sujiwanto yang menyaksikan pemberian sumbangan itu. Benar saat itu Kokom mengatakan tidak akan melanjutkan kasus meninggalnya sang anak. Belakangan, Kokom berubah pikiran. Di fasilitasi oleh Robi Andriana, anggota Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) Pademangan Bidang Kesra, Kokom meminta pendampingan pada Muhammad Fayyadh, SH.

[caption id="attachment_2781" align="aligncenter" width="350"] Sumbangan yang diberikan dari relawan Merah Putih kepada Ibu korban[/caption]

Fayyadh mengaku dihubungi pihak Kokom. Namun ia tidak mau berkomentar soal pernyataan pihak polri, yang menganggap Rizky meninggal bukan di area pembagian sembako, tapi di luar pagar Monas. Polisi juga sempat mengungkit kondisi Rizky yang mengalami keterbelakangan mental. Fayyadh lebih memilih untuk mendorong polri agar mengusut kasus ini secara tuntas.

"Dalam waktu dekat, saya akan meminta dukungan ke lembaga-lembaga terkait, agar kasus ini tidak mandek. Saya akan bertandang ke DPR dan Kompolnas," kata Fayyadh.

Pihak RSUD Tarakan, hingga kini belum memberikan penjelasan soal penyebab kematian Rizki. Hal ini disesalkan oleh Fayyadh. Setelah korban tak tertolong, pihak rumah sakit hanya memberi surat pengantar kematian berisi identitas korban, tanpa dicantumkan penyebab kematiannya. Saat disambangi Kamis (3/5), Lina Yuliani, staf jaga utama Instalasi Gawat Darurat RSUD Tarakan tidak mau memberi keterangan. Ia menyarankan C&R membuat surat permohonan wawancara ke bagian humas.

"Nanti mereka yang akan menindaklanjuti," kata Lina, pendek.#