Kiprah Ki Enthus & Wasiat Sang Ayah

Category: Berita -> SOSIAL BUDAYA | Posted date: 2018-05-23 13:14:40 | Updated date: 2018-05-23 13:27:52 | Posted by: Klasik Herlambang


Kepergian Ki Enthus Susmono menghadap Sang Pencipta mengejutkan banyak pihak, terutama para pelaku dan penikmat seni pewayangan. Almarhum dianggap sebagai pahlawan di tengah gempuran teknologi yang mulai menggeser seni pewayangan.



Ceknricek.com - Kepergian Ki Enthus Susmono menghadap Sang Pencipta mengejutkan banyak pihak, terutama para pelaku dan penikmat seni pewayangan. Almarhum dianggap sebagai pahlawan di tengah gempuran teknologi yang mulai menggeser seni pewayangan. 

Gaya wayang kontemporer yang dianutnya membuat wayang yang selama ini identik dengan kalangan orang tua, bisa diterima oleh semua generasi. Kehadiran Ki Enthus selalu ditunggu-tunggu, dimana pun ia menggelar pementasan wayang.

Namun di balik kesuksesannya, siapa yang menyangka Ki Enthus pernah dilarang orang tuanya untuk menjadi dalang. Orang tua Ki Enthus, Ki Soemarjadihardja yang juga dalang kondang di Tegal, melihat bahwa profesi dalang tidak menjanjikan secara ekonomi.

Darah seni yang sudah terlanjur mengalir dalam diri Ki Enthus, membuat pria kelahiran 21 Juni 1966 ini tak bisa menahan dorongan jiwa seninya. Apalagi para leluhurnya juga dikenal sebagai dalang kondang, termasuk RM. Singadimedja, dalang Keraton Mataram, di zaman Sunan Amangkurat.

Dia pun mulai mengintipi teknik mendalang dari orang tuanya dan kemudian mempraktikkannya saat sang ayah tidur. Sampai akhirnya ia benar-benar mencintai wayang. Semangatnya semakin berkobar saat salah seorang gurunya semasa SMP, menyindir Ki Enthus karena tidak bisa mendalang.

Baca : Mengenang Ki Enthus Susmono : Menerobos Pakem, Merebut Penggemar

Sindiran itu melecut dirinya untuk memperdalam seni pewayangan. Dia mulai mengikuti kegiatan ekstrakurikuler karawitan. Dari bimbingan gurunya inilah, Ki Enthus semakin mahir memainkan gamelan dan teknik mendalang.

Ujian kemampuan mendalang Ki Enthus dimulai di kelas satu SMA, saat berlangsung lomba karya penegak pandega dalam kegiatan ekstrakulikuler pramuka. Ki Enthus menampilkan pertunjukan dengan menggunakan wayang dari batang pohon pisang. Yang menarik, suara gamelan pengiringnya berasal dari mulutnya sendiri.

Mendapat Restu

Ternyata sambutan luar biasa didapatkan Ki Enthus dari penampilannya itu. Namanya langsung mencelat. Undangan-undangan untuk tampil di sekolah-sekolah lain pun berdatangan. Sampai akhirnya salah seorang gurunya mencoba melakukan pendekatan pada ayah Ki Enthus, agar sang anak diizinkan untuk mendalang.

Mendapati kenyataan Ki Enthus memiliki kemampuan di atas rata-rata dalam hal mendalang, Ki Soemarjadihardja akhirnya luluh. Dia memutuskan untuk memoles kemampuan Ki Enthus dengan membuatkan wayang dari kertas untuk latihan.

Baca : Warisan Rumah Wayang Dari Ki Enthus

Kemampuan Ki Enthus pun semakin meningkat. Sehingga dalam acara lustrum kelima SMAN I Tegal pada 24 Agustus 1983, dia didapuk mengisi acara dengan pentas wayang selama dua jam. Sambutan luar biasa pun diterima dari semua yang hadir. Sampai akhirnya sang ayah mentahbiskan dirinya menjadi seorang dalang.

Sayangnya gelar dalang yang diterima dari sang ayah, harus diikuti dengan suasana duka, karena tidak lama kemudian Ki Soemarjadihardja meninggal dunia. Kepergian sang ayah membuat kondisi ekonomi keluarga Ki Enthus bergejolak. Ki Enthus pun memutuskan untuk menggantikan posisi sang ayah sebagai tulang punggung keluarga, dengan mendalang dari satu tempat ke tempat lain.

Wasiat sang ayah bahwa sebelum memahami pakem wayang, harus memahami pakem kehidupan dunia dulu, sangat dipegang erat oleh Ki Enthus. Dalam setiap penampilanya dia bisa dengan mudah membius dan merebut hati para penonton, dengan wejangan-wejangan hidup yang disampaikannya. 

Dan hal itu terus diterapkan oleh Ki Enthus hingga di akhir hayatnya. Dalam setiap penampilannya selalu diikuti dengan penyampaian beragam kritik serta nasihat terhadap kondisi yang terjadi di masyarakat.