Kisah Dibalik Penolakan Film ‘212’

Category: Berita -> FILM, MUSIK & SELEBRITIS | Posted date: 2018-05-16 19:05:20 | Updated date: 2018-05-17 00:06:26 | Posted by: Raynaldi Wahyu


Ceknricek.com - Produser sekaligus penulis film '212 The Power of Love', Helvy Tiana Rosa menanggapi penolakan filmnya di daerah Manado dan Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Tapi ia mengimbau agar para masyarakat yang menolak tayangnya film tersebut di dae



Ceknricek.com - Produser sekaligus penulis film '212 The Power of Love', Helvy Tiana Rosa menanggapi penolakan filmnya di daerah Manado dan Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Tapi ia mengimbau agar para masyarakat yang menolak tayangnya film tersebut di daerah mereka, lebih baik menonton terlebih dulu.

Helvy menegaskan, bahwa film tersebut bukan sepenuhnya menceritakan bagaimana aksi 212. Melainkan lebih kepada cinta dengan Sang Pencipta, keluarga, juga lingkungan. Seeta indahnya toleransi beragama.

Meski sejumlah pihak menolak penayangan '212 The Power of Love', kakak Asma Nadia ini memakluminya. Walaupun di Minahasa, Manado beberapa warga setempat sudah melakukan persikusi, yaitu perlakuan buruk atau penganiyaan secara sistematis oleh individu atau kelompok terhadap individu atau kelompok lain, khususnya karena suku, agama, atau pandangan politik.

"Tapi Alhamdulillah sudah selesai malah keren sekali. Terjadi dialog Dayak muslim dan non, hanya terjadi miss comunication di Palangkaraya tidak ditayangkan di sana teman-teman membuat nobar di sana," ujar Helvy saat ditemui di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (15/5/2018).

Helvy Tiana menerangkan, kalau masyarakat di sana hanya salah paham. Mereka awalnya menganggap kalau film yang digelar dengan nonton bareng oleh para muslim itu hanya untuk komunitasnya. Padahal memang film tersebut tidak ditayangkan di Palangkaraya.

Setelah melewati dialog dan keduanya sudah memahami, film '212 The Power of Love' justru akhirnya ditayangkan di bioskop setempat.

"Alhamdulilah Palangkaraya menayangkan film ini. Kalau di Manado memang masih (terjadi penolakan), saya juga belum tahu lebih jelas. Menurut saya ini tidak sehat, kan sudah lolos lembaga sensor film," ucap Helvy.

Helvy Tiana juga memberi contoh, kalau film yang disutradarai Justis Arimba dibintangi oleh pemain berbeda keyakinan. Seperti yang ingin disampaikan lewat film '212 The Power of Love'.

"Alhamdulillah pemain kami juga ada yang nasrani dan protestan itu Rony Dozer. Film ini didukung banyak orang bukan hanya muslim. Kita ingin menunjukkan bagaimana Islam yang rahmatan lil alamin," terangnya.

Terhitung dari enam hari penayangan perdana mulai 9 Mei 2018 lalu, Helvy Tiana Rosa film '212 The Power of Love'sudah mencapai sekira 300 ribu penonton. Menurut Helvy, film ini tidak memprovokasi agama maupun suku tertentu. Dan layak menjadi tontonan keluarga.

"Saya sangat setuju film ini sangat perlu ditonton terutama untuk mengurangi orang-orang untuk belajar menghargai perbedaan kebhinekaan juga mencintai keluarga dan NKRI," tutup Helvy.