Di Bandung Ada Jalan Majapahit, Sunda-Jawa Tambah Akur

Category: Pengetahuan -> SEJARAH & BIOGRAFI | Posted date: 2018-05-11 18:38:35 | Updated date: 2018-05-11 06:52:25 | Posted by: Rihat Wiranto


Ceknricek.com - Sudah menjadi perbincangan sehari-hari, orang Jawa dan Sunda tidak masalah saat bersahabat. Tapi banyak orang Jawa tak mau punya pasangan Sunda. Ada apa? Diam-diam ada sebuah garis tak nyata yang memisahkan suku Jawa dan Sunda. Maka, sudah



Ceknricek.com - Sudah menjadi perbincangan sehari-hari, orang Jawa dan Sunda tidak masalah saat bersahabat. Tapi banyak orang Jawa tak mau punya pasangan Sunda. Ada apa? Diam-diam ada sebuah garis tak nyata yang memisahkan suku Jawa dan Sunda. Maka, sudah begitu lama di Jawa Barat tidak ada nama jalan yang diambil dari raja dari suku Jawa.

Tapi kini, sekarang sudah berakhir. Pemerintah Provinsi Jawa Barat akhirnya meresmikan Jalan Majapahit, Jalan Prabu Hayam Wuruk dan Jalan Citaresmi, sebagai bagian dari rekonsiliasi budaya Sunda-Jawa.  Tiga nama jalan itu diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan Wagub DI Yogyakarta Paku Alam X di sela-sela kegiatan Harmoni Budaya Jawa-Sunda di halaman Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung.

Tiga jalan di Kota Bandung yang namanya diubah adalah Jalan Pusdai menjadi Jalan Citraresmi, Jalan Gasibu menjadi Jalan Majapahit, dan Jalan Cimandiri menjadi Jalan Hayam Wuruk."Kita juga mengubah Jalan Pusdai jadi Jalan Citraresmi atau yang lebih kita kenal Dyah Pitaloka. Dulu Citraresmi mau dipersunting Hayam Wuruk," kata Ahmad Heryawan, Jumat (11/5).

Wakil Gubernur DI Yogyakarta Sri Paduka Paku Alam X mewakili Sri Sultan Hamengku Buwono X, menyambut baik pengubahan nama jalan ini yang disebutnya sebagai titik balik rekonsiliasi budaya Sunda-Jawa. "Terdapat nilai penting, yakni meningkatkan promosi wisata tiga provinsi. Serta menumbuhkan nilai adat, seni dan budaya," kata dia.

Di tempat yang sama, Gubernur Jatim Soekarwo menilai Harmoni Budaya Jawa-Sunda akan menyelesaikan masalah Perang Bubat yang terjadi 661 tahun lalu.Kata dia, kala itu Belanda sebagai penjajah menggunakan sejarah sebagai sarana politik "adu domba" untuk memecah belah Sunda dan Jawa.

Oktober 2017, DI Yogyakarta memberi nama jalan dengan Raja Sunda. Simpang tiga Jombor sampai simpang tiga Maguwoharjo (10 kilometer) bernama Jalan Padjajaran. Sementara Simpang empat Pelem Gurih sampai Jombor (5,8 kilometer) merupakan Jalan Siliwangi.

Sultan HB X, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, meresmikan nama baru tersebut pada  Selasa, 3 Oktober 2017.

Perang Bubat

Perang Bubat terjadi pada tahun 1279 Saka atau 1357 M pada abad ke-14, yaitu pada masa pemerintahan raja Majapahit Hayam Wuruk. Perang terjadi akibat perselisihan antara Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat, yang mengakibatkan tewasnya seluruh rombongan Sunda. Sumber-sumber rujukan tertua mengenai adanya perang ini terutama adalah Serat Pararaton serta Kidung Sunda dan Kidung Sundayana yang berasal dari Bali.

Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Linggabuana, para menteri, pejabat kerajaan beserta segenap keluarga kerajaan Sunda. Raja Sunda beserta segenap pejabat kerajaan Sunda dapat didatangkan di Majapahit dan binasa di lapangan Bubat. Peristiwa ini menjadi pangkal perselisihan terpendam di antara dua suku terbesar di pulau Jawa ini.