Memenangkan Mahathir, Cara Rakyat Menghukum Pemerintah

Category: Berita -> POLITIK & HUKUM | Posted date: 2018-05-11 14:24:11 | Updated date: 2018-05-11 02:43:48 | Posted by: Asro Rokan


Ceknricek.com - PILIHAN UMUM RAYA (PRU) ke-14 Malaysia berlangsung dramatis. Barisan Nasional (BN) yang dipimpin United Malays National Organization (UMNO), koalisi yang berkuasa 60 tahun tanpa putus, runtuh oleh veterannya, Mahathir Muhammad, yang telah



Catatan Asro Kamal Rokan

Ceknricek.com - PILIHAN UMUM RAYA (PRU) ke-14 Malaysia berlangsung dramatis. Barisan Nasional (BN) yang dipimpin United Malays National Organization (UMNO), koalisi yang berkuasa 60 tahun tanpa putus, runtuh oleh veterannya, Mahathir Muhammad, yang telah berusia 92 tahun. 

Mahathir Mohammad — mantan Perdana Menteri selama 22 tahun (1981-2003) — berhasil merobohkan tiang terakhir penyanggah rumah tua BN dalam pemilu, Rabu (9/5). Rumah ini sudah lapuk sejak beberapa pilihan raya sebelumnya. Pada pilihan raya tahun 2008, BN kehilangan 58 kursi di parlemen, pindah ke riivalnya, Pakatan Rakyat yang mendapatkan total 82 kursi. BN hanya memperoleh 140 kursi (50,27%).

Bahkan, kursi PM Abdullah Badawi di Kuala Lumpur juga lepas. BN kehilangan kekuasaan di Kelantan, Pulau Pinang, Kedah, Perak, dan Selangor. Saya hadir dan menyaksikan suasa tegang Najib Razak di Pekan. Wawancara yang sudah dijadwal, dibatalkan. Isu utama oposisi Pakatan Rakyat, saat itu soal pendholiman terhadap Anwar Ibrahim, yang dipenjara atas tuduhan sodomi justru masa Mahathir menjadi PM.

Pada pilihan raya berikutnya, 2013, setelah Abdullah Badawi diganti Nojib Razak sebagai PM dan ketua koalisi BN, rumah BN semakin mendekati roboh tanpa ada upaya serius memperbaikinya. Tujuh kursi BN berpindah ke Pakatan Rakyat (PR) yang dipimpin istri Abwar Ibrahim, Wan Azizah Wan Ismail. BN hanya mendapatkan 133 kursi, sedangkan PR meraih 89 kursi. Isu Anwar Ibrahim kembali jadi bahan kempanye, selain tuduhan kepada Najib dalam kasus tewasnya model asal Mongolia, Altantuya Shaariibuu.

Kini, pada pilihan raya 2018, rumah BN benar-benar roboh. BN hanya meraih 79 kursi, sedangkan Pakatan Harapan (sebelumnya Pakatan Rakyat) meraih 121 kursi. Sebanyak 22 kursi lainnya diperoleh partai non-koalisi. Kehadiran Mahathir — yang dahulu bermusuhan dengan Anwar — cukup memberi pengaruh tumbangnya BN. Mahathir ibarat pembawa kampak terakhir merubuhkan rumah lapuk BN.

****

MENURUNNYA raihan suara BN pada dua pemilu sebelumnya, tidak membuat koalisi ini memperbaiki diri. Pada dua pemilu sebelumnya, pemilih Melayu, terutama perkotaan, sudah bergeser ke Partai Keadilan Rakyat (PKR) yang didirikan Anwar Ibrahim dan Partai Islam PAS— keduanya bergabung dalam Pakatan Rakyat. Sedangkan pemilih etnis China yang semula memilih Malaysian Chinese Association (MCA) yang bergabung dengan BN, mulai pindah ke Democratic Action Party, yang bergabung dengan PH. Kasus-kasus korupsi semakin merebak dan kepercayaan rendah kepada pejabat partai.

BN terlalu percaya diri dan tidak ada upaya serius merawat kepercayaan rakyat. Kasus korupsi 1Malaysia Development Berhad (1MDB) semakin meruntuhkan kepercayaan rakyat, yang sudah menipis pada dua pemilu sebelumnya.

1MDB adalah perusahaan negara, yang berupaya menarik investasi dan menanamkannya sektor minyak, pembangkit listrik, dan pembelian tanah. Utang 1MDB ditaksir Rp 141 triliyun. New York Times maupun Wall Street Journal, menyebutkan aliran dana 1MDB masuk ke rekening Najib Razak sekitar Rp 8,2 triliyun. Najib membantah. Namun tidak menjelaskan dana yang masuk ke rekeningnya.

Kasus 1MDB ini menjadi peluru menusuk BN. Kepercayaan rakyat semakin jatuh. Apalagi menjelang pilihan raya, Najib mengeluarkan undang-undang anti-berita palsu dengan ancama hukuman enam tahun. Anti-Fake News Act ini diduga untuk menghentikan isu korupsi 1MDB.

Persoalan lain, yang jadi sorotan Mahathir adalah investasi China, membanjirnya pekerja kasar China, dan kedaulatan negara. Dalam rekaman video yang viral, Mahathir geram dengan proyek kawasan industri Malaysia-China Kuantan Industrial Park (MCKIP). Proyek ini, menurut Mahatir, lebih terlihat sebagai milik China daripada kerja sama dengan Malaysia, karena peralatan dan pekerja semua dari China.

Kekhawatiran atas investasi China membangun infrastruktur semakin meningkat di Malaysia, setelah berbagai persoalan terjadi di Srilanka maupun negara-negara Afrika. Jika menang, Mahathir dan Pakatan berjanji akan mengevaluasi kerja sama investasi dengan China dan mengubah kesepakatan yang telah dilakukan pemerintah sebelumnya. Laporan bulan lalu menyatakan, Malaysia mendapat proyek-proyek infrastruktur senilai 34,2 miliar dolar AS (sekitar Rp481,3 triliun), terbesar di Asia.

Pemerintahan Najib semakin tidak populer. Biaya hidup rakyat semakin berat, setelah pemerintah menetapkan pajak barang dan jasa (GST) sebesar 6% pada April 2015 lalu. Pakatan Harapan menyorot tajam soal ini dan akan mengubah kebijakan GST. Pemerintah telah membantah isu GST akan dinaikkan jika BN menang, namun rakyat sudah tidak percaya. Begitu juga soal pertumbuhan ekonomi. Meski pada 2017 pertumbuhan naik menjadi 5,9 % dari 4,2% pada tahun sebelumnya, tetap tidak cukup kuat mengangkat populeritas Najib.

Beratnya beban hidup, kasus-kasus korupsi, oligarki, dan investasi China menjadi titik api kemarahan rakyat. Warga Melayu yang menjadi pendukung utama, tidak lagi mempercayai UMNO. Mereka memilih Mahathir untuk perubahan kehidupan lebih baik. Barisan Nasional yang berkuasa selama 60 tahun, akhirnya tumbang. Rakyat yang diam (silent majority) muak dan bosan pada pemerintah. Mereka memutuskan menghukum dengan cara sangat dramatis: Meninggalkannya!