Pengamat Politik Malaysia: Rakyat Marah pada Barisan Nasional

Category: Berita -> POLITIK & HUKUM | Posted date: 2018-05-11 18:57:57 | Updated date: | Posted by: Asro Rokan


Ceknricek.com - Pengamat politik dan kolumnis Malaysia, Tan Sri Johan Jaaffar menyatakan, hasil Pilihan Raya Umum (PRU) ke-14 sangat mengejutkan. Gelombang perubahan memang sudah diduga, namun tidak ada yang menduga menjadi “tsunami”.



Ceknricek.com - Pengamat politik dan kolumnis Malaysia, Tan Sri Johan Jaaffar menyatakan, hasil Pilihan Raya Umum (PRU) ke-14 sangat mengejutkan. Gelombang perubahan memang sudah diduga, namun tidak ada yang menduga menjadi “tsunami”.

“Hal ini tidak pernah dibayangkan oleh sesiapa pun. Selama ini dalam sejarah politik Malaysia, selalunya terjadi "perubahan" namun berjalan normal, tanpa banyak goncangan,  apalagi revolusi. Kini berbeda sekali,” ujar Johan kepada ceknricek.com, Kamis (10/5).

Menurut kolumnis di harian berbahasa Inggris The Star ini, rakyat Malaysia pada umumnya marah dan menolak partai UMNO dan Barisan Nasional (BN), dengan cara yang begitu dramatik. “Terbukti rakyat Malaysia menolak politik perkauman dan budaya patronase yang dilakukan UMNO dan BN selama ini,” katanya.

Partai United Malays National Organization (UMNO) motor utama koalisi pemerintah Barisan Nasional (BN) yang berkuasa selama 61 tahun, kalah atas koalisi oposisi Pakatan Harapan (PH) yang dipimpin Mahathir Mohammad. PH meraih 121 kursi parlemen, dengan rincian 104 kursi Partai Keadilan Rakyat (PKR), DAP 9 kursi, dan Warisan 8 kursi. Sedangkan BN meraih 79 kursi. Kursi lain diraih partai non-koalisi, yakni PAS 18 kursi, Bebas (3), dan Solidariti (1). Total 222 kursi.

Menurut Johan, kemarahan rakyat terhadap UMNO dan BN menimbulkan "people's power" bagi Malaysia. Ini antara lain karena kasus korupsi 1Malaysia Development Berhad (1MDB), yang diduga melibatkan Najib. “Datuk Seri Najib yang gagal menjelaskan mengapa dia tidak berkata benar dalam isu 1MDB,” kata Johan.

1MDB adalah perusahaan negara untuk mendatangkan investasi asing. Sejumlah proyek besar dibangun 1MDB. Surat kabar AS, Wall Street Journal, melaporkan ada aliran dana sekitar 700 dolar AS masuk ke rekening pribadi Najib. Kasus ini pun sudah diadili di pengadilan AS. Jaksa Agung AS menyita aset 1MDB senilai lebih dari USD1 miliar di AS.

Selain kasus korupsi 1MDB, kemarahan lain rakyat adalah pajak sangat tinggi. Soal pajak ini, menurut Johan, merupakan yang paling tidak popular dalam sejarah Malaysia. Najib melaksanakannya pada tahun 2015 dengan kadar 6% dan rakyat melihatnya sebagai punca kenaikan harga barang yang sudah tinggi. “Rakyat amat kecewa dengan kadar kenaikan harga barang yang menurunkan kualitas hidup mereka,” lanjut Johan.

Mengenai UMNO, Johan mengatakan, partai yang berkuasa 61 tahun ini gagal bertadabtasi dan menyesuaikan diri dengan situasi abad ke-21. “Partai tua, seperti Partai Konservatif (Inggris), Partai Kongres (India), dan LDP (Jepang), pernah jatuh dan bangun. Tetapi UMNO tidak pernah merasa jatuh,” ujarnya.

Johan yang dikenal wartawan senior Malaysia itu berpandangan, keputusan rakyat pada pemilu 9 Mei, merupakan titik tolak baru bagi politik Malaysia. Ini ambang perubahan besar maknanya bagi memulihkan keyakinan rakyat pada kempimpinan negara. “Ibarat cahaya baru yang menyelinap di antara awan segar, ia menjadi permulaan pada satu era yang pastinya lebih terbuka dan adil,” katanya.

Dari perubahan ini, Johan berharap pemerintahan Mahathir memberikan perhatian khusus soal kebebasan bersuara dan kebebasan media. Media yang terbuka dan bebas diperlukan bagi menjamin demokrasi yang sehat. “Saya berharap semua akta dan peruntukan undang-undang yang mengekang kebebasan media harus dibatalkan.

“Di antara akta yang perlu dibatalkan itu adala Akta Hasutan, Akta Cetak dan Penerbitan, Akta Komunikasi dan Multimedia, Akta Resmi Rahsia, dan yang terbaru Anti-Fake News Act,” desak Johan.