Pak Habibie dan Kisah Anak Mantan Presiden

Category: Pengetahuan -> OPINI | Posted date: 2018-05-23 10:29:28 | Updated date: 2018-05-23 10:39:29 | Posted by: Asro Rokan


PERISTIWA ini langka. Empat anak mantan Presiden RI duduk bersama, berbicara tentang reformasi 20 tahun lalu. Ada Puan Maharani, Agus Harimurti Yudhoyono, Yenny Wahid, dan Ilham Akbar Habibie. Istimewanya, pada Serasehan Refleksi Reformasi ICMI, Senin (21



Catatan Asro Kamal Rokan*

Ceknricek.com - PERISTIWA ini langka. Empat anak mantan Presiden RI duduk bersama, berbicara tentang reformasi 20 tahun lalu. Ada Puan Maharani, Agus Harimurti Yudhoyono, Yenny Wahid, dan Ilham Akbar Habibie. Istimewanya, pada Serasehan Refleksi Reformasi ICMI, Senin (21/6) di Jakarta itu, hadir Presiden pertama era reformasi, BJ Habibie.

Krisis ekonomi, aksi mahasiswa, Tragedi Trisakti, kerusuhan hebat di Jakarta dan berbagai daerah, sejumlah pusat perbelanjaan terbakar, menyebabkan Presiden Soeharto mengakhiri 30 tahun kekuasaannya pada 21 Mei 1998. Pak Habibie, wakil presiden saat itu, diangkat sebagai Presiden dalam situasi politik, keamanan, dan ekonomi yang bergejolak.

Puan Maharani, putri Megawati Soekarnoputri, berusia 25 tahun saat itu. Puan berkisah, menjelang kejatuhan Soeharto, ia bertugas sebagai juru masak di rumahnya ibunya di kawasan Kebagusan, Jakarta Selatan. Rumah ini dapur umum bagi aktivis. Rencana menikah gagal karena tidak ada pihak yang mau menyewakan gedung.

Kisah Yenny Wahid lain lagi. Pada masa itu usianya 23 tahun. Saat tertembaknya mahasiswa Trisakti, putri Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid ini, berada di lapangan sebagai wartawan The Sydney Morning Herald Australia. Ia menyaksikan situasi kekacauan terjadi dan berbagai rentetan berakhirnya Orde Baru.

Ilham Akbar Habibie saat reformasi, sedang konsentrasi kuliah di Technical University of Munich, Jerman. Usianya saat itu 35 tahun. Ibu Ainun meneleponnya dan meminta dia menonton CNN. Ilham menyalakan televisi dan menyaksikan ayahnya, BJ Habibie, sedang diambil sumpah sebagai Presiden RI. Ilham pulan ke Jakarta. Di bandara Soekarno-Hatta, dia dikawal anggota pengawal presiden ke Istana. Situasi Istana sangat genting karena isu kudeta terhadap Pak Habibie yang baru dilantik.

Agus Harimurti Yudhoyono, paling muda di antara tiga anak mantan presiden. Saat reformasi, usianya 20 tahun. Ketika itu, Agus sedang menempuh pendidikan di Akademi Militer di Magelang. Melalui televisi, saat Jakarta bergolak, dia menyaksikan prajurit TNI dimusuhi. Agus sedih dan mencoba memahami bahwa ketidaksukaan kepada TNI saat itu antara lain karena peran TNI yang begitu besar selama Orde Baru.

“Saya bersyukur, reformasi mengembalikan TNI pada fungsinya, tidak lagi terlibat politik praktis. Ini salah satu hasil besar reformasi. Saya berharap, TNI jangan lagi ditarik ke politik. Jika ingin berpolitik, harus berhenti dari TNI,” ujar putra tertua Susilo Bambang Yudhoyono ini.

Terima Kasih Pak Habibie

Tokoh utama Serasehan Refleksi Reformasi ini adalah Pak Habibie. Mengenakan batik coklat-putih, Pak Habibie yang baru sembuh dari penyakit jantung, terlihat besemangat. Alokasi waktu satu jam pidato, terlewati.Dalam pidatonya, Pak Habibie tidak menyentuh masa-masa sulit dan gejolak reformasi, melainkan menyorot perjalanan reformasi saat ini.

Menurut Pak Habiibie, reformasi seharusnya adalah perubahan peradaban menuju lebih baik, di antaranya meningkatnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang berlandaskan iman dan ketaqwaan. “Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa Indonesia kalah dengan bangsa-bangsa lain. Reformasi belum mencapai sasarannya,” kata Pak Habibie.

Pak Habibie presiden pertama reformasi, di saat Indonesia bergejolak. Sejumlah kalangan, terutama politisi dan sebagian mahasiswa, menolaknya sebagai presiden, dengan alasan Pak Habibie adalah bagian dari Orde Baru. Namun, Pak Habibie bekerja melampaui apa yang dipikirkan pengeritiknya.

Ketika menerima amanah sebagai presiden, Pak Habibie seperti pilot pesawat yang mengalami turbulensi hebat. Salah dalam mengendalikan, pesawat Indonesia pecah, jatuh berkeping-keping. Lihatah: Inflasi melonjak 77,60% selama 1998, Pak Habibie berhasil menekannya menjadi 2,00% pada tahun 1999. Nilai tukar rupiah Rp 16.800 per 1 dolar AS, Pak Habibie mengangkat rupiah menjadi Rp 6.500 — yang hingga kini nilai tersebur tidak dikembalikan.

Di tengah penolakan terhadapnya — termasuk cemoohan kalangan politisi dan ekonom — Pak Habibie justru memberi landasan reformasi yang sangat kuat, yang mereka nikmati hingga hari ini. Undang-undang politik direvisi, partai-partai bebas berdiri. Pers yang terkekang puluhan tahun, dibebaskan. 

Serikat buruh bebas berdiri, tahan politik dikeluarkan, Dwifungsi ABRI dihapus, undang-undang anti-monolopi dan anti-KKN, dibuat, Bank Indonesia jadi independen. Undang-undang otonami daerah, untuk menjaga Indonesia tetap bersatu, dibuat masa itu. Pak Habibie juga merestrukturisasi dan rekapitulasi perbankan, melikuidasi beberapa bank bermasalah. Pemilihan umum dipervceat dan berlangsung demokratis.

Semua itu dilakukan Pak Habibie dalam waktu 1 tahun dan 5 bulan masa kekuasaannya. Presiden-presiden berikut tinggal meneruskannya. Sayang, kran keterbukaan yang dibuka Pak Habibie, justru menalan dirinya. Pertanggungjawabannya dalam Sidang Umum MPR, ditolak dengan selisih suara hanya 33 suara. 

Para pengeritiknya menyebutkan kesalahan terbesar Pak Habibie lepasnya Timor Timur. Soal ini tentu dapat diperdebatkan. Di fora internasional, Timtim seperti krikil dalam sepatu Indonesia. Setelah Timtim lepas, hubungan dan diplomasi Indonesia tanpa beban.

Puan Maharani, Yenyy Wahid, dan Agus Harimurti Yudhoyono, kini menikmati buah reformasi, yang pondasinya dibuat Pak Habibie. Mereka bebas berpolitik, bersuara, bebas dipilih dan memilih. Mereka berterima kasih dan menempatkan Pak Habibie sebagai negawaran dan teladan. “Negarawan itu langka, bersyukur kita memiliki Pak Habibie, sebagai negarawan,” kata Yenny.

Reformasi sudah 20 tahun. Di tangan mereka, anak-anak muda, masa depan negara ini, terutama — seperti pesan Pak Habibie: perubahan peradaban menjadi lebih baik dan bermartabat.