Warisan Rumah Wayang Dari Ki Enthus

Category: Berita -> SOSIAL BUDAYA | Posted date: 2018-05-23 13:20:46 | Updated date: 2018-05-23 13:22:36 | Posted by: Klasik Herlambang


Nama Ki Enthus Susmono semakin berkibar setelah memenangi Festival Dalang Remaja Tingkat Jawa Tengah di Wonogiri (1988).



Ceknricek.com - Nama Ki Enthus Susmono semakin berkibar setelah memenangi Festival Dalang Remaja Tingkat Jawa Tengah di Wonogiri (1988). 

Dari situ dia mulai berpikir untuk menciptakan kreasi wayang baru, agar bisa senantiasa diterima masyarakat sampai kapan pun. Hingga kemudian terpikir untuk menciptakan wayang Rai Wong. Pilihan itulah yang mengantarkan dirinya meraih beragam prestasi lain, yang membuat namanya semakin dikenal.

Pola pikir yang pragmatis bahwa dalang harus laku mendorong Ki Enthus untuk menabrak pakem klasik dari seni wayang. Sebagai tulang punggung keluarga dengan 11 anak angkat yang ditinggalkan almarhum sang ayah, menuntut Ki Enthus benar-benar memutar otak agar dapat uang. Apa yang dilakukan Ki Enthus mengeksplorasi lakon wayangnya, akhirnya mendapat tempat tersendiri di hati penggemarnya.

Baca : Mengenang Ki Enthus Susmono : Menerobos Pakem, Merebut Penggemar

Satu hal yang menarik adalah, Ki Enthus menciptakan sendiri semua karakter tokoh wayang yang dimainkannya, baik wayang golek maupun wayang kulit. Bahkan tangan-tangannya bisa tetap terampil mengukir tokoh wayang, di tengah kesibukannya menerima tamu.

Saat ini setidaknya tersimpan lebih dari 10.000 koleksi wayang buatan Ki Enthus yang tersimpan di galeri yang disebut Konsorsium Rumah Wayang, yang dibuat pada 2012. Tempat ini berada di kompleks rumah pribadi Ki Enthus yang juga dijadikan sanggar pembuatan wayang, Sanggar Satria Laras.

Selain menjadi tempat pameran dan pembuatan, Konsorsium Rumah Wayang juga menjadi tempat pembelajaran bagi masyarakat terkait dunia pewayangan. Karena itulah tak jarang Ki Enthus menerima tamu mahasiswa dari luar negeri, yang ingin memperdalam pengetahuan tentang wayang di Indonesia.

Baca : Kiprah Ki Enthus & Wasiat Sang Ayah

Pada 18 Mei 2015, Rumah Wayang kedua juga dibangun Ki Enthus setelah ia terpilih sebagai Bupati Tegal. Lokasi dipilih di rumah dinas bupati, sehingga dia bisa sekalian memberikan pemahaman dan pelajaran terkait wayang, pada tamu-tamu yang berkunjung ke rumah dinasnya.

Tugas Ki Enthus untuk memperluas pemahaman masyarakat tentang wayang tampaknya sudah tuntas. Di usianya yang masih relatif muda, dia menghadap Sang Pencipta dengan membawa segudang prestasi luar biasa di dunia pewayangan. Peninggalan pakem kontemporer serta dua buah rumah wayang, seakan menjadi bagian dari khasanah kekayaan seni pewayangan di nusantara.