20 Ribu Kematian Akibat Polusi Pembangkit Listrik Batubara

Category: Pengetahuan -> TEKNOLOGI | Posted date: 2018-05-12 13:43:21 | Updated date: 2018-05-17 04:26:07 | Posted by: Rihat Wiranto


Ceknricek.com - Polusi udara dari pembangkit listrik tenaga batubara di Asia Tenggara telah berkontribusi pada 20.000 kematian dini per tahun. Menurut riset Universitas Harvard dan Greenpeace International, jumlah itu akan meningkat hingga 70 ribu orang,



Ceknricek.com - Polusi udara dari pembangkit listrik tenaga batubara di Asia Tenggara telah berkontribusi pada 20.000 kematian dini per tahun. Menurut riset Universitas Harvard dan Greenpeace International, jumlah itu akan meningkat hingga 70 ribu orang, jika rencana pembangunan PLTU-PLTU baru berjalan. Berbagai penyakit yang ditimbulkannya, antara lain kanker paru-paru, stroke, serta penyakit pernafasan.

"Meningkatnya kembali penggunaan batubara, gas ,dan minyak bumi pada 2017 lalu, tidak hanya menambah emisi CO2 tetapi juga meningkatkan emisi polutan udara beracun, membawa risiko bagi kesehatan masyarakat. Ini harus diatasi segera," ujar Lauri Myllyvirta, ahli polusi udara Greenpeace saat ditemui di Denpasar, Selasa (8/5/2018).

Menurut Luari Myllyvirta, saat ini para pelaku industri fosil sedang berkumpul di Bali. Mereka membangun jaringan dan melakukan kesepakatan-kesepakatan bisnis di sebuah hotel mewah. "Pulau indah yang saat ini sedang menghadapi persoalan serius terkait batubara," ujarnya.

Dia menambahkan, beberapa unsur masyarakat di Celukan Bawang sedang berupaya menentang rencana ekspansi PLTU di daerah itu, yang akan berdampak pada lingkungan serta sumber penghidupan masyarakat sebagai petani dan nelayan.

Selain itu, beberapa hari lalu aktivis Greenpeace Indonesia juga menghalau tongkang-tongkang pengangkut batu bara yang secara ilegal memasuki Taman Nasional Karimunjawa. Riset dan dokumentasi yang dilakukan Greenpeace memperlihatkan betapa praktik ilegal ini merusak terumbu karang dan berdampak pada penghasilan nelayan setempat.

Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Hindun Mulaika mengatakan bahwa kalangan industri batubara berkumpul di Bali untuk menyelamatkan masa depan bisnis mereka, kesehatan dan pencaharian masyarakat Indonesia sedang terancam.

"Negeri ini tidak layak mendapatkan masa depan yang dibangun di atas batubara. Ini saatnya pemerintah berpihak pada masyarakat dan segera beralih ke energi terbarukan," ujarnya.

Dia menambahkan batubara adalah industri yang akan segera berakhir. Tidak hanya kesadaran global akan dampak buruknya, tetapi investor-investor besar mulai enggan menaruh modalnya di sektor ini dalam rangka menghindari risiko aset yang terbengkalai.

Konferensi industri batubara terbesar di Asia yang dihadiri pejabat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ini menunjukkan bahwa pemerintah masih memberikan dukungan yang sangat besar terhadap dominasi batubara, yang sudah jelas terbukti menghasilkan polusi tinggi dan dampak sosial ekonomi terhadap masyarakat setempat.

Batubara telah menjadi sumber energi yang ditinggalkan dan digantikan oleh sumber energi terbarukan di belahan dunia lainnya seperti Amerika dan Eropa. Bahkan negara-negara di Asia TImur seperti China juga telah memanfaatkan tenaga surya dan angin dengan kapasitas yang sangat besar.

Deutsche Bank yang merupakan bank terbesar di Jerman telah menyatakan akan menghentikan mendanai proyek batubara sebagai bagian dari komitmen terhadap Kesepakatan Paris untuk menghentikan dampak perubahan iklim.

Selain itu, badan pendanaan internasional seperti Bank Dunia, Bank Export Import Amerika Serikat, dan Bank Eropa untuk Rekonstruksi dan Pembangunan, juga memutuskan untuk berhenti berinvestasi di pembangkit listrik tenaga Batubara. 

*Antara