Rekomendasi Penceramah Yang Meresahkan

Category: Berita -> SOSIAL BUDAYA | Posted date: 2018-05-20 11:53:11 | Updated date: 2018-05-20 08:50:44 | Posted by: Rihat Wiranto


PARA mubaligh alias penceramah agama dan juga jamaahnya sedang resah. Ini gara-gara rekomendasi yang baru saja dikeluarkan Kementerian Agama. Itulah daftar 200 penceramah yang dinilai telah memiliki syarat cukup untuk diundang berceramah.



Ceknricek.com - PARA mubaligh alias penceramah agama dan juga jamaahnya sedang resah. Ini gara-gara rekomendasi yang baru saja dikeluarkan Kementerian Agama. Itulah daftar 200 penceramah yang dinilai telah memiliki syarat cukup untuk diundang berceramah.

Tujuannya baik. Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin mengatakan mereka membuat daftar itu untuk merespon pertanyaan masyarakat: siapa penceramah agama yang direkomendasikan pemerintah?

“Penceramah yang masuk daftar adalah mereka yang mempunyai kompetensi keilmuan agama yang mumpuni, reputasi yang baik, dan berkomitmen kebangsaan yang tinggi,” ujar Menteri Agama.

Dari daftar itu muncullah nama para tokoh terkenal seperti Said Aqil Siraj, Abdullah Gymnastiar (AA Gym), Ma'ruf Amin, Muhammad Din Syamsuddin, Nasaruddin Umar, Moh Arifin Ilham, Haedar Nasir, Yusuf Mansur, dan Mama Dedeh. 

Mereka itu memang penceramah yang memiliki rating tinggi di televisi atau media massa lainnya dan sering tampil menjadi sumber berita. 

Namun, umat Islam Indonesia lebih 200 juta orang. Tersebar di pelbagai pelosok nusantara. Tak heran, reaksi langsung bermunculan atas daftar yang cuma berisi 200 nama tersebut. 

Mengapa ustad sekaliber Abdul Somad, Adi Hidayat, dan Hanan Attaki tidak masuk dalam daftar tersebut. Padahal, mereka sangat terkenal.

Banyak jamaahnya. Dan jika tampil di pengajian atau majelis taklim di berbagai tempat, misalnya, lokasi tempat ceramahnya selalu membludak. Bukan cuma itu. 

Karena aktif juga di media sosial, para ustadz tersebut juga mempunyai follower jutaan orang. Di facebook, dan YouTube. Wajar, jika reaksi pun bermunculan. Mengapa Ustadz Somad tidak masuk? Itu di antara pertanyaan paling sering muncul di media.

Menjawab keresahan jamaahnya, Abdul Somad menjawab dengan gayanya yang santai lewat media sosial. "Sebab Kemenag tidak ingin mengecewakan masyarakat. Jadwal ceramah saya sudah penuh sampai April 2020," jawab Abdul Somad.

Dalam ceramahnya yang tersebar di YouTube, Abdul Somad sering menyatakan tidak pernah pilih pengundang. Baik itu di kota, desa maupun pelosok. Sehingga wajar jadwalnya begitu penuh.

Ustad Yusuf Mansur yang namanya masuk daftar 200 nama penceramah Kementarian Agama, tampaknya juga kurang sreg dengan kebijakan Kemenag itu. Ia mengatakan, terus berdoa agar langkah Kemenag tersebut tidak menimbulkan perpecahan.

"Saya berdoa dan berharap enggak ada kegaduhan gara-gara daftar nama itu," tulis Yusuf Mansur di akun media sosial instagram pribadinya, Sabtu (19/5).

Ia sendiri tidak ingin masuk daftar itu. "Gak kepengen juga saya,” imbuhnya.

Yusuf Mansur membenarkan rekomendasi itu memang bisa membelah para penceramah dan jamaahnya.  Yakni antara penceramah yang masuk dan yang tidak masuk daftar.

Begitu juga sejumlah penceramah lain yang namanya ada di daftar itu. “Rekomendasi itu berpotensi memecah-belah penceramah dan jamaahnya,” kata Ustadz Kahfi Amin, 66.

Ahad pagi 20/5/18, Ustadz yang sudah berdakwah sekitar 42 tahun itu sibuk menjawab pertanyaan jamaahnya di Masjid Al Ikhwan, Taman Meruya Ilir, Jakarta Barat. Mengapa namanya tidak masuk dalam daftar. “Yang masuk daftar itukan penceramah Istana. Saya inikan cuma penceramah tingkat RT,” ujarnya, bergurau.

Lantas, apa sebenarnya motif dibalik pembuatan daftar tersebut?

Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama atau disingkat GNPF-Ulama, Yusuf Muhammad Martak pun menyesalkan munculnya daftar penceramah rekomendasi Kemenag itu.

"Saat bangsa Indonesia lagi berkabung atas korban bom, menteri agama malah mengeluarkan daftar dai. Atas dasar apa membuat list tersebut?” katanya pada ceknricek.com. 

Dia mempertanyakan, siapa sebenarnya yang berhak menentukan kelayakan berceramah para penceramah. “Daftar ini malah menimbulkan kegaduhan baru,” ujarnya. 

“Saya baca ada dua ustadz yang minta namanya dicoret  dari daftar, yaitu Fahmi Salim dan Yusuf Mansur. Mungkin akan banyak lagi yang minta namanya dihapus,” katanya. 

Yusuf Martak menyatakan heran jika ada yang meragukan jiwa NKRI para ulama. “Berdirinya NKRI antara lain berkat  jasa ulama dan umat Islam,” katanya.

Wakil Ketua Komisi II DPR Mardani Ali Sera juga menyayangkan keluarnya rekomendasi Kemenag itu. Sebab seperti kata para pendakwah lain, langkah itu amat berpotensi memecah belah masyarakat.

“Silakan ada daftar 200. Tapi jangan membatasi yang lain. Ini langkah yang membuat kita terbelah,” kata Mardani.

Dia menyarankan agar sebaiknya MUI saja yang membuat daftar sehingga tidak ada penolakan.

Ketua Umum MUI K.H Ma’ruf Amin ketika dihubungi Ceknricek.com menyatakan pihaknya bisa memahami jika daftar Kemenag itu menyebabkan hanya terbatas penceramah yang bisa masuk. 

“Karena patokan kriteria Kemenag itu lebih tinggi dari kriteria MUI,” katanya. Misalnya, penceramah itu harus memiliki rasa dan wawasan kebangsaan yang kuat. Termasuk memiliki semangat toleransi yang juga kuat.

“Kami memiliki daftar penceramah dengan kriteria yang tidak terlalu ketat seperti yang dikeluarkan pemerintah.”

MUI berpatokan jika sudah memiliki ilmu agama yang cukup dan alirannya tidak menyimpang, sudah boleh berdakwah.

KH Ma’ruf tidak mempermasalahkan kriteria penceramah versi Kemenag. Malah, MUI nantinya juga akan membantu Kemenag untuk memperbaharui daftar yang ada sekarang. “Kami akan update data ustad agar sesuai dengan perkembangan”, kata Kiai Ma'ruf.