Metode Baru Temukan Potensi Panas Bumi

Category: Pengetahuan -> TEKNOLOGI | Posted date: 2018-05-16 14:25:03 | Updated date: 2018-05-17 04:15:51 | Posted by: Rihat Wiranto


Seorang profesor asal Indonesia, Bagus Putera Muljadi, yang sekarang tinggal di Inggris, telah menghasilkan sebuah penemuan penting terkait eksplorasi panas bumi. Penemuan metode ilmiah ini sangat berarti untuk Indonesia yang memiliki kandungan gas beg



Ceknricek.com -Seorang profesor muda asal Indonesia, Bagus Putra Muljadi, yang sekarang tinggal di Inggris, telah menghasilkan sebuah penemuan penting terkait eksplorasi panas bumi. Penemuan metode ilmiah ini sangat berarti untuk Indonesia yang memiliki kandungan panas bumi begitu besar.

Profesor Bagus sekarang menjabat Asisten Profesor di Departemen Teknik Lingkungan dan Kimia Universitas Nottingham, Nottingham, Inggris. Bersama koleganya di Nottingham University, Cambridge University, dan Imperial College London, Bagus menemukan metode yang akurat  untuk memprediksi potensi panas bumi.

Untuk menemukan metode baru itu, ia memanfaatkan alat yang selama ini sudah ada yakni Magnetic Resonance Imaging (MRI). Alat ini biasa dipakai di bidang medis untuk memeriksa organ di dalam tubuh manusia. MRI mengunakan pencitraan resonansi magnetik untuk menampilkan gambar struktur dan organ dalam tubuh secara lebih akurat.

Sir Peter Mansfield yang juga Profesor University of Nottingham menemukan penggunaan alat tersebut di dalam dunia medik. Atas penemuannya itu, ia telah mendapatkan hadiah Nobel tahun 2003. Sir Peter Mansfield mendapat pengharagaan tersebut bersama dengan Paul Lauterbur. Sir Peter Mansfield sendiri telah meninggal di Nottingham, 8 Februari 2017 pada umur 83 tahun.

Oleh Profesor Bagus, metode MRI ini kemudian dipakai untuk mengamati dimamika fluida di bebatuan. Dalam pengembangannya, cara ini bisa digunakan untuk mendeteksi aliran panas bumi di dalam tanah. “MRI dapat memberikan informasi tentang dinamika fluida di dalam skala yang sangat kecil (micro meter). Caranya adalah dengan mengeksitasi spin elektron molekul molekul cairan asam yang mengalir di dalam sampel batu-batuan,” kata Profesor Bagus kepada ceknricek.com.

Ia menjelaskan, aliran molekul-molekul cairan yang tereksitasi tersebut dapat “diikuti” dan persebarannya secara statistik dapat diketahui. Selama ini, untuk memprediksi proses dan output panas bumi, industri menggunakan simulasi komputer yang didasarkan pada permeabilitas batu-batuan. Permeabilitas adalah parameter skalar yang menggambarkan seberapa mudah cairan mengalir lewat batu-batuan. Permebilitas itu biasanya didapatkan dengan menggunakan korelasi empirikal yang didasarkan semata-mata pada porositas batu-batuan itu sendiri. 

“Akan tetapi, penggunaan permeabilitas hanya dapat diandalkan sepenuhnya jika kita mengasumsikan bahwa batu-batuan tersebut memiliki struktur pori-pori yang homogen. Padahal di dalam kenyataannya, tidak ada struktur alami yang sifatnya homogen. Maka itu seringkali kita mendapatkan hasil simulasi yang tidak sesuai dengan keadaan di lapangan,” ujar Bagus yang meraih gelar master dan doktor pada bidang mekanika terapan di National Taiwan University (NTU).

Dalam proses eksplorasi panas bumi ini, penemuan Bagus merupakan terobosan. Selama ini untuk mensimulasikan aliran di dalam geometri yang kompleks, dalam skala yang besar, dan dengan berbagai macam proses yang terjadi secara simultan, sangat sulit dilakukan. 

Contohnya, pada  aliran air, transportasi partikulat, dan reaksi kimia (tergerusnya batu-batuan oleh cairan yang sifatnya asam). “Terlebih mengingat bahwa persamaan matematika umum yang memandu proses-proses tersebut, secara simultan, belum tersedia. Penemuan kami memungkinkan simulasi yang akurat yang menggunakan hasil eksperimen MRI sebagai input langsung,” kata Bagus lelaki kelahiran Jakarta, 1 Maret 1983 itu.

Menurut Bagus, hasil studinya dalam waktu yang singkat bisa diaplikasikan langsung di lapangan. “Proses yang sekarang perlu kami lakukan adalah validasi dan kalibrasi. Untuk itu kami memerlukan rekan industri untuk mempercepat proses ini,” ucap Bagus kembali. 

Jika metode MRI ini diterapkan, proses eksplorasi panas bumi diharapkan makin efisien. Seperti diketahui, proses eksplorasi memakan biaya mahal, pendanaannya bersifat front-ended. Industri yang bermain di bidang panas bumi harus memiliki dana besar untuk menghadapi risiko yang tinggi. “Resiko finansial ini adalah by-product dari kurangnya teknologi yang dapat mensimulasikan output dan proses panas bumi secara akurat,” katanya.

Nah, dengan adanya metode pensimulasian output dan proses panas bumi yang akurat, resiko kegagalan untuk menemukan panas bumi bisa diminimalkan. Hal ini akan membuat ekplorasi panas bumi yang notabene merupakan energi bersih dan melimpah di Indonesia akan bisa dilakukan lebih banyak lagi. “Kalau Indonesia dapat memaksimalkan ekplorasi panas bumi secara efisien, maka kita dapat menjadi pemimpin dalam sektor energi bersih di dunia,” ujar Bagus berharap. 

Potensi Panas Bumi Indonesia

Sumber daya energi panas bumi di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 28,5 Giga Watt electrical (GWe) yang terdiri dari resources 11.073 MW dan reserves 17.453 MW. Indonesia menjadi salah satu negara dengan sumber daya panas bumi terbesar di dunia. Keberadaan sumber energi ini erat kaitannya dengan posisi Indonesia yang berada pada kerangka tektonik dunia. 

Berdasarkan data terbaru dari Direktorat Panas Bumi, Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi tercatat sumber daya panas bumi yang dimanfaatkan telah mencapai 1.948,5 MW yang terdiri dari 13 Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) pada 11 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP).

Panas bumi diharapkan bisa menggantikan minyak bumi yang akan habis beberapa tahun mendatang. Arcandra Tahar, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan bahwa saat ini Indonesia memiliki cadangan terbukti minyak bumi sekitar 3,3 miliar barel. Dengan asumsi produksi konstan 800.000 per hari tanpa adanya temuan cadangan baru, maka dalam 11 hingga 12 tahun ke depan Indonesia tidak mampu memproduksi minyak bumi lagi.  

Menurut Arcandra, teknologi eksploitasi minyak bumi saat ini hanya dapat mengambil 40-50 persen cadangan minyak dari dalam perut bumi. "Sampai saat ini belum ada teknologi yang bisa menguras lebih," ungkapnya.

Lebih lanjut Arcandra menjelaskan, cadangan terbukti minyak Indonesia yang mencapai 3,3 miliar barel tersebut bukanlah cadangan yang melimpah. Bila dibandingkan dengan cadangan terbukti minyak dunia, hanya setara dengan 0,2 persen.