Fauzi Baadilla: Enggak Bisa Dipaksa

Category: Berita -> FILM, MUSIK & SELEBRITIS | Posted date: 2018-05-16 19:26:16 | Updated date: 2018-05-17 00:08:01 | Posted by: Raynaldi Wahyu


Ceknricek.com -Sebagai pemeran utama di film '212 The Power of Love', Fauzi Baadilla menganggap wajar adanya penolakan film yang dilakoninya, pada sejumlah daerah, yaitu Manado dan Palangkaraya. Ia menganggap, suasana Indonesia belakangan ini sedang meman



Ceknricek.com -Sebagai pemeran utama di film '212 The Power of Love', Fauzi Baadilla menganggap wajar adanya penolakan film yang dilakoninya, pada sejumlah daerah, yaitu Manado dan Palangkaraya. Ia menganggap, suasana Indonesia belakangan ini sedang memanas, baik itu mengenai isu politik maupun agama.

Fauzi Baadilla menyadari banyaknya perbedaan pendapat maupun kejadian fenomenal yang terjadi belakangan ini. Dengan begitu, lumrah halnya kalau film yang diperankan menuai berbagai respon.

"Menurut saya pribadi ya itu wajar-wajar saja karena orang-orang semua berbeda dan enggak bisa dipaksain juga. Jadi yang kita tegaskan kita sudah lulus Lembaga Sensor Film," ucapnya saat ditemui di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (15/5/2018).

Bom bunuh diri yang diduga dilakukan oleh teroris   pada 3 gereja di Surabaya cukup berpengaruh negatif terhadap respon masyarakat untuk film '212 The Power of Love'. Fauzi Baadilla juga menilai menyeruaknya isu agama yang menjadi konflik belakangan ini.

"Ya imbasnya ya mungkin saya meyakini imbas sana sini, kita kena. Saya sih di film ini latar belakangnya persatuan dan cinta. Jadi ya wajar orang agak-agak alergi atau imajinasinya agak berlebihan," ujarnya.

"Pencekalannya ada yang menolak ditayangkan, ada yang nonton tapi dikawal. Saya sempat lihat juga di awal terus berita-beritanya ada surat-surat edaran dari beberapa pihak, saya kira wajar sih mengingat belakangan memang suhunya panas,"  katanya.

Sebagai bintang utama di film yang disutradarai oleh Jastis Arimba ini, Fauzi Baadilla tidak ingin ambil pusing atas pencekalan yang terjadi. Mengingat era sekarang, masyarakat bebas berkomentar di jejaring internet serta media sosial.

"Kalau mereka mau komentari dan ramai di medsos ya itu resiko tiap orang ya. Bukan masalah filmnya atau tim produksinya. Saya kira zaman sekarang di medsos apapun itu pasti dikomentari sana sini, jadi ya wajar tetap santai saja," terang Fauzi.

Lagi pula, walaupun ada beberapa yang menolak penayangan film '212 The Power of Love' mendapat respon positif di hati penonton Tanah Air. Enam hari sejak penayangan perdananya pada 9 Mei 2018 lalu, film tersebut sudah ditonton oleh 300 ribu lebih.

Film '212 The Power of Love' menceritakan seorang jurnalis bernama Rahmat, yang pada awalnya kurang setuju dengan aksi 212. Rahmat terpaksa berangkat karena ayahnya yang sudah sakit-sakitan memaksa ingin terjun langsung dalam aksi. Ayah Rahmat ini adalah seorang pemuka agama di kampung halaman.

Rahmat menganggap aksi yang dipicu oleh pidato Ahok di Kepulauan Seribu ini, hanyalah kendaraan yang ditunggangi misi politik dan kepentingan golongan tertentu. Tapi melihat semangat ayahnya dan tekad orang-orang yang terjun dalam aksi, Rahmat  lalu ikut menyuarakan bela Islam.