Mengutuk Tidak Cukup

Category: BERITA -> POLITIK | Posted date: 2018-05-16 22:34:40 | Updated date: 2018-05-17 07:46:40 | Posted by: Rihat Wiranto


Ceknricek.com - Serentetan peristiwa kekerasan terjadi belakangan ini. Setelah aksi penyanderaan di mako Brimob, Depok, Jawa barat, Selasa 8 Mei hingga 10 Mei 2018, terjadilah aksi kekerasan berikutnya. Tiga gereja di Surabaya diserang teroris, Minggu, 13



Ceknricek.com - Serentetan peristiwa kekerasan terjadi belakangan ini. Setelah aksi penyanderaan di mako Brimob, Depok, Jawa barat, Selasa 8 Mei hingga 10 Mei 2018, terjadilah aksi kekerasan berikutnya. Tiga gereja di Surabaya diserang teroris, Minggu, 13 Mei 2018. Kemudian muncul serangan terhadap Mapolres Surabaya, Senin (14/5), dan terakhir serangan di Mapolda Riau, Rabu (16/5). Polisi pun bertindak dengan menangkapi terduga teroris di berbagai daerah. Beberapa orang terduga teroris tewas. Semua prihatin. Berbagai aksi kekerasan akan melahirkan kekerasan baru. Ini  harus dihentikan agar tidak melahirkan cucu dan cicit kekerasan baru.

Bagaimana cara agar semua kekerasan ini bisa berakhir? Berbagai kalangan sepakat bahwa untuk menghentikan aksi terorisme melibatkan banyak aspek. Mengutuk tidak cukup untuk menghentikan aksi terorisme. "Mengutuk tindakan, gerakan dan aksi intoleransi, radikalisme dan terorisme, itu menggambarkan ketidaksepakatan dengan aksi yang mereka lancarkan. Itu baik. Tapi untuk melawan gerakan kelompok garis keras itu, belum cukup hanya dengan statement mengutuk," kata pakar Pemikiran Islam Modern Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah, Prof Dr H Zainal Abidin Mag dikutip antara.

Ia menyatakan perlu ditindaklanjuti dengan upaya-upaya strategis dalam penguatan pemahaman Pancasila, kebhinekaan dan kerohanian."Kalau kita hanya menyatakan melawan, lalu kemudian tidak ada upaya yang kita lakukan sebagai tindaklanjut atau realisasi dari pernyataan itu, maka masalah tidak selesai," katanya.

Menurut Ketua Syuriah Nahdlatul Ulama Sulteng itu, sejumlah aksi kejahatan dan kriminal yang dilakukan kelompok garis keras mencederai prikemanusiaan, merupakan target dan sebuah keberhasilan menurut mereka gerakan radikalisme, intoleransi dan terorisme. "Apa yang mereka lakukan saat ini, itu bukan awal, tapi hasil dari upaya mereka yang dibangun dengan waktu lama. Itu adalah puncak, ibaratnya saat ini mereka panen," sebutnya.

Selain itu, kata dia, para tenaga pendidik di semua  jenjang pendidikan harus benar-benar memberikan pemahaman Pancasila, kerohanian dan kebhinekaan kepada peserta didik. "Maka tenaga pendidik harus benar-benar memahami dan mengetahui apa materi yang diajarkan. Harus memiliki target dan sasaran pembentukan intelektual dan mental," kata Zainal.

Peran Medsos

Perang melawan terorisme juga perlu melibatkan peran teknologi. Saat ini, media sosial justru menyumbang tumbuhnya gerakan radikal di Indonesia yang mampu mengubah pemahaman seseorang dari radikal hingga menjadi tindakan teror karena hanya cukup dibutuhkan waktu satu tahun.

"Kanal-kanal di telegram banyak digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk menyebarkan konten negatif dan menanamkan paham radikal dan propaganda terkait terorisme," kata pengamat masalah terorisme dari Universitas Indonesia Solahudin dalam Forum Merdeka Barat (FMB) mengangkat tema "Cegah dan Perangi Terorisme" di Jakarta, Rabu (16/5).

Solahudin mengatakan berdasarkan hasil penelitiannya terhadap narapidana terorisme, sebanyak 85 persen di antaranya, melakukan aksi teror hanya dalam rentang kurang dari satu tahun, sejak pertama kali terpapar paham ISIS. "Kemudian saya mencoba membandingkan dengan terpidana terorisme sejak 2002-2012. Ternyata, para narapidana terorisme ketika itu rata-rata memerlukan waktu 5-10 tahun, sejak pertama kali terpapar sampai dengan terlibat dalam aksi terorisme," tuturnya. Solahudin mengatakan dirinya juga menemukan bahwa hampir semua terpidana kasus teroris itu memiliki akun sosial media.

"Sehingga saya berkesimpulan semua pelaku aksi terorisme memang memiliki keterkaitan dengan sosial media," tegasnya. Dengan demikian diperlukan kampanye kepada masyarakat untuk menggunakan media sosial secara sehat.

Facebook melaporkan bahwa dari setiap 10.000 muatan, yang dilihat pada catur wulan pertama, sekitar 22 hingga 27 berisi gambar kekerasan, naik dari perkiraan 16 hingga 19 pada akhir tahun lalu. Perusahaan itu menghapus atau memasang layar peringatan untuk gambar kekerasan di depan 3,4 juta muatan pada catur wulan pertama, hampir tiga kali lipat dari 1,2 juta pada catur wulan sebelumnya, kata laporan tersebut.

Facebook tidak sepenuhnya mengetahui mengapa orang mengirimkan banyak gambar kekerasan, tetapi percaya bahwa pertempuran di Suriah kemungkinan menjadi salah satu alasan, kata Alex Schultz, wakil ketua pengulasan data Facebook. "Setiap kali perang dimulai, ada lonjakan besar dalam kekerasan grafis," kata Schultz kepada wartawan di markas besar Facebook.

Utamakan Penegakan Hukum

Peneliti di Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya menyatakan bahwa pengaruh konflik di Suriah ikut andil dalam tindak kekerasan belakangan ini. “Konflik di Suriah tentu berpengaruh hingga ke Indonesia. ISIS sedang mengalami kekalahan di sana. Berbagai peristiwa di sini, semacam pertanda untuk menunjukkan bahwa mereka masih ada,” katanya kepada ceknricek.com.

Harits menyatakan tindakan polisi untuk melakukan penangkapan kepada terduga teroris tentu tindakan yang tepat. “Dalam hal ini, semua pihak termasuk polisi harus mengutamakan pendekatan hukum. Pelaku kekerasan perlu dihukum sesuai peraturan yang ada,” katanya.

Dia menyarankan perlunya soft approach dari para petugas keamanan untuk menangani terorisme ini. “Aksi kekerasan perlu dilawan dengan pendekatan hukum yang tepat. Kekerasan bisa beranak kekerasan baru,” katanya. Ia memuji ketika polisi menangani kasus penyanderaan di Mako Brimob dengan pendekatan yang tepat dan mampu meminimalkan korban. Tapi Harits tetap mendukung polisi mengejar para pelaku teror karena tindakan mereka memang melanggar hukum.

Bersihkan KantongTeroris

Penyerangan ke Polda Riau menunjukkan kawanan teroris makin agresif melakukan aksinya. “Polri perlu makin gencar memburu kantong teroris untuk menciduk mereka,” ujar Presidium Indonesia Police Watch, Neta S. Pane kepada ceknricek.com.

Menurut dia, penyerangan di Polda Riau bisa dimaknai dalam tiga hal. Pertama, balas dendam terhadap kawan mereka yang ditangkap di Palembang. Kedua, menunjukkan eksistensi kelompok Riau pasca kerusuhan rutan Mako Brimob. Ketiga, serangan menyongsong  vonis Oman Rochman alias Maman Abdurrahman di PN Jaksel. “Dari kasus ini jajaran kepolisian tetap perlu meningkatkan kewaspadaan dan segera memburu kawanan teroris yang bergerak dan bergeser sebelum mereka melakukan aksinya lagi,” ujar Pane.