Balada Mahathir Mohamad

Category: Pengetahuan -> OPINI | Posted date: 2018-05-13 14:54:40 | Updated date: 2018-05-19 03:09:02 | Posted by: Admin


Ceknricek.com - Pilihan Raya Umum (PRU) ke – 14 di Malaysia pada Kamis, 09 Mei 2018, dapat dikatakan adalah perseteruan politik dan kekuasaan di Malaysia yang mendunia. Perseteruan itu mirip cerita dalam dunia silat Tiongkok. Melibatkan tiga pendekar UMNO



*Oleh : Zainal Bintang

Ceknricek.com - Pilihan Raya Umum (PRU) ke – 14 di Malaysia pada Kamis, 09 Mei 2018, dapat dikatakan adalah perseteruan politik dan kekuasaan di Malaysia yang mendunia. Perseteruan itu mirip cerita dalam dunia silat Tiongkok. Melibatkan tiga pendekar UMNO (United Malay Nation Organization) : Mahathir (92), Anwar Ibrahim (70) dan Najib Razak (64).

Pada mulanya mereka bergerak diatas hamparan idealisme yang sama : Membangun dan melindungi bangsa Malaysia, yang lebih dikenal sebagai bumiputera : tidak boleh didominasi bangsa asing, tidak boleh ada minoritas yang terlalu kaya dengan memiskinkan bumiputera.

Kemenangan kubu pembangkang yang dipimpin langsung oleh Mahathir Muhammad sangat fenomenal. Setidaknya ada tiga catatan penting sang ponggawa – dalam hal ini Mahatir - yang bergerak dengan basis kalkulasi  diluar semua nalar normal.

Yang pertama, - yang banyak disorot bahkan dibully - adalah faktor usia Mahatir. Sebuah usia yang melampaui semua standar ilmu kesehatan dan dunia kedokteran untuk disebut usia produktif. Mahathir yang lahir pada 10 Juli 1925, pada 10 Juli 2018 akan berumur 93 tahun.

Pesaingnya adalah Ratu Elizabeth II (92). Ratu Britania Raya itu pemegang tahta kerajaan Inggris sampai sekarang yang lahir 21 April 1926. Keduanya pemimpin negara tertua di dunia saat ini. Kedua negara kerajaan itu menganut sistem monarki konstitusional.

Yang kedua, bangunan koalisi yang aneh yang nyaris belum ada duanya di dunia politik, yakni ketika Mahathir bersekutu dengan musuh bebuyutannya : Anwar Ibrahim.

Yang ketiga, keberhasilan menumbangkan kekuasaan perkasa : koalisi kekuasaan yang bernama BN (Barisan Nasional) dibawah kepimpinan Najib Razak – tokoh yang juga notabene diperjuangkan Mahathir sebagai pengganti Abdullah Badawi sebagai PM (2009). Mahathir sendiripun adalah mantan dedengkot dan beton bertulang dari koalisi kekuasaan itu selama 22 tahun.

Ditinjau dari sisi usia, mayoritas publik dunia menganggap keputusan Mahathir itu tidak lebih dari pada sebuah olok – olok, yang lahir dari jiwa orang tua pikun yang dianggap kurang sehat alias sudah uzur.

Akan tetapi, dua hari sebelum Pilihan Raya Umum (PRU) ke 14  -istilah pemilihan umum di Malaysia, Jonathan Head, Wartawan BBC untuk Asia Tenggara menurunkan tulisan, antara lain sebangai berikut :

Di antara membanjirnya propaganda pemilihan umum dalam kampanye untuk memimpin Malaysia selama lima tahun ke depan, satu video yang dibuat secara cerdik benar-benar menonjol. Dalam video itu, seorang bocah perempuan Melayu yang menggemaskan melihat ke arah wajah seorang pria sesepuh yang memerintah dan membentuk Malaysia selama 22 tahun.

Dan kini di usia 92 tahun, dia memimpin perlawanan terhadap monopoli kekuasaan partai yang pernah dipimpinnya, Pertubuhan Kebangsaan Melayu Bersatu (UMNO).

"Saya sudah tua," jelas Dr Mahathir Mohamad kepada sang bocah. Matanya berkaca-kaca. "Waktu saya tidak banyak tersisa. Saya harus menunaikan tugas untuk membangun kembali negara kita; mungkin karena kesalahan yang saya buat sendiri di masa lalu." Di dalam video terdengar lagu Salam Terakhir oleh penyanyi terkenal Malaysia, Sudirman Arshad, yang meninggal tahun 1992 pada usia 37 tahun.

Apa boleh buat. Fakta berbicara di depan mata kita : Kemenangan Mahathir telah meruntuhkan mitos generasi muda pemimpin masa depan. Dan oleh karenanya sekaligus menjadi semacam obat kuat.

Menjadi inspirasi pembakar semangat tokoh - tokoh lanjut usia, yang rata- rata berada di luar sistem karena disingkirkan oleh mitos usia muda.

Peristiwa bersejarah itu mengundang tanya : kemana generasi muda Malaysia ??

Mahathir memutuskan keluar dari BN pada 2016 dan mendirikan sendiri partai politik yang diberi nama Parti Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM). Dengan tegas dia memilih nama pribumi yang identik dengan bumiputera : yang akarnya ada pada mayoritas rakyat Malaysia.

Mahathir telah menyentak kesadaran bangsa Malaysia. Menyentak mereka untuk tampil ke depan melindungi bangsa dan  negaranya atas ketercerabutan dari akar kata pribumi alias bumiputera yang amat sangat sakral, heroik dan historik. Setidaknya itu yang difahami Mahathir dan itu pula yang selalu dikampanyekannya.

Keputusannya yang lain yang kontroversial, ialah merangkul mantan seterunya, Anwar Ibrahim. Menyatakan menyatu dan bergabung dalam koalisi pembangkang yang bernama Pakatan Harapan. Hal itu lagi – lagi menunjukkan ketajaman nalarnya menangkap kecemasan bumiputera, di dalam mana kilatan narasi heroik pelan pelan menipis ditelan praktik rasuah.

Setidaknya, ketiga hal itulah yang membuat, tokoh tua renta yang bernama Mahathir Mohamad, menabuh genderang peperangan terhadap penguasa Malaysia. Dia berkeyakinan, dibawah Najib, Malaysia terseret masalah serius.  Malaysia yang telah dibangunnya dengan susah payah selama 22 tahun, telah telah tersesat di jalan yang terang.

Naluri nasionalisme Mahathir tidak kunjung padam. Merasakan Najib telah keluar dari cita - cita dasar Mahathir dan pendahulunya : selalu menempatkan Malaysia di dalam rahim bumiputera yang harus ada dan tetap berdaulat, sebagai bangsa yang terhormat, berharkat dan bermartabat.

Impian akan terwujudnya sebuah negeri jiran yang bernama Malaysia, yang diperhitungkan dalam pergaluan dunia, lantaran punya jati diri. Aliansi kedua tokoh ini berhasil menyingkirkan Najib. Namun para pengamat politik menyebut bahwa faktor utamanya adalah kemarahan masyarakat. Kubu Mahathir merebut 113 kursi dari 222 kursi parlemen yang diperebutkan. BN hanya mendapat 79 kursi.

Pada tahun 1970 Mahathir pernah menulis buku yang berjudul The Malay Dilemma. Sarat kritikan kepada pemerintahan Tun Abdul Razak (ayah Najib). Menganggap kebijakan Tun Razak tidak berpihak kepada kaum Melayu alias bumiputera.

Bahkan Mahathir menyerang kualitas puak Melayu yang dianggap sebagai bangsa pemalas dan kurang bertanggung jawab. Buku setebal 188 halaman itu sempat dilarang oleh pemerintah, karena dikhawatirkan bisa memecah belah persatuan rakyat Malaysia.

Keterlibatan Mahathir yang sungguh – sungguh dalam pemilu 2018, telah mendorong semangat perlawanan kaum pembangkang. Membuat pemilu menjadi tegang, mendebarkan dan penuh tanda tanya yang menarik perhatian dunia.

Posisi Anwar Ibrahim yang sedang terkurung dalam penjara memang membuat kekuatan oposisi lemah menghadapi Najib. Dianggap kurang seimbang. Soalnya pemimpin oposisi, - Anwar Ibrahim - kembali dijebloskan oleh Najib dalam penjara pada 2015 atas nama kasus yang diulang – ulang : sodomi.

Awal perkenalan Anwar dengan penjara adalah pada tahun 1999 atas perintah Mahathir. Tapi 2004 dibebaskan oleh PM Abdullah Badawi. Tetapi Anwar kembali dijebloskan ke penjara untuk menghadapi dakwaan sodomi (lagi) setelah hampir mengalahkan UMNO pada pemilihan tahun 2013 lalu.

Yang menarik karena selama 18 tahun Mahathir dan Anwar menjadi musuh bebuyutan. Ketegangan kedua tokoh itu akibat bersilang haluan ketika menghadapi krisis keuangan yang melanda kawasan Asia Timur pada tahun 1997.

Waktu itu Anwar adalah Wakil PM. Tokoh pemuda yang cerdas dan berkharisma. Mahathir selalu berkampanye bahwa Anwar sebagai calon penggantinya. Faktanya, Mahathir malah menyekap Anwar dalam penjara dan mengakhiri karier politiknya.

Sebelum pemilu, Mahathir berkomitmen kepada Pakatan Harapan. Bahwa sebagai PM Malaysia ke 7 nantinya, dia akan memintakan pengampunan Anwar kepada yang dipertuan Agong raja Malaysia ; menjanjikan jabatan PM setelah dua tahun ; dan mengangkat Wan Azizah Wan Ismail isteri Anwar Ibrahim sebagai Wakil PM. Hukuman Anwar sendiri akan berakhir 8 Juni mendatang.

Keruntuhan pemerintahan Najib terutama karena dibakar oleh kasus korupsi 1MDB (One Malaysia Development Berhard). Dia dituduh menggelapkan dana badan investasi negara itu k.l. 700 juta dollar Amerika.

Diperparah faktor ekonomi yang melemah. Biaya hidup sehari – hari membumbung tinggi, namun pemerintah menerapkan pajak barang dan jasa yang baru yang mencekik leher rakyat. Mahathir kecewa berat dengan perilaku Najib yang disebutnya sbagai pencuri uang Negara.

Terkait keputusannnya berangkulan dengan Anwar Ibrahim, Mahathir mengatakan “anak didiknya itu melakukan kesalahan pada masa muda dan sudah cukup mendapat hukuman”.

Padahal sebelumnya, Mahathir dalam sebuah wawancara mengatakan,  “Anwar tidak bermoral dan tidak pantas memimpin Negara”.

Balada Mahathir Mohamad menjadi trending topic seantero dunia. Menjadi pelajaran kepada mereka yang petahana. Jangan sampai takabbur dan sesumbar hanya karena bertabur elektabilitas produk lembaga survei yang menjamur di tahun politik.

Meskipun hampir semua survei di Malaysia mengunggulkan petahana : Najib Razak!. Akan tetapi nampaknya Tuhan Yang Maha Esa berkehedak lain. Seperti kata Ebiet. G. Ade : ”.….mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa – dosa…”

*Zainal Bintang, wartawan senior dan anggota dewan pakar partai Golkar