Trump Dan Akibatnya Ke Indonesia

Category: Berita -> POLITIK & HUKUM | Posted date: 2018-05-11 14:29:08 | Updated date: | Posted by: Eddy Herwanto


Ceknricek.com - Tidak ada yang keliru dengan kebijakan Presiden Amerika Donald Trump melindungi industri dan lapangan kerja rakyatnya. Trump menggunakan instrumen tarip untuk membatasi masuknya sejumlah produk impor, terutama baja dan alumunium, termasuk



Ceknricek.com - Tidak ada yang keliru dengan kebijakan Presiden Amerika Donald Trump melindungi industri dan lapangan kerja rakyatnya. Trump menggunakan instrumen tarip untuk membatasi masuknya sejumlah produk impor, terutama baja dan alumunium, termasuk produk dari Cina dengan mengenakan bea masuk lebih tinggi, yakni 25%. Pengenaan bea masuk tambahan itu akan menyebabkan produk impor dari Cina jadi lebih mahal; sehingga diperkirakan bisa mengurangi tekanan harga atas produk baja dan alumunium Amerika.

Jika industri manufaktur Amerika sehat maka mereka diharapkan bisa mengembangkan usahanya, dan menciptakan lapangan kerja baru bagi rakyat Amerika. Inilah tujuan utama Trump yang dianggap nasionalis untuk melindungi industri dan lapangan kerja rakyatnya – seperti dijanjikannya dalam kampanye pilpres melawan Hilary Clinton. Trump menganggap perlu melakukan langkah itu setelah dalam sepuluh tahun terakhir sejumlah industri baja Amerika terjungkal, dan kemudian diambilalih perusahaan Cina.

Akibatnya pengangguran melonjak. Lapangan kerja juga makin banyak dibutuhkan setelah Amerika dibanjiri pengungsi dari Afrika dan Timur Tengah serta imigran gelap dari Amerika Latin. Trump juga menekan pabrikan yang membuat produk Amerika seperti gawai merk Apple agar memindahkan unit perakitan mereka ke Amerika; jika tidak produk rakitan mereka akan dikenai bea masuk tinggi. Foxcon yang sebagian besar merakit gawai Apple di Cina kemudian memindahkan sebagian fasilitas produksinya ke Amerika. Dengan begitu, selain akan menyumbang Pajak Penghasilan, pendirian pabrik juga akan menciptakan ribuan lapangan kerja.

Bagi Indonesia keputusan Trump itu bisa menjadi peluang untuk memperluas pasar teksil, pakaian jadi, alas kaki, atau minyak kelapa sawit ke pasar Amerika. Tapi di sisi lain ada ancaman Cina akan mengalihkan produk manufaktur seperti baja, aluminium,, dan mesin perkakasnya ke pasar Indonesia. Impor besi beton dari Cina, misalnya, dalam beberapa tahun terakhir terus menanjak volume dan impornya karena lebih murah dibandingkan produk sejenis produksi Krakatau Steel. Kebutuhan akan besi beton itu sangat besar mengingat pemerintah Indonesia sedang menggenjot banyak proyek infrastruktur. Cina juga memasukkan besi beton itu ke sejumlah investasinya di sini seperti pabrik nikel di Sulawesi atau kereta cepat Jakarta-Bandung.

Produsen baja dan alumunium Cina rasanya tidak akan kecil hati menghadapi keputusan Trump. Maklum ekspornya ke Cina sangat beragam: alas kaki, pakaian jadi, barang elektronik, mesin cuci hingga panel energi surya. Akibatnya Amerika menderita defisit perdagangan yang makin parah. Bila tahun 2016 defisitnya baru US$ 347 milyar maka tahun 2017 melambung ke angka US$ 375,2 milyar. Secara keseluruhan defisit perdagangan Amerika dengan mitra dagangnya mencapai US$ 566 milyar tahun lalu atau naik 12,2 %  di atas defisit perdagangan pada 2016 – defisit terbesar sejak 2008. Kuat dugaan derasnya barang impor terjadi sebagai akibat dari menguatnya dolar Amerika sehingga mendorong konsumsi rumah tangga orang Amerika melonjak karena barang impor terasa murah harganya (NYTimes.Com).

Bukan hanya dengan Cina, Amerika juga berusaha memperkecil defisit dengan sejumlah mitra dagang lainnya. Ekspor minyak kelapa sawit Indonesia terancam kena bea masuk tambahan cukup tinggi, alasan yang dicari adalah karena eksportir Indonesia merusak hutan untuk tanaman sawit tanpa berusaha memelihara kelangsungan kehidupan hayati di sana. Alasan yang benar, bea masuk tambahan itu sesungguhnya dilakukan untuk melindungi industri minyak berbahan baku kedelai dan bunga matahari lokal Amerika. Minyak nabati Amerika itu kalah bersaing dengan crude palm oil (CPO) Indonesia.

Di Uni Eropa, India, dan Pakistan ekspor CPO dan turunannya juga menghadapi tekanan ancaman bea masuk tambahan. Padahal ekspor CPO dan turunannya menjadi salah satu motor surplus perdagangan luar negeri Indonesia – selain batu bara. Cina menjadi pembeli terbesar CPO sehingga ekspor kita secara keseluruhan mencapai US$ 23 milyar sementara impor dari Cina tercatat US$ 35,767 milyar pada 2017. Dengan demikian defisit kita pada 2017 dengan Cina US$ 12,767 milyar, menurun angkanya dibandingkan defisit 2016 yang tercatat US$ 14 milyar, angkanya hampir sama dengan defisit tahun 2015 (Kemendag.go.id)

Sebagai motor pertumbuhan ekspor, tahun 2017 total ekspor minyak sawit dan turunanya mencapai 31,05 juta ton (US$ 22,97 milyar) naik 23% di atas angka 2016 yang tercatat 25,11 juta ton (US$ 18,22 milyar). Kenaikan nilai ekspor yang mencapai 26% itu terjadi terutama karena harga ekspor minyak sawit pada tahun lalu lebih baik dibandingkan 2016. Cina, India, Pakistan, dan Uni Eropa menjadi pembeli utama minyak sawit Indonesia.

Jadi pertanyaan tentu, jika surplus perdagangan Cina dengan Amerika merosot akibat barang manufakturnya dikenai bea masuk tambahan, apakah kemampuan Cina membeli minyak sawit kemudian batu bara dari Indonesia akan mengendur? Apalagi pertumbuhan ekonomi Cina diramalkan sulit mencapai 7% tahun ini. Sebagai salah satu konsumen batu bara terbesar, di samping India, Cina telah memangkas produksi batu bara lokalnya. Ini dilakukan setelah banyak perusahaan tambang batu bara kesulitan mengangsur utangnya ke bank akibat harganya pernah jeblok hingga US$ 50 per ton beberapa tahun lalu. Akibatnya nonperforming loan (NPL) perbankan di sektor itu naik.

Sekarang harga batu bara acuan (HBA) Indonesia sudah melampaui US$ 110/ton. Sejauh ini Cina belum mengendurkan impor batu baranya dari Indonesia. Sebagai konsumen terbesar batu Cina akan menentukan arah pergerakan harganya. Ekonomi Cina mungkin akan melakukan konsolidasi setelah Trump menggunakan instrumen tarip untuk menekan surplus perdagangan Cina dengan Amerika. Kita berharap, konsolidasi ekonomi Cina itu tidak menyebabkan Cina kemudian membanjiri Indonesia dengan baja dan produk turunannya ke Indonesia.

Kebijakan Trump memang tidak keliru. Tapi jika kita lengah mengantisipasi perubahan kebijakan perdagangan luar negeri Amerika dan Cina kemudian, maka kita akan keliru membaca perubahan itu.