Saat Setan dan Jin Dikrangkeng

Category: Pengetahuan -> OPINI | Posted date: 2018-05-17 13:10:56 | Updated date: 2018-05-17 01:28:16 | Posted by: Ilham Bintang


Semua bulan dicipta istimewa. Namun tetap Ramadan paling istimewa. Tuhan “mendesain” secara khusus Ramadan sehingga menjadi bulan penuh berkah dan ampunan. Betapa indahnya menahan lapar dan dahaga sehari penuh.



Oleh Ilham Bintang*

Ceknricek.com - Semua bulan dicipta istimewa. Namun tetap Ramadan paling istimewa. Tuhan “mendesain” secara khusus Ramadan sehingga menjadi bulan penuh berkah dan ampunan. Betapa indahnya menahan lapar dan dahaga sehari penuh. 

Betapa nikmatnya berbagi dengan kaum duafa saat berbuka dan makan sahur. Betapa harmoninya kehidupan saat salat-salat berjamaah didirikan.

Di bulan suci itu disediakan berlimpah ruah kenikmatan. Tidur orang berpuasa saja berpahala. Maka, kalau kita menyimak “desain” itu, jelas Tuhan selalu berperasangka baik pada kita. Sangat “berharap” kita selalu suci kembali, seperti bayi, tanpa dosa. Luar biasa.

Keluarbiasaan Ramadan itulah yang menjelaskan mengapa umat Islam di seluruh dunia selalu antusias menyongsong datangnya bulan suci itu. Dan, menangisinya setiap kali akan berlalu. 

Kegembiraan itu, misalnya, kita saksikan diekspresikan lewat berbagai ritual menurut tradisi dan budaya masing-masing bangsa. Tak terkecuali umat Islam di Indonesia. Lihat saja, di berbagai daerah ritual sesuai tradisi masing–masing amat mengagumkan.

Ada cerita menarik di awal turunnya perintah berpuasa. Di awal-awal Islam. Sebenarnya, banyak umat yang sempat mengeluhkan beratnya menjalani ibadah saum itu. Namun, karena Dia adalah Zat Yang Maha Meringankan, maka Tuhan pun “merevisi” teknis operasional puasa. 

Maka, suami boleh menggauli istri sejak magrib hingga imsak. Dulu, maksudnya di awal-awal Islam, durasi waktu untuk urusan itu dibatasi hanya setelah azan magrib sampai isya. Hanya sekitar satu jam, setara dengan durasi umumnya sinetron, yaitu sekitar 48 menit. 

Bisa dibayangkan memang repotnya andaikata ketentuan dulu itu masih berlaku hingga sekarang. Istilah orang Jakarta, boro-boro dosa hapus. Malah tiap tahun bisa makin bertambah.

Keistimewan lain Ramadan karena di bulan itulah Alquran, yang menjadi tuntunan perilaku hidup umat, diturunkan. Puasa diwajibkan hanya di bulan Ramadan itu saja. Di bulan itu, Tuhan menjanjikan akan mengampuni dan menghapus dosa-dosa kita.

Dikrangkeng

Begitu besar cinta dan kasih Tuhan kepada kita, selama Ramadan, setan, jin, iblis, dedemit, ditangkapi kayak teroris. 

Golongan mahluk yang “profesinya” memang untuk menggoda, menyesatkan manusia, “dicutikan”. Semua dedemit itu dimasukkan dalam kerangkeng, kaki dan tangannya pun dirantai supaya tidak berkeliaran. Supaya tidak mengganggu kekhusyukan kita beribadah.

Tinggallah kini bagaimana memperkuat tekad menjaga kesucian bulan Ramadan. Kita harus mengendalikan diri di bulan suci ini. Jangan memberi peluang sekutu dedemit, setan, jin, dan iblis menertawakan kita. 

Jangan biarkan mereka lancang bilang: Tuhan lihatlah sendiri umat-Mu. Siapa meniru siapa. Kami dikerangkeng begini saja, manusia tetap tidak berubah dari watak aslinya. 

Puasanya hanya ditandai tidak makan-minum belaka. Malah bulan Ramadan dibalikkan maknanya. Dijadikan “tameng” saja untuk semakin bersimaharajalela mencuri hak orang lain.

Nah! Jangansampai dedemit itu makin congkak lantaran kebebalan kita sendiri.

Selamat menjalankan ibadah puasa. Mohon maaf lahir dan batin.

*Penulis adalah wartawan senior