Nasib Najib

Category: Pengetahuan -> OPINI | Posted date: 2018-05-13 11:12:56 | Updated date: 2018-05-19 03:02:18 | Posted by: Ilham Bintang


Ceknricek.com - Kurang sebulan sebelum Pilihan Raya ( Pemilu ) Malaysia, saya bertemu Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak. Kami satu meja. Tapi cuma sempat berbincang seadanya. Setting-nya, pada acara Peringatan Hari Wartawan Malaysia, 11 April lalu.



Ceknricek.com - Kurang sebulan sebelum Pilihan Raya (Pemilu) Malaysia, saya bertemu Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak. Kami satu meja. Tapi cuma sempat berbincang seadanya. Settingnya, pada acara Peringatan Hari Wartawan Malaysia, 11 April lalu. Tempatnya di Malaysia Convensyen Center. Acara ini penuh sesak dihadiri lebih 5000 tamu undangan.

Saya dengan PM cuma diseling satu kursi. Duduk memperantarai kami pimpinan Bernama, media pemerintah. Semacam kantor berita Antara di sini.

Najib memang kelihatan capek sekali. Sudah beberapa lama sibuk berkampanye. Seharian itu saja, beberapa acara dia hadiri. Itu sebabnya tokoh yang duduk memperantarai saya dengan PM membisiki. Supaya tidak mewawancari Najib. Jadi perbincangan pun seadanya.

“Pak Ilham orang Makassar?”tanyanya. “Bugis, PM,” sahut saya pendek. “Oo kalau saya ada turunan Makassar,” timpalnya.“ Sama Pak. Satu kampung kita,” kata saya. Dia tertawa lebar.

Selanjutnya saya menyerahkan buku kepada PM. Buku terbaru saya “Jalan-Jalan Ala Ilham Bintang” yang diluncurkan 9 Februari lalu di depan Presiden Jokowi pada Hari Pers Nasional di Padang, Sumatera Barat. Perhatiannya tersedot pada cover buku, berwarna merah balon udara di Cappodocia, Turki.

“Pak Ilham naik ini yah di Turki,” tanyanya. Saya minta izin memotret PM memegang buku itu. Dia pun berpose. Klik. Ini sebenarnya pembuka yang baik untuk melanjutkan mewawancara. Perduli amat sama orang “ kerajaan” sebelah saya. Tapi tokoh itu mengingatkan lagi. Saya sebenarnya protes dalam hati.

Saya bersama beberapa wartawan pengurus PWI Pusat diundang resmi menghadiri rangkaian acara Hari Wartawan Malaysia. Malah diatur waktu khusus bertemu dengan PM pada pagi tanggal 10 April di lapangan Golf. Hari itu jadwal golf Najib.

Dari PWI Pusat saya dengan Asro Kamal Rokan, Hendry Bangun, Agus Sudibyo, Sasongko Tedjo, dan Syamsuddin CH Haesy, tiba di Kuala Lumpur (KL) 10 April. Tapi waktu tibanya berbeda-beda. Saya pagi, teman lain siang, bahkan ada yang tiba baru Maghrib. Buyarlah rencana ketemu di lapangan golf.

Saya sorong pertanyaan ini. “Bagaimana peluang PM dalam Pilihan Raya nanti?, Bagus tolong bantu doakan,” sahutnya cepat.  Penuh keyakinan. Tidak heran. Maklum petahana. Di mana-mana petahana begitu. Lebih merasa kuat.  

Aparat negara militer dan sipil masih di bawah kekuasaan dia. Ribuan relawan yang masih merasakan nikmatnya pemerintahan selalu menghibur duapuluh empat jam. Dengan wajah dan kata manis.

Itu tergambar juga pada ribuan tamu yang memadati gedung tempat peringatan sore itu. Seragam biru bertebaran di mana-mana. Di hampir semua sudut sejak tiba di bandara sampai KL dengan mudah kita menyaksikan dominasi warna biru, warna Barisan Nasional, partai petahana.

Mau lanjut tanya lagi. Tiba- tiba MC mengundang PM naik panggung untuk menyerahkan sejumlah penghargaan. Tengku Rozani Putera, cucu Tengku Abdul Rahman, pendiri Malaysia menerima penghargaan untuk jasa-hasa kakeknya membangun pers Malaysia.

Saya tengah memeriksa catatan pertanyaan yang mau saya ajukan ketika MC memanggil nama saya naik ke panggung. Sempat bingung. Yup. Saya hampir lupa ada amanah menyerahkan cendramata berupa plakat dan beberapa bungkus kopi Indonesia dari PWI Pusat kepada PM.

Semula yang direncanakan naik panggung Sasongko Tedjo, Plt Ketum PWI Pusat. Namun, acara dimulainya telat. Sasongko pun pamit menuju Bandara Sepang memburu pesawat yang akan ditumpangi balik ke Jakarta.

Sudah masuk agenda, saya akan menanyakan tanggapan Najib soal banyak tuduhan yang dilontarkan Tan Sri Mahathir lawan kompetisinya di Pemilu Malaysia. Saking geramnya dalam sebuah pidato Mahathir menjuluki Najib “lanun Bugis”.

Lanun istilah untuk perompak di laut jaman baheula. Najib putera Tun Abdul Razak, mantan PM Malaysia punya darah Bugis Makassar dari Gowa, Sulawesi Selatan. Waktu pidato Mahathir soal Lanun Bugis itu beredar viral di medsos sempat memicu reaksi dari beberapa orang etnis Bugis.

Saya sendiri menganggap itu hal biasa. Bukan suku Bugis yang dikecam oleh Maharhir. Tapi prilaku koruptif Najib dicela. Selama dua priode berkuasa isu korupnya terus menjadi isu nasional di Malaysia. Bukan cuma skandal uang, tetapi juga skandal sex. Kisah wanita cantik Mongolia yang tewas mengenaskan tempo hari di Malaysia, sebagisn orang terus saja mengaitkan dengan Najib.

Pemimpin Malaysia umumnya berkarakter kuat. Paling tidak, ada tiga pemimpinnya yang saya kenal dan pernah saya wawancarai. PM Mahathir, Wakil PM Anwar Ibrahim, dan PM Najib.

PM Mahathir pernah saya wawancarai lebih limabelas tahun lalu. Saya diundang menyaksikan pertunjukan drama “Malinkundang” di KL. Sutradaranya Elly Kasim. Salah satu pemain Titik Puspa. Waktu itu Mahathir hadir. Selesai pertunjukan aktor Anwar Fuadi memintakan waktu untuk saya wawancara dengan Mahathir. Seru.

PM malah menyanyi segala, diajak duet Anwar Fuadi menyanyikan lagu “Anakku Sadjsali” karya P Ramlee, artis lagendaris Malaysia. Kebetulan lagu itu favorit Mahathir. Jadilah Tabloid dan program televisi Cek&Ricek dapat berita eksklusif.

Saya ketemu Anwar Ibrahim waktu datang ke Jakarta beberapa tahun lalu. Dia bikin acara khusus bertemu sejumlah pemred Ibukota. Waktu itu dia sudah lengser dari jabatan Timbalan PM. Lagi hangat-hangatnya berseteru dengan PM Mahathir.

Jadi bahan berita dari Anwar kategorinya daging semua. Tentang peta politik Malaysia. Saya ingat betul cerita dia. Kebencian Mahathir padanya sudah sampai diubun-ubun.

“Lagi demam tinggi pun Mahathir bisa langsung bangun kalau dengar saya mau jadi PM,” cerita Anwar.

Ia akhirnya mendekam di penjara sampai sekarang. Dalam kasus sodomi.

Mahathir, Anwar, dan Najib sebenarnya berteman bersahabat. Sama-sama pemimpin kuat. Berkarakter. Anwar jadi timbalan atau wakil PM sewaktu Mahathir PM. Mereka pecah kongsi. Ribut   besar. Saling memaki di depan publik.

Setelah mundur sampai belasan tahun Mahathir masih punya pengaruh besar. Dia pula yang mendukung Najib Razak jadi PM. Koalisi mereka kemudian hari pecah. Mahathir memutuskan maju dalam Pemilu Malaysia 9 Mei lalu. Luar biasa itu di usia dia 92 tahun. Dia terjun debgan satu tujuan menyetop Najib. Dan, berhasil.

Mahathir kembali dilantik jadi PM Malaysia. SK pertamanya mencekal Najib tinggalkan Malaysia. Nasib Najib diujungtanduk kini. Ujungnya akan digiring ke penjara. Mempertanggung jawabkan semua tuduhan koropsi yang dilakukannya selama berkuasa.

Juga dugaan kasus-kasus lain. Adapun Anwar Ibrahim akan segera dilepas dari penjara. Itu janji Mahathir. Dia pun menjanjikan hanya dua tahun jadi PM. Sisa waktu akan diberikan kepada Anwar Ibrahim.

Pemimpin memang seperti berkendara macan. Begitu turun atau berhenti, kepala macan itulah pertama-tama yang menerkamnya. Mahathir yang kembali masuk gelanggang, kita tidak tahu lagi bagaimana pula nanti nasibnya.  

Malaysia jelas menjadi pelajaran berharga buat kita.

Dalam politik tidak ada kawan dan lawan abadi. Yang abadi adalah kepentingan. Seperti itulah demokrasi dipertontonkan di Malaysia, seperti reality show televisi. Bagaimana dengan kita?