Batik dengan Spirit Islam itu Terancam Punah

Category: Berita -> SOSIAL BUDAYA | Posted date: 2018-05-08 01:36:06 | Updated date: 2018-05-17 00:57:03 | Posted by: Admin


Ceknricek.com — Nama batik Rifaiyah, bagi banyak kalangan, terdengar asing. Padahal batik khas Batang, Jawa Tengah ini, memiliki sejarah panjang gerakan Islam pada masa penjajahan Belanda. Kondisinya saat ini memprihatinkan.



Ceknricek.com — Nama batik Rifaiyah, bagi banyak kalangan, terdengar asing. Padahal batik khas Batang, Jawa Tengah ini, memiliki sejarah panjang gerakan Islam pada masa penjajahan Belanda. Kondisinya saat ini memprihatinkan.

Batik Rifaiyah bermotif tumbuhan sesuai ajaran Islam. Motif-motif yang ditampilkan pun mengandung makna spiritualitas. Peneliti batik, William Kwan menyebut, batik Rifaiyah dikenal pula dengan nama "batik tiga negeri", yang sekaligus mewakili warna batik. Tiga negeri itu yakni Lasem terkenal dengan warna merah, Pekalongan warna biru, dan Solo warna cokelat. “Warna-warna tersebut dibubuhkan bersamaan pada sehelai kain batik,” tulisnya di situs infobatik.

Batik Rifaiyah ini dipelopori KH Ahmad Rifai, yang dikenal dengan sebutan Kyai Rifai— yang kemudian menjadi nama batik ini. Menurut Miftkhutin, 40, pererus batik tulis ini, Kyai Rifai ulama besar yang lahir di Desa Tempuran, Kendal, Jawa Tengah pada 9 Muharram 1200 Hijriyyah, atau 1786 Masehi.

Kyai Rifai mengajarkan para santri membatik dengan pesantren dengan spirit ajaran Islam. Sikapnya yang kritis menyebabkan Kyai Rifai dibuang Belanda ke Ambon, kemudian diasingkan ke Manado hingga wafat pada 1876 Masehi di Sulawesi Utara. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengangkatnya sebagai Pahlawan Nasional pada 2004.

Menurut Miftakhutin, Kyai Rifai menulis syair-syair dalam bahasa "Arab Pegon" atau kitab-kitab berbahasa Jawa berhuruf Arab. Syair-syair itu selalu disenandungkan saat membatik. “Dengan syair-syair yang diajarkan dan mengandung nilai religi membuat suasana lebih meneduhkan jiwa," tambahnya.

Dari sekitar 24 batik karya batik Kyai Rifai, satu di antaranya diberi nama “pelo-ati” (ampela dan hati ayam). “Motif pelo-ati ini menggambarkan ajaran sufisme bahwa hati mengandung sifat-sifat terpuji, sedangkan ampela menggambarkan tempat kotoran,” tulis Sri Mustika dari Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka, Jakarta, dalam bukunya “Upaya Pelestarian Batik Rifaiyah."

Sri Mustika mengutip kitab "Tarujumah" susunan KH Rifai, yang menyebutkan bahwa di dalam hati terdapat delapan sifat kebaikan, yaitu zuhud (tidak mementingkan keduniawian), qana'at (merasa cukup atas karuniaNya), shabar (sabar), tawakal (berserah diri kepadaNya), mujahadah (bersungguh-sungguh), ridla (rela), syukur, dan ikhlas.

Sedangkan ampela menggambarkan tempat kotoran, yaitu sifat-sifat buruk manusia, yaitu hubbu al-dunya (mencintai dunia yang disangka mulia namun di akhirat sia-sia), thama' (rakus), itba' al-hawa (mengikuti hawa nafsu), 'ujub (suka mengagumi diri sendiri), riya (suka dipuji), takabur (sombong), hasad (dengki) dan sum'ah (suka membicarakan amal kebajikannya pada orang).

Terancam

Miftakhutin, biasa disapa Utin, salah seorang yang berupaya mempertahankan batik Kyai Rifai ini. Di desa Kalipucang Wetan, Batang, Jawa Tengah, perempuan berusia 40 tahu itu meneruskan tradisi batik leluhurnya itu. Namun, dia khawatir masa depan batik ini, karena minat pembantik muda semakin sedikit.

"Anak-anak muda perempuan tidak lagi tertarik untuk membatik. Mereka lebih suka dengan hasil instan, sedangkan membatik makan waktu lama," kata Miftkhutin, Rabu 2/5) di sentra batik Rifaiyah, Batang. Utin merupakan generasi kelima dari keluarganya yang meneruskan tradisi membatik hingga saat ini.

Pendiri Kelompok Usaha Bersama (KUB) Tunas Cahaya, mengungkapkan perajin batik Rifaiyah itu rata-rata di atas 35 tahun. “Membatik dengan menjaga warisan tradisi itu hanya menjadi pilihan terakhir bagi perajin muda,” kata Utin.

Untuk menjaga dan melestarikan batik tradisi ini agar tidak punah, Utin membuka pelatihan gratis, semua bahan dan perlengkapan disediakan. “Namun peminatnya sedikit, hanya dua orang saja," katanya.

Begitu pun, Utin tidak menyerah. Dia terus berusaha menjaga dan melestarikan batik tradisi ini agar tidak punah. “Kami harus terus bertahan. Tidak mustahil dengan berkurang peminat di kalangan muda akan membuat batik Rifaiyah terancam hilang dan bahkan punah,” ujar Utin.

ANTARA