Sempat Bikin Panik, Merapi Ternyata Hanya Sembur Air

Category: Berita -> SOSIAL BUDAYA | Posted date: 2018-05-11 16:03:43 | Updated date: 2018-05-17 02:42:42 | Posted by: Rihat Wiranto


Ceknricek.com - Perilaku Gunung Merapi, di Yogyakarta, sulit diduga. Gunung yang berkali-kali meletus itu mendadak menghembuskan kolom setinggi lebih dari lima kilometer ke angkasa, Jumat, 11 Mei 2018 pukul 7:40 WIB.



Ceknricek.com - Perilaku Gunung Merapi, di Yogyakarta, sulit diduga. Gunung yang berkali-kali meletus itu mendadak menghembuskan kolom setinggi lebih dari lima kilometer ke angkasa, Jumat, 11 Mei 2018 pukul 7:40 WIB. 

Warga yang melihatnya tentu kaget karena tak ada tanda-tanda akan meletus. Mereka masih ingat letusan 2010 yang membawa banyak korban. Awan panas atau wedus gembel adalah yang paling ditakutkan jika Merapi meletus. 

Warga agak tenang karena semburan ke langit hanya  5 menit. Setelah itu, gunung anteng lagi seperti tertidur. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral   menjelaskan kepada media, bahwa luncuran ke angkasa itu ternyata air semata. 

Letusan ini bersifat freatik artinya tanpa tanda-tanda terlebih dulu, misalnya dengan gempa berkali-kali. Letusan freatik ini terjadi karena air yang terperangkap dan memanas tiba-tiba sekitar pukul 06.00 pagi. Lalu air  menyembur sekuat tenaga ke langit akibat tekanan begitu kuat dan tak bisa ditahan lagi. Usai meletus, suhu kawah gunung menurun, Merapi pun tenang lagi. 

Meski sebagian besar semburan berupa air,  tentu saja uap itu mengangkut berbagai partikel yang  terbawa ke langit. Itulah sebabnya, abu vulkanik juga ikut beterbangan ke angkasa yang mengotori daerah sekitarnya. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah DIY menyatakan sebaran abu  mencapai Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta hingga ke Kabupaten Bantul. "Abu vulkanik terbawa hingga ke Kabupaten Bantul. Ini disebabkan angin mengarah ke selatan," 

kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Birawa Yuswantana kepada wartawan. "Ini adalah letusan di permukaan, bukan letusan magmatis sehingga material yang terbawa sebagian besar adalah debu halus.”

Warga yang berada di radius lima kilometer dari puncak Gunung Merapi sempat mengungsi, namun sebagian besar sudah kembali ke rumah. "Dari laporan terakhir, masih ada sekitar 190 warga Purwobinangun yang berada di pengungsian," katanya.

Sebanyak 160 pendaki juga sudah turun gunung.  Samsusi, salah satu anggota tim SAR Barameru, Desa Lencoh Selo, Boyolali, menyatakan sekitar 160 pendaki sedang melakukan pendakian ke puncak melalui Desa Lencoh  saat kejadian Gunung Merapi tersebut. "Ada sekitar 50 pendaki berada di Pasar Bubrah atau puncak sebelah utara, dan kini mereka turun dari tempat itu." 

Bandara Ditutup Sementara 

Bandara Adisutjipto Yogyakarta ditutup 10.42 WIB hingga 11.10 WIB dan diperpanjang hingga 11.40. Terdapat 9 penerbangan tertunda, yakni tujuh penerbangan keluar Bandara Adisutjipto dan satu  penerbangan yang tertunda berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, dan satu penerbangan batal mendarat ke Bandara Adisutjipto. 

Tujuan tujuh penerbangan keluar Yogyakarta yaitu Singapura, Pontianak, Pekanbaru, Palembang, Surabaya, Jakarta (Cengkareng)  dua penerbangan. Sedangkan satu penerbangan yang batal mendarat dan kembali ke bandara asal yaitu pernerbangan Batik Air dari Halim Perdanakusuma Jakarta.

Tidak Ada Korban 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan belum ada laporan korban jiwa akibat letusan  Merapi. "BPBD dan aparat masih melakukan pemantauan," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan pers. 

BPBD Sleman telah menginstruksikan masyarakat yang tinggal dalam radius lima kilometer seperti daerah Kinahrejo  untuk turun ke bawah di barak pengungsi. Masyarakat merespon dengan evakuasi mandiri ke tempat yang aman. Para pendaki gunung Merapi juga telah diimbau mengikuti rekomendasi dan tidak memaksakan diri mendekati puncak kawah.