Mengubah Silat Kampung Jadi Beladiri Bergengsi

Category: Berita -> SOSIAL BUDAYA | Posted date: 2018-05-18 15:47:58 | Updated date: 2018-05-18 03:55:13 | Posted by: Rihat Wiranto


Perjuangan Eddie M. Nalapraya untuk mengembangkan pencak silat hingga ke suluruh dunia penuh dengan suka duka. Awalnya pencak silat dianggap sebagai bela diri kampungan. Tapi berkat perjuangan berbagai pihak, salah satunya Eddie, panggilan akrabnya, pe



Ceknricek.com - Perjuangan Eddie M. Nalapraya untuk mengembangkan pencak silat hingga ke suluruh dunia penuh dengan suka duka. Awalnya pencak silat dianggap sebagai bela diri kampungan. Tapi berkat perjuangan berbagai pihak, salah satunya Eddie, panggilan akrabnya, pencak silat sudah menjadi ilmu bela diri bergengsi.

Eddie banyak mendapat penghargaan baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Penghargaan terbaru diperoleh dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Kamis 3 Mei 2018. 

“Dulu atlet pencak silat tidak berani memakai seragam perguruan di depan umum. Orang menganggap bela diri kampungan. Makanya saya ingin pencak silat mendunia. Kalau ada bule main pencak silat, biasanya orang kita baru kagum,” kata Eddie kepada Ceknricek.com di Padepokan Pencak Silat, Jakarta Timur, Senin (14/5). 

Ada peristiwa yang membuat dia sangat terharu hingga tak kuasa menahan tangis. “Waktu itu saya menerima penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan diberi gelar Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Pratama dari Pemerintah Republik Indonesia pada 2010,” katanya. 

Ia sangat tersentuh hatinya atas penghargaan itu. “Selama 70 tahun baru sekali itu pencak silat disebut di Istana Negara,” kata Eddie tak bisa menahan air matanya. “Saya terharu sekaligus bangga.”

Pada masa muda, Eddie sebenarnya  tidak mempelajari silat secara khusus. “Seperti anak Betawi pada umumnya saya main pukul-pukulan saja,” kata anak dari pasangan Mohammad Soetarman dan Marsati. 

Tapi kegemarannya terhadap bela diri sangat berguna ketika ia menapaki karier militer. Eddie yang lahir di Tanjung Priok, Jakarta Utara, 6 Juni 1931 mangawali karier militer di Badan Keamanan Rakyat pada 1945. Ketika terjadi perang revolusi kemerdekaan, pada 1947, Eddie mengungsi ke Tasikmalaya, Jawa Barat.

Ia bergabung dengan Detasemen Garuda Putih yang dipimpin Kapten Burdah yang merupakan ayah dari penyanyi Rhoma Irama. Ia pensiun dengan pangkat Mayjen TNI pada 1983.

“Saya mulai tertarik pada pencak silat, ketika ada aksi militer Belanda pertama, Juli 1947. Saya bergeriliya bersama keluarga besar pencak silat yang bahu membahu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,” kata Eddie yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Badan Musyawarah Masyarakat (BAMUS) Betawi, 1996-1998.

Sejak bergaul dengan kalangan silat, cintanya pada dunia bela diri Indonesia ini makin besar. Pada 1978, ia dipercaya menjadi Ketua Pengurus Daerah Ikatan Pencak Seluruh Indonesia (IPSI) DKI Jakarta. 

Setahun setelah menjabat Ketua IPSI DKI Jakarta, Eddie menggelar acara Silaturahmi Pencak Silat Jakarta yang dihadiri 23.000 orang. “Itu adalah pertemuan terbesar para pencak silat yang ada pada saat itu,” katanya bangga.

Sejak saat itu pencak silat mulai berkembang pesat dan orang tak malu lagi memakai pakaian silat ke mana-mana.

Pada 1980, ia menjadi pemrakarsa terbentuknya Persekutuan Pencak Silat Antar Bangsa (Persilat). Ini adalah wadah aktualisasi diri pesilat internasional, seperti Persekutuan Silat Singgapore (PERSISI), Persekutuan Silat Kebangsaan Malaysia (PESAKA) dan utusan dari Brunei Darusalam. Tahun itu juga, ia pun terpilih sebagai Presiden Persilat.

Berikutnya, pada 1981-2003, mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 1984-1987 ini, didaulat menjadi Ketua Umum PB IPSI. Selanjutnya, berkat ketelatenannya, ia sukses membuat Kejuaran Pencak Silat Dunia dengan menggandeng pesilat dari Malaysia dan Singapura pada 1982 dan 1984 di Jakarta. 

Berikutnya kejuaran dunia pencak silat digelar pada 1986 di Wina Austria, 1987 di Malaysia, 1988 di Singapura, 1990 di Den Haag Belanda, dan 1992 di Indonesia. Berkat. “Pada Sea Games 1987 pencak silat mulai dipertandingkan. Bahkan sejak 2003 pencak silat sudah diakui oleh Olympic Committee of Asian (OCA) Komite Olimpiade Asia,” ujarnya.

Pencak silat telah resmi diperlombakan pada Asia Beach Games 2008 di Bali. Lalu, dilombakan dalam ajang Asia Martial Art Games 2009 di Thailand, juga Asian Indoor Games di Hanoi, November 2009.

Masih banyak sederet penghargaan untuk Eddie. Tahun 2005, ia menerima anugerah selendang kehormatan tertinggi dari Pertumbuhan Seni Silat Lincah Malaysia. Pada 2008, ia ditetapkan sebagai Bapak Pencak silat Eropa di Swiss, berbarengan dengan ajang kejuaraan pencak silat Eropa.

Berikutnya, pada Mei 2011, Eddie mendapat gelar Doctor of Philosophy dalam bidang Martial Art dari Asia Pacific Open University, Malaysia.