Ingat masa Bom Bali

Category: Pengetahuan -> OPINI | Posted date: 2018-05-15 10:46:41 | Updated date: 2018-05-17 01:14:07 | Posted by: Ilham Bintang


WAKTU Bom Bali meletus 12 Oktober 2002 saya terbang ke sana bersama puluhan teman seniman. Jumlahnya sekitar 50 orang. Cuma butuh tiga hari waktu mengontak artis kenamaan yang super sibuk. Ini sudah termasuk waktu persiapan kordinasi pihak maskapa



Ceknricek.com - WAKTU Bom Bali meletus 12 Oktober 2002 saya terbang ke Pulau Dewata itu bersama puluhan teman seniman. Jumlahnya sekitar 50 orang. Cuma butuh tiga hari waktu mengontak artis kenamaan yang super sibuk. Ini sudah termasuk waktu persiapan kordinasi pihak maskapai penerbangan, hotel dan masyarakat adat Bali. 

Semua artis bersemangat untuk menunjukkan kepada dunia kita tidak takut teroris. Pada saat sama mereka merasa berkewajiban mengembalikan Bali seperti sediakala. Daerah wisata paling penting Indonesia yang berskala dunia itu harus diselamatkan. Bom Bali yang makan korban lebih 200 tewas tidak boleh membuat Bali lenyap sebagai destinasi wisata dunia. 

Silahkan berbagai pihak konferensi pers dengan mulut berbusa busa mengecam dan mengutuk tindakakan teroris yang membom Bali. Tapi kami merasa cara itu sangat usang. Kalau cuma begitu, cuma rame di layar televisi.

Awalnya Miing mengontak saya. Dia mengemukan  ide “Come On Bali”. Saya langsung setuju. Saya ingat pengalaman kerusuhan Mei 1998. Hampir seluruh kegiatan masyarakat lumpuh. Termasuk dunia hiburan. Cafe-cafe di kawasan Taman Ria seperti komplek kuburan. 

Orang ngeri mau datang. Ini tidak boleh terjadi. Jakarta adalah barometer perekonomian Indonesia. Dunia hiburan salah satu indikator keamanan Ibukota. Keamanan adalah kata kunci bagi kelangsungan ekonomi. 

Saya ingat Bang Ali dulu juga membangun Jakarta dengan prioritas pencitraan aspek  keamanan Ibukota. Dua kali setahun, malam Tahun Baru dan Ulang Tahun Jakarta dia bikin sepanjang Thamrin-Sudirman seperti Taman Hiburan. Jutaan warga dengan aman dan nyaman bergembira semalaman sampai pagi di sana. 

Itulah kiat Bang Ali mengundang investasi di Jakarta. Investor dengan mata kepala sendiri menyaksikan setiap tahun acara itu tidak alami gangguan keamanan. Padahal, peristiwa pembrontakan G-30-S PKI dan krisis politik dan ekonomi masih kental terasa. Rezim Orde Baru masih berjalan tertatih-tatih. 

Keamanan amat penting sebagai jaminan untuk berinvestasi. Dalam waktu sekejap Bang Ali berhasil mengundang investasi untuk mengelindingkan pembangunan Jakarta dari segala aspek. Terinsipirasi Bang Ali, di tahun 1998 dibawah bendera Cek& Ricek kami kerjasama dengan sejumlah cafe di Jakarta bikin banyak acara. Macam-macam. 

Antaranya yang paling terkenal “B’day Selebriti”. Acaranya didominasi artis-artis ternama. Acara itu disiarkan oleh program infotainment di semua stasiun televisi, siang malam, berhari-hari. Ibukota harus kita citrakan aman. Aktifitas ekonomi harus berjalan. Alhamdulillah, dalam waktu sekejap gambaran Jakarta yang rusuh segera sirna.

Kembali ke acara “Come On Bali”. Kita berbagi tugas dengan Miing, Anwar Fuadi, Rano, Karno. Firman Bintang, Roy Marten mengontrak para artis.

Sekitar 50 artis Ibukota dua pekan setelah kejadian, tiba di Bali. Antara lain Gunawan, Adjie Pangestu, Mayangsari, Indro Warkop, Dewi Yull, Ray Sahetapi, Bella Saphira, Rudy Salam, Hughes, Dorce, Franky Sahilatua, dan lainnya. 

Diikuti puluhan rombongan wartawan infotainmen. Tujuan kunjungan sama dengan tema “Come on Bali “. Memanfaatkan kunjungan  puluhan selebriti ternama untuk menjadi iklan efektif untuk pemulihan  Bali. 

Saya masih ingat kami menjejakkan kaki di Bali pada tanggal 24 Oktober atau dua pekan setelah serangan bom. Bagi kebanyakan artis, barangkali itulah pertama kalinya mendapati suasana bandara Ngurah Rai Bali begitu senyap, diliputi suasana murung. Bekasnya pun tak tampak bahwa bandara ini di tahun 2001 dikunjungi 1.422.000 turis asing, dan 3,5 juta turis domestik.

Sejak dari bandara, di jalan-jalan di daerah Bali khususnya yang menuju Kuta dan Legian, tak ubahnya sebuah negeri yang tengah dilanda perang. Padahal tahun itu Bali mencanangkan target kunjungan turis asing maupun lokal sebesar tujuh juta orang, dengan pemasukan devisa sekitar Rp 60 triliun.

“Saya sangat akrab dengan Bali selama ini. dalam setahun saya bisa enam kali kemari. Keadaannya sekarang menyedihkan sekali,” kata Bella Saphira.

Para artis itu bukan hanya bertugas sebagai model iklan pemulihan Bali tanpa honor. Bahkan pada malam pengumpulan dana, sebagian dari mereka tergerak merogoh koceknya sendiri untuk menyumbang. Lebih separuh dari uang terkumpul berasal dari sumbangan artis. 

Yang mengharukan Dorce Gamalama. Dia mengusahakan makanan kecil dan makanan dus untuk anggota rombongan dengan uang pribadinya. Dia juga membeli ratusan kembang yang dibawa satu per satu anggota rombongan ketika mengunjungi lokasi pengeboman, dan ketika malam renungan di Pantai Kuta. 

Franky Sahilatua mengarang khusus sebuah lagu Kabut Hitam di Legian, yang dinyanyikannya di beberapa tempat. Untuk memulihkan Bali, mereka semua siap menjadi bintang iklan secara cuma-cuma, kalau perlu bahkan menjadi pemandu wisata.

Panitia Come on Bali memang sempat menghadapi kendala kecurigaan dari satu dua artis : apakah ada kepentingan suatu golongan maupun partai politik di balik kegiatan itu. Maklum itu dekat Pemilu. Di masa lalu, sejumlah artis memang kerap digunakan oleh partai politik tertentu untuk menarik massa.

Tetapi “Tragedi Bali” memang istimewa. Sebagian besar artis merasakan peristiwa itu seperti secara otomatis menggerakkan sekaligus “menyatukan” mereka. Mereka tiba-tiba merasakan kedekatan satu sama lain. Padahal sebelumnya, entah karena kesibukan dan persaingan keras antar sesama, mereka seperti hidup sendiri-sendiri.

Kunjungan artis ke Bali waktu itu memang mustahil bisa langsung membuat Bali kembali ramai seperti sediakala, aman tenteram sehingga kembali didatangi jutaan turis. Namun, kekompakan yang mereka tunjukkan masih jauh lebih baik ketimbang pemerintah yang untuk mendefinisikan saja apakah pengeboman di Bali dilakukan oleh teroris atau bukan, masih terus bertengkar hingga kini.

Bom Surabaya

Sepekan ini Indonesia kembali diguncang bom teroris. Diawali kerusuhan narapidana teroris di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jakarta, Rabu (9/5). Enam korban tewas. Lima perwira polisi satu napiter.

Belum lagi rasa terkejut reda, Minggu (13/5) pagi kota Pahlawan Surabaya hadapi pemboman beruntun. Tiga gereja jadi sasaran. Menelan 20 orang korban meregang nyawa. Malam hari di Rusunawa, Sidoarjo, bom meledak lagi. Di susul Senin (14/3) pagi di Polresta Surabaya.

Seperti Bali, rentetan bom ini menjadi sorotan dunia. Peristiwanya beruntun. Tidak heran sejumlah pemimpin negara umumkan ‘travel warning’ bagi warganya untuk berkunjung ke Indonesia. 

Tidak mudah memulihkan kepercayaan orang apalagi masyarakat dunia. Tidak cukup dengan penampilan pelbagai kalangan mengecam dan mengutuk pelaku peristiwa bom itu. Tidak cukup dengan pemberlakuan segera UU Antiteroris. Apalagi cuma bikin slogan di kaos “kami tidak takut teroris”. 

Apalagi kalau para pihak yang berseteru, kembali memanfaatkan momentum itu untuk berkelahi, saling menyudutkan, dan saling memaki.

Harus segera digerakkan kampanye aman dan tentram aman warga. Gerakannya harus kongkrit. Ini harus dibantu pihak yang berseteru supaya menahan diri. 

Pers juga mesti mawas diri. Menyeleksi ujaran atau statement yang merugikan upaya pemulihan. Masak kalah sama kerja infotainment zaman bom Bali enambelas tahun lalu.

Kata Winston Churchill, daripada terus menerus mengutuki kegelapan, mungkin lebih berguna kita mulai menyalakan lilin.