Daging Buatan Laboratorium, Solusi Makanan Masa Datang

Category: Pengetahuan -> TEKNOLOGI | Posted date: 2018-05-10 15:28:25 | Updated date: 2018-05-17 05:14:52 | Posted by: Rihat Wiranto


Ceknricek.com – Penduduk dunia terus meningkat. Ada 9 miliar manusia di bumi ini pada 2050. Apakah dunia ini secara alami bisa memberi makan kepada manusia sebanyak itu? Inilah pertanyaan yang menghantui ilmuwan saat ini. Harus ada cara inovatif untuk m



Ceknricek.com – Penduduk dunia terus meningkat. Ada 9 miliar manusia di bumi ini  pada 2050. Apakah dunia ini secara alami bisa memberi makan kepada manusia sebanyak itu? Inilah pertanyaan yang menghantui ilmuwan saat ini. Harus  ada cara inovatif untuk menggantikan lahan pertanian yang makin sempit. Lahan peternakan juga tidak mudah ditemukan. Jadi bagaimana solusinya?

Inilah salah satu di antaranya. Kini sedang berkembang sebuah inovasi  untuk membuat daging dari laboratorium.

Percaya atau tidak, Perdana Menteri Inggris Winston Churchill memperkirakan daging yang diproses  di laboratorium akan membantu  memberi makan dunia. Artikelnya ditulis 1931.

Ilmuwan telah berhasil membuat  daging di laboratorium sejak 2013, walaupun masih belum tersedia secara komersial. Sekarang ada sekitar sepuluh perusahaan secara global yang berusaha untuk memproduksi daging lewat laboratorium.

Salah satu perusahaan, JUST, menyatakan daging hasil olahan laboratorium sudah tersedia di piring pada akhir 2018. Namun ahli daging Profesor Robyn Warner dari Universitas Melbourne mengatakan itu tidak mungkin dalam waktu dekat. “Aku rasa kita tidak akan pernah bisa mereplikasi seluruh daging meskipun saya senang jika perkiraan saya salah,” katanya dikutip dari ABCNews.

“Saat ini kita dapat mereplikasi produk daging giling, seperti hamburger, tetapi daging adalah struktur kompleks yang terdiri dari sel-sel otot, pembuluh darah dan sel-sel lemak, dan rasa daging berasal dari 750 senyawa,” katanya.

Sebagian besar produk daging hasil rekayasa (cultured meat) terbuat dari serat otot saja, bukan lemak atau sel darah. Mereka kemudian mengandalkan pewarna dan rasa untuk membuatnya lebih bervariasi dalam rasa dan penampilan.

Maret 2018,  sebuah kelompok lobi internasional yang disebut Cellular Agriculture Society telah berdiri untuk memperkenalkan pertanian gaya baru yang disebut Cellular Agriculture. Ini adalah cabang ilmu yang menggabungkan biologi dan rekayasa. Mereka fokus mengembangkan memproduksi hasil pertanian dengan menggunakan kultur jaringan.

CEO dan pendirinya, Kristopher Gasteratos, mengatakan bahwa start-up daging hasil rekayasa yang ia kerjakan berusaha mengatasi masalah-masalah yang masih dihadapi saat ini.

“Pada saat daging rekayasa dikomersilkan, setidaknya lemak dan jaringan ikat akan ada di sana. Saya pikir perusahaan tahu ini menjadi masalah penting dalam biomimicry (meniru makhluk hidup sebagai model perancangan),” katanya.

Mr Gasteratos mengatakan daging  yang direkayasa di laboratorium adalah revolusi pertanian kedua.

Nantinya para vegetarian bersama  orang-orang yang hanya makan daging hasil rekayasa akan memiliki julukan sendiri  yakni “Neomnivores”.

Super Mahal

Associate Professor Jason White dari University of Melbourne telah membuat daging yang dikembangkan di  laboratorium dalam skala kecil, untuk tujuan penelitian, dan mengatakan masalahnya adalah bagaimana produk ini bisa diproduksi secara massal.

Prosesnya sangat sederhana di lingkungan laboratorium saja, tetapi tantangan bagi perusahaan daging adalah menjualnya ke pasar secara komersial, untuk menyediakan pakan bagi orang-orang.

Biaya adalah tantangannya. Lab pertama yang membuat daging  yang dibuat oleh ilmuwan Belanda, Mark Post tahun 2013, membutuhkan biaya sekitar $ AU400.000 atau Rp4,2 miliar untuk diproduksi.

Startup Silicon Valley, Memphis Meats, yang tahun lalu mengklaim telah membuat daging bebek dan ayam dari sel induk, mengatakan bisa menurunkan  biaya hanya $ AU6.000 untuk membuat 1 kilogram daging atau Rp6, 3 juta.

Mr Gasteratos mengatakan yakin beberapa orang akan siap untuk membayar harga tinggi untuk daging ini dalam jangka pendek, hingga produk ini bisa diproduksi massal dengan harga terjangkau.

“Tahun 2020 kita bisa membayangkan toko tertentu akan menjual daging rekayasa ini dengan harga tinggi. Tetapi jika kita berbicara pasar massal, ini pasti akan lebih dekat ke 2025,” ujarnya.

Salah satu alasan harganya sangat tinggi adalah karena campuran nutrisi yang dipelihara sel induk dalam proses pertumbuhan memang mahal.

Campuran mengandung serum yang dikenal sebagai Fetal Bovine Serum (FBS), yang terbuat dari darah anak sapi yang belum lahir. Janin meninggal dalam proses ekstraksi.

Ada versi sintetis yang terbuat dari tumbuhan, tetapi FBS lebih produktif karena dapat digunakan untuk menumbuhkan hampir semua sel.

Artinya untuk saat ini, membuat daging di laboratorium tidak hanya mahal, tetapi juga ironisnya masih melibatkan pembunuhan binatang juga.

“Kami berharap untuk melihat  daging rekayasa pertama Australia tahun ini, 2018, dan kami sangat bersemangat untuk mendukung usaha itu,” kata Thomas King, CEO Food Frontier.

Food Frontier didanai oleh filantropis, yang yakin daging hasil olahan laboratorium akan membantu lingkungan, dengan mengurangi jumlah lahan pertanian, dan memotong emisi metana dari peternakan.

CSIRO mengatakan peternakan menyumbang  hingga 18 persen dari emisi gas rumah kaca global, sementara Organisasi Pangan dan Pertanian PBB mengatakan pertanian memakai 70 persen air tawar global.

Sebuah studi oleh Universitas Oxford menyatakan industri daging rekayasa dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca hingga 96 persen lebih rendah, 96 persen lebih sedikit air dan antara 7 dan 45 persen lebih sedikit energi.

“Jika kita dapat menawarkan kepuasan yang sama dengan makan produk daging, dan jenis manfaat gizi yang sama, dan merasa senang karena itu baik untuk dunia, mengapa orang tidak memilih pilihan itu?” kata King.

Namun, beberapa ahli mengatakan industri daging hasil laboratorium secara komersial bisa memiliki dampak negatif yang tidak diketahui.

“Ini akan menjadi proses intensif energi hanya dari peralatan yang akan dibutuhkan dan produksi campuran nutrisi tersebut, lebih dari pertanian ternak tradisional,” kata Profesor White.

Kristopher Gasteratos membantah itu. Ia menyatakan alasan itu adalah skenario biaya-versus-manfaat, “jadi bahkan jika itu lebih intensif energi, bagaimana dengan pengurangan air, pengurangan tanah, lebih sedikit hewan yang terbunuh?” katanya.

“Tidak ada teknologi atau ide revolusioner yang sempurna, tetapi menemukan satu masalah bukanlah alasan untuk membuang sesuatu secara konseptual.”

Tahun lalu, miliarder kapitalis ventura seperti pendiri Microsoft Bill Gates, dan Virgin Richard Branson, menginvestasikan dana ke Memphis Meats yang besarnya tidak diungkapkan.

“Sederhananya, tidak ada cara untuk menghasilkan daging yang cukup untuk 9 miliar orang (pada tahun 2050). Namun kita tidak dapat meminta semua orang untuk menjadi vegetarian. Itulah mengapa kita membutuhkan lebih banyak pilihan untuk memproduksi daging tanpa menghabiskan sumber daya kita,” tulis Bill Gates dalam  blognya.

Konglomerat pertanian internasional Cargill Inc juga berinvestasi di Memphis Meats, dan awal tahun ini, salah satu produsen daging sapi terbesar di Amerika, Tyson Foods, juga mulai beraksi.

“Saya pikir sangat menarik melihat raksasa daging seperti Cargills dan Tyson berinvestasi dalam teknologi daging nabati dan bersih,” kata King.

Mereka menyadari bahwa tidak mungkin memberi makan dunia hanya dengan menggunakan ternak dalam beberapa dekade mendatang.

Meningkatnya permintaan untuk alternatif daging nabati yang sudah tersedia secara komersial memberi kepercayaan kepada industri daging rekayasa.

Perusahaan-perusahaan seperti Silicon Valley Start-up Impossible Foods telah mampu memproduksi burger nabati yang mengeluarkan darah palsu yang berwarna coklat ketika dimasak.

Dean Epps, manajer di Life Health Foods (produsen terbesar alternatif daging di Australia) – mengatakan permintaan untuk produk seperti itu di Australia juga meningkat.

Sementara 11 persen orang Australia tidak makan daging, Mr Epps mengatakan dia yakin permintaan itu berasal dari pemakan daging tradisional yang ingin mengurangi asupan hewan mereka.

“Ada pasar besar di sana. Jadi kami pikir sekitar 40 persen dari komunitas Australia secara aktif mengurangi daging mereka, ” katanya.

Di AS, penelitian terbaru menunjukkan 60 persen orang Amerika mengurangi asupan daging mereka, bahkan jika mereka tidak sepenuhnya vegetarian.