Jokowi: Evaluasi, Koreksi, Jangan Terulang Lagi

Category: Berita -> POLITIK & HUKUM | Posted date: 2018-05-12 12:07:43 | Updated date: 2018-05-16 03:39:33 | Posted by: Rihat Wiranto


Ceknricek.com - Penyanderaan di Mako Brimob menyadarkan kita semua termasuk Presiden Joko Widodo bahwa ada yang tidak berjalan semestinya terkait penanganan terpidana terorism



Ceknricek.com - Penyanderaan di Mako Brimob menyadarkan kita semua termasuk Presiden Joko Widodo bahwa ada yang tidak berjalan semestinya terkait penanganan terpidana terorisme.

Sampai-sampai Presiden Joko Widodo memerintahkan untuk melakukan evaluasi total penanganan narapidana dalam perkara terorisme.  Ia tidak ingin kerusuhan seperti yang terjadi di rumah tahanan Markas Komando (Mako) Brimob di Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, terjadi lagi.

Presiden sendiri tidak mengadakan konferensi pers khusus membahas soal ini. Ia menyatakan pindatoanya itu usai bermain bola basket bersama para atlet pelajar peserta Dream Basketball League (DBL) di halaman belakang Istana Bogor, Sabtu (12/5).

"Ya harus ada evaluasi total, harus ada koreksi, baik mengenai penjaranya, apakah perlu di markas atau di luar markas,” kata Presiden kepada wartawan.

Ia juga meminta evaluasi apakah pemeriksaan di  Mako tepat atau tidak. “Itu akan menjadi sebuah evaluasi untuk Polri agar kejadian itu tidak terulang kembali," katanya.

Kepala Polri Jenderal Polisi Tito Karnavian sebelumnya juga mengemukakan akan mengevaluasi kelayakan Rumah Tahanan Mako Brimob Kelapa Dua untuk menampung narapidana kasus terorisme.

"Evaluasi kami memang Rutan Mako Brimob tidak layak jadi rutan teroris. Kenapa? Karena bukan maximum security," katanya di Depok, Kamis (9/5), menambahkan bahwa rumah tahanan itu sebenarnya dirancang untuk menampung aparat penegak hukum seperti polisi, hakim, dan jaksa yang terlibat tindak pidana.

"Karena mereka ini kan tangkap penjahat, kalau kemudian melakukan pidana dan ditempatkan sama dengan yang lain nantinya mereka bisa jadi korban," kata Tito.

Jadi kenapa terpidana teroris ditahan di sana? Ia menjelaskan sebelumnya Rutan Mako Brimob dipilih untuk menempatkan tahanan kasus terorisme karena berada di dalam kompleks Markas Brimob sehingga diharapkan akan aman.

Sebuah perkiraan yang ternyata salah. Tito sendiri menyadari bahwa itu bukan tempat yang tepat buat tahanan teroris. "Walaupun aman karena berada di dalam Markas Brimob, tahanan terkurung dan tidak bisa kemana-mana, tapi di dalam rutan tidak didesain untuk narapidana terorisme," tutur dia.

Ia juga menyatakan rutan tersebut kelebihan penghuni karena menampung sampai 155 tahanan padahal daya tampungnya maksimal 90 orang.

Tito mengatakan berencana menghubungi Menteri Keuangan Sri Mulyani guna membahas kemungkinan membangun rutan layak untuk narapidana kasus terorisme.

Serangan dari Luar?

Neta S Pane, Ketua Presidium Indonesia Police Watch menyatakan Kamis tengah malam (10/5) Mako Brimob kebobolan lagi. Berdasar info yang diperolehnya, terduga teroris berusia 23 tahun melakukan serangan dari luar. Akibatnya seorang polisi tewas terbunuh dalam serangan itu.

Indonesia Police Watch merasa prihatin dengan peristiwa ini, apalagi terjadi pasca kekacauan di Rutan Brimob yang menyebabkan lima polisi terbunuh. “Jika keamanan anggota polisi di markas komando pasukan elit Polri itu saja tidak bisa terjaga, bagaimana publik bisa percaya bahwa polisi mampu menjaga keamanan masyarakat,” katanya.

Cerita lengkap versi IPW sebagai berikut: Kamis malam 10 Mei 2018 pukul 23.45 dua Intel Brimob melihat tiga lelaki yang mencurigakan di sekitar Mako Brimob.

Sepertinya ketiganya diduga membawa bahan peledak. Kedua Intel Brimob itu, Briptu Norman dan Briptu G pun berusaha membekuk ketiganya. Namun hanya TS yang tertangkap. Sedangkan dua temannya berhasil kabur.

Dengan membawa bahan peledaknya. TS pun lalu dibawa ke kantor Satintelmob di dalam Mako Brimob. Saat diperiksa TS diketahui berusia 23 tahun dan berasal dari Tanjung siang Jabar.

Saat diperiksa TS ijin ke toilet karena lama tak muncul Bripka Marjin Prancis mendatangi toilet. Saat itulah TS melakukan serangan dan menikam anggota Brimob itu bertubi tubi.

Mendengar keributan di toilet teman temannya mendatangi TKP dan berhasil membekuk TS. Sementara Bripka Marhun yang luka parah dibawa ke RS Bhayangkara Brimob. Pukul 02.40 korban meninggal dunia.

Polisi akhirnya mengakui ada kejadian tersebut tapi tidak ada detail kisahnya. "Pada hari Kamis tanggal 10 Mei 2018 pukul 23.45 WIB, di halaman kantor Intelmob, Kelapa Dua, Cimanggis, Depok, telah terjadi penikaman terhadap anggota Intelmob yang dilakukan oleh OTK (orang tak dikenal)," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono, Jumat (11/5/2018).