Motif Kami Untuk Membantu, Bukan Politik

Category: Berita -> SOSIAL BUDAYA | Posted date: 2018-05-21 22:35:48 | Updated date: 2018-05-21 10:56:22 | Posted by: Rihat Wiranto


Ceknricek.com -



Wawancara Khusus Menteri Agama 

Ceknricek.com - Keputusan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin  merilis daftar 200 penceramah yang direkomendasikan oleh pihaknya menimbulkan kontroversi. Menurut Menag, penceramah yang masuk daftar itu sudah memenuhi syarat yaitu mempunyai kompetensi keilmuan agama yang mumpuni, reputasi yang baik, dan berkomitmen kebangsaan yang tinggi.

Namun, bebebapa tokoh masyarakat justru menolak penerbitan daftar tersebut. Bahkan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj  menentang  langkah Kementerian Agama itu. Ketua Majelis Pemusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan menyebut Kementerian Agama cuma bikin  blunder karena  daftar tersebut  memicu kegaduhan.

Yusuf Mansur terang-terangan menolak  dirinya dimasukkan dalam daftar 200 nama penceramah versi Kemenag. Fahmi Salim pun meminta agar namanya dicabut dari daftar.

Untuk mengkonfirmasi berbagai persoalan tersebut, tim redaksi Ceknricek.com Senin (21/5) siang menemui Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di kantor Kementerian Agama, di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Senin (21/5/2018). 

Menteri menyangkal  tidak ada motif politik di balik pembuatan daftar 200 penceramah. Daftar itu dibuat  untuk memenuhi permintaan berbagai kalangan yang menginginkan penceramah yang bisa membawa kebaikan bersama. Berikut petikan wawancara khusus Rihad Wiranto, Ariful Hakim dari Ceknricek.com dengan Menteri Agama, Lukman Hakim Safiuddin.

Setelah Kementerian merilis 200 penceramah, berbagai kalangan merasa keberatan, tanggapan Anda?

Saya tentu harus menelaah dulu  keberatan beberapa kalangan menyangkut rilis 200 penceramah tersebut. Karena jenis keberatan  bermacam-macam. Tapi perlu kami tekankan, nama-nama yang dirilis itu bukan dimaksudkan untuk seleksi, standarisasi, akreditasi, atau sertifikasi.

Apa yang kami lakukan  merupakan bentuk pelayanan kepada masyarakat yang meminta kepada kami  nama-nama penceramah. Permintaan berasal dari instansi, kementerian, BUMN, dan kantor-kantor yang memiliki masjid serta majelis taklim dan sebagainya.  Permintaan itu semakin banyak menjelang bulan Ramadan ini. Tentu kewajiban kami untuk memenuhi permintaan dengan menyodorkan nama-nama penceramah tersebut. 

Nama-nama penceramah itu sebenarnya berasal dari usulan ormas Islam, pengurus masjid besar di Jakarta, dan sejumlah kiai yang kami minta masukannya. Maka terhimpunlah nama nama itu. Lalu kami publikasikan dalam bentuk rilis 200 nama penceramah. Jadi kalau ada yang keberatan, saya ingin tahu apa keberatannya? Kalau nama-nama orang yang ada di dalam daftar dan yang bersangkutan tidak nyaman, ya tentu kami mohon maaf. Kami mencantumkan nama-nama itu atas usulan dari ormas, kiai, dan masjid-masjid. Itulah proses yang sebenarnya terjadi. Kami memohon kepada masyarakat agar jangan tambah meruncingkan masalah ini.

Baca: Rekomendasi Penceramah yang Meresahkan

Dalam penyusunan daftar tersebut, ormas Islam diajak bicara?

Jelas ormas kami libatkan. Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhamadiyah kami libatkan juga. Tentu bukan Pengurus Besar NU yang kami libatkan, tetapi lembaga di bawah NU misalnya lembaga dakwah Nahdlatul Ulama.  Kami di sini memiliki berbagai direktorat seperti Direktorat Bimas Islam, direktorat pembinaan agama Islam, pembinaan syariah dan sebagainya. Masing-masing direktorat tersebut memiliki kontak langsung dengan sejumlah tokoh dan pengurus di sejumlah ormas Islam. Untuk mendapatkan nama-nama penceramah yang baik, kami mendapatkan masukan dari berbagai pihak. 

Tapi Ketua PB NU Said Aqil Siradj justru memprotes. Bagaimana itu?

Yang kami pahami adalah Bapak Said Aqil Siradj  ingin nama-nama yang dilarang yang harusnya didaftar. Kami menghargai pendapat seperti itu. Tapi kami menekankan kembali bahwa nama-nama yang kami rilis adalah penceramah yang mumpuni dan memahami esensi serta  substansi ajaran agama Islam. Mereka memiliki pengalaman cukup. Mereka juga memiliki komitmen kepada nilai-nilai kebangsaan. Nama-nama tersebut berkomitmen kepada Pancasila, Undang-undang Dasar, setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika.

Daftar  yang kami rilis, sekali lagi,  belum final. Kami membuka  peluang  untuk masuknya nama-nama baru. Nanti ada up-dating, ada perubahan sesuai masukan yang kami terima. Saat ini ternyata banyak masukan dari berbagai kalangan.  Bahkan banyak yang memberi masukan nama-nama yang bisa dipertimbangkan untuk masuk rilis pada kesempatan berikutnya. Jadi jika ada nama yang layak tapi belum masuk daftar, mudah-mudahan bisa dimasukkan pada kesempatan lain.

Menurut Anda, apakah ada penceramah yang tidak mendukung NKRI?

Begini, akhir-akhir ini ceramah-ceramah juga ada yang diisi hal-hal yang provokatif, agitatif, menyampaikan ujaran kebencian, bahkan fitnah. Akibatnya umat resah. Kami menerima juga keluhan dari masyakarat. Makanya mereka meminta kepada kami nama-nama penceramah setelah menjumpai ada beberapa isi ceramah yang meresahkan. Isi ceramah mereka pandang  bisa menyebabkan perpecahan antar umat dan merongrong sendi kehidupan bernegara. Itulah sebabnya mereka meminta masukan kepada kami.

Apa yang diakukan Kemenag terhadap mereka yang provokatif?

Kami mengimbau mereka  agar rumah ibadah dijaga kesuciannya. Maka dari itu,  April tahun lalu kami mengeluarkan seruan tentang ceramah di rumah ibadah. Ada sembilan poin di situ yang  harus dipatuhi. Bukan hanya penceramah, tapi pengurus rumah ibadah dan jamaah juga harus mematuhinya. Misalnya, jangan mengangkat hal-hal yang sifatnya ikhtilaf,  tidak prinsipil yang menyebabkan munculnya aneka pandangan. Padahal ini tidak perlu dibesar- besarkan dan berpotensi memecah belah umat.  Masyarakat Islam sangat beragam. Jadi alangkah baiknya, kita membahas masalah pokok yang universal yang bisa menyatukan umat. Kami juga berkomunikasi dengan berbagai kalangan untuk menciptakan kehidupan beragama yang harmonis. 

Apakah Kemenag memiliki daftar penceramah yang provokatif?

Kami tidak memiliki daftar penceramah yang, katakanlah, ekstrem. Tapi kami mendapatkan berbagai masukan karena beberapa ceramahnya berisi sesuatu yang meresahkan. Karena itu mereka mencari penceramah yang yang tidak ekstrem.

Di Indonesia ada ribuan penceramah. Apakah Anda akan melibatkan kantor wilayah (Kanwil) di daerah untuk membuat daftar serupa?

Nama-nama yang terdapat dalam daftar 200 penceramah itu  tidak melibatkan Kanwil. Ini soal waktu. Tentu kami akan koordinasi dengan Kanwil untuk koordinasi. Kami akan   meminta kembali masukan dari ormas Islam, tokoh agama, untuk mendapatkan penceramah dalam rangka memenuhi permintaan masyarakat.

Tapi ini sangat tergantung dari permintaan. Kalau tidak ada permintaan, ya tidak ada urgensi untuk membuat  daftar penceramah. Intinya kami melayani permintaan. Kalau kami tidak memenuhi permintaan mereka, kami yang salah.

Apakah pembuatan daftar penceramah ini diketahui Presiden?

Presiden tidak tahu menahu soal ini. Ini adalah kewajiban kami untuk melayani umat  dalam rangka menjalankan aktivitas keagamaan.

Baca: Menag dan Mubaligh Diminta Dialog

Ada ajakan dialog dari dari pemuka agama untuk membicarakan masalah ini. Anda bersedia?

Kami akan undang ormas-ormas Islam untuk mendengar berbagai masukan agar apa yang kita lakukan bisa lebih baik lagi.

Abdul Somad, Hanan Attaki, dan Adi Hidayat tidak masuk dalam daftar. Apakah mereka tidak memenuhi syarat, atau tidak ada masukan nama-nama tersebut?

Mereka belum diusulkan oleh pengurus masjid atau perorangan. Tapi sekarang memang ada masukan dari publik dan kita akan pertimbangkan. Nah, khusus untuk Abdul Somad, sebelum dirilis, dari pihak direktorat menghubungi Beliau untuk dimasukkan dalam daftar. Tapi Beliau meminta jangan dimasukkan karena acaranya padat hingga tahun depan. Ini mungkin kerendahan hati Beliau untuk tidak mengecewakan umat. Sebab, jika Beliau masuk daftar, tentu akan lebih banyak yang meminta untuk ceramah. Itulah mengapa Beliau tidak dimasukkan dalam daftar.

Jadi tidak ada motif politik, Pak?

Tidak sama sekali. Kalau ada maksud seperti itu, justru  penceramah yang punya pengikut banyak akan kami utamakan masuk. Saya sangat termotivasi dengan pendapat Yusuf Mansur yang mengedepankan prasangka baik. Kami tahu, tidak ada yang sempurna.

Tak ada niat untuk memecah belah. Tidak ada penceramah plat merah, plat hitam dan sebagainya. Kami melakukan ini sepenuhnya untuk melayani umat.