Teroris, Siapa Kalian Sesungguhnya?

Category: BERITA -> POLITIK | Posted date: 2018-05-15 13:09:34 | Updated date: 2018-05-16 03:36:50 | Posted by: Asro Rokan


BOCAH perempuan berusia 8 tahun itu terlempar saat bom meledak. Asap tebal di belakangnya. Dia keluar dari kepeluan asap dan berdiri goyah. Melihat anak tersebut, AKBP Roni Faisal dengan cepat meraih dan menggendong anak malang itu menjauh dari titik leda



Oleh : Asro Kamal Rokan

Ceknricek.com - BOCAH perempuan berusia 8 tahun itu terlempar saat bom meledak. Asap tebal di belakangnya. Dia keluar dari kepeluan asap dan berdiri goyah. Melihat anak tersebut, AKBP Roni Faisal dengan cepat meraih dan menggendong anak malang itu menjauh dari titik ledakan. Asap masih masih mengepul. Bocah itu selamat, darah mengucur dari tubuhnya yang kecil.

Peristiwa penyelamatan anak perempuan ini terjadi Senin (14/5) pagi di markas Polrestabes Surabaya. Dari rekaman CCTV yang beredar luas, terlihat jelas saat ledakan bom. Awalnya, dua motor memasuki gerbang markas. Motor pertama dinaiki dua lelaki. Pada motor kedua, seorang lelaki, seorang perempuan dewasa, dan anak perempuan tadi. Saat dihadang beberapa petugas, bom pun meledak.

Polisi menyimpulkan, empat pengandara motor tewas, seorang lagi - anak perempuan tadi, yang disebut polisi berinisial AIS - selamat. Mereka satu keluarga, suami, istri, dan tiga anaknya.

Ini bom kelima terjadi dalam dua hari di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur. Sehari sebelumnya bom meledak di tiga gereja, yang menewaskan 18 orang. Polisi menyebutkan pelakunya satu keluarga, suami, istri, dua anak lelaki, dan dua anak perempuan di bawah umur. Semuanya tewas.

Data-data ini sungguh mengejutkan: suami membawa istri dan anak-anaknya yang masih kecil - tidak tahu apa-apa - ke dalam kobaran api ledakan bom. Manusia apa yang tega melakukan itu?

Jika mereka menganggap ini peperangan - entah perang dengan siapa - untuk mendapatkan surga, tidakkah Rasulullah Muhammad Shalallaahu 'Alayhi Wasallam melarang membunuh perempuan, anak-anak, orang tua, orang sakit, pekerja, umat lain yang sedang beribadah, melarang membakar hutan, merusak ladang, dan membunuh ternak yang tidak dimakan?

Lihatlah keteladanan indah ini: Ketika menguasai Yerusalem pada 637 M, Khalifah Umar bin Khattab berkunjung ke Gereja Qiyâmah dan diterima Patriarch Sophronius, pimpinan tertinggi gereja. Orang-orang yang ada di gereja khawatir Umar akan mengambil gereja mereka. Tidak. Umar dengan sopan mengajak dialog, membuat Perjanjian Aelia - naskah perjanjian ini terdokumentasi hingga saat ini.

Saat memasuki Dzuhur, Umar mohon waktu untuk sholat. Patriarch mempersilakan solat di dalam gereja, namun Umar dengan sopan menolak dan memilih sholat di luar gereja. Selesai sholat, Umar menjelaskan alasannya: Jika ia sholat di gereja, maka dikhawatirkan kelak umat Islam mengambil gereja untuk dijadikan masjid.

Lihat pula yang dilakukan Salahuddin Al Ayyubi (Barat menyebutnya Saladin), panglima perang Islam yang merebut kembali Yerusalem, Oktober 1187. Ketika menguasai Yerusalem, Salahuddin tidak membunuh warga sipil, merusak rumah ibadah, bahkan mempersilakan umat Nasrani dan Yahudi beribadah.

Ini berbeda terbalik dengan Richard the Lionheart ketika menguasai Yerusalem. Richard l menghukum mati ribuan umat Islam, kebanyakan wanita-wanita dan anak-anak di Kastil Acre. Kisah ini ditulis dengan baik oleh Karen Armstrong (Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World).

Mendengar Richard sakit, Salahuddin mengirim tabib terbaik, es ,dan buah-buahan untuk Richard. Salahuddin menginginkan musuh utamanya itu sehat saat mereka berperang lagi. Islam melarang membunuh orang yang sedang sakit.

Betapa indah Islam, yang dicontohkan Khalifah Umar dan Salahudin Al Ayyubi: kasih sayang, kedamaian, menghatgai, dan menghormati agama lain.

Lalu, mengapa para teroris - pelaku, perancang, mereka-mereka yang bersembunyi di baliknya - menjadi begitu bengis, biadab, seakan mereka bukan manusia, dan sama sekali tidak mencerminkan Islam sebagai rahmat sekalian alam? Kebahagian apa yang mereka dapatkan dalam penderitaan orang lain?

Siapa kalian sesungguhnya dan untuk siapa kalian melakukan kebiadaban ini?