Dampak Aksi Teroris, Ekonomi Terpukul

Category: Berita -> EKONOMI & BISNIS | Posted date: 2018-05-16 21:56:39 | Updated date: 2018-05-16 12:19:26 | Posted by: Marah Sakti Siregar


Ceknricek.com - AKSI bom bunuh diri dan “perlawanan” para teroris, berdampak negatif ke sektor ekonomi. “Efeknya berat. Sebab, sudah 12 negara yang mengeluarkan travel advice bagi warganya untuk tidak ke Indonesia dulu,” kata Ekonom Bhima Yudhistira Adhin



Ceknricek.com - AKSI bom bunuh diri dan “perlawanan” para teroris, berdampak negatif ke sektor ekonomi. “Efeknya berat. Sebab, sudah 12 negara yang mengeluarkan travel advice bagi warganya untuk tidak ke Indonesia dulu,” kata Ekonom Bhima Yudhistira Adhinegara kepada ceknricek.com. Rabu sore, 16/5/18.

Travel advice (saran tidak bepergian) memang masih setingkat di bawah travel warning (larangan bepergian). Tapi, saran yang, antara lain, sudah dikeluarkan pemerintah Inggris, AS, Australia, China, Singapura dan Hong Kong itu, cukup berpotensi menurunkan masuknya wisatawan ke Indonesia.

Makanya, Bhima Yudhistira, ekonom dari Indef (Institute for Development of Economics and Finance) , menyarankan Kementerian Pariwisata bergerak cepat mengantisipasi realitas negarif yang muncul akibat aksi beruntun para teroris sepekan terakhir ini. 

“Kalau Kementerian Pariwisata tak cepat bergerak, target pemasukan turis asing bisa meleset,” ujar Bhima Yudhistira.

Kementerian Pariwisata tahun ini menargetkan pemasukan 17 juta wisman (wisatawan manca negara). Jumlah itu naik dari target 15 juta wisman pada tahun 2017. Target tahun lalu itu —ketika kondisi negara aman tenteram—menurut Badan Pusat Statistik hanya tercapai 70%. Atau hanya memasukkan wisman sekitar 10,46 juta orang. Nah, bisa dibayangkan berapa sulitnya kementerian pariwisata mencapai targetnya tahun ini.

Lima anggota Densus 88 Polri telah gugur dan seorang teroris tewas dalam kerusuhan di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. Lalu, puluhan orang tak berdosa —termasuk mereka yang dikategorikan teroris— meninggal dunia dan luka-luka akibat aksi para teroris. Mulai dari tiga gereja di Surabaya, disusun peledakan bom di Rusun Wonocolo, Sidoarjo, serangan bom di Markas Polda Surabaya. Dan yang paling akhir, serangan orang tak dikenal tapi diduga teroris ke Markas Polda Riau.

Semua peristiwa itu benar-benar di luar perkiraan (force majeur). Makanya, ia sama sekali tidak pernah diperhitungkan bakal membebani upaya pemerintah memulihkan sektor ekonomi.

Bhima mengatakan dalam keadaan tenang dan aman saja, kondisi perekonomi Indonesia menunjukkan penurunan. Apalagi kini ketika keadaan makin tidak stabil. 

Ia menyebut contoh lain. Rupiah yang terus melemah. Rabu, sehari menjelang masuk puasa Ramadan, kurs rupiah menembus angka Rp 14. 100 per dolar. Melemah 0,52 % dibandingkah kurs sehari sebelumnya. Inilah posisi terlemah rupiah sejak tahun 2015.

Bank Indonesia terpaksa menggerus cadangan devisa guna melakukan intervensi untuk menahan penurunan kurs rupiah terhadap dolar AS. Akibatnya, menurut hitungan Bhima Yudhistira, BI sejak awal tahun ini sudah menggelontorkan sekitar USD 7 milyar. 

Posisi cadangan devisa per April 2028 tercatat berkisar USD 124,9 miliar. Jumlah ini menurun sekitar USD 1,1 milyar dari posisi Maret 2018 sebesar USD 126 milyar. Jika tidak ada langkah terobosan dari pemerintah, Ekonom muda Indef itu, memperkirakan kurs rupiah akan terus merosot. “Bisa turun ke angka Rp14.700 sampai akhir 2018,” katanya.

Kinerja ekonomi Indonesia secara umum cenderung menurun. Tak cuma dilihat dari melemahnya terus kurs rupiah terhadap USD. Tapi, juga karena mulai merosotnya Neraca Perdagangan.

Melalui twitternya, Ekonom Faisal Basri mengungkapkan bahwa Neraca Perdagangan Indonesia kini sudah defisit.

“Setelah tiga-tahun berturut-turut selama 2015-2017 menikmati surplus, transaksi perdagangan luar negeri Indonesia kembali mengalami defisit pada Januari-April 2018,” cuit Faisal Basri.

Ekonom senior UI itu menambahkan, selama Januari-April 2018, pertumbuhan impor ternyata sudah jauh lebih tinggi dari pertumbuhan ekspor. Yakni, masing-masing 23,7% dan 8,8%.

Kenaikan angka impor antara lain karena  meningkatnya impor minyak mentah yang harganya belakangan ini terus melonjak.

Itulah. Dalam kondisi kinerja ekonomi melemah itu, sialnya, konsenterasi perhatian pemerintah hari-hari ini malah terpaksa dialihkan untuk menghadapi aksi terorisme.