In Memoriam Derek Manangka

Category: Berita -> SOSOK | Posted date: 2018-05-27 05:07:14 | Updated date: 2018-05-27 07:53:25 | Posted by: Ilham Bintang


TIADA  lagi Derek Manangka. Wartawan senior, kawan yang hangat, dan sahabat diskusi



Catatan Ilham Bintang

Ceknricek.com- TIADA  lagi Derek Manangka. Wartawan senior, kawan yang hangat, dan sahabat diskusi dan berdebat seru tentang banyak soal.

Kepergian Derek Sabtu (26/5) pagi betul-betul mengejutkan. Mendadak. Saya berusaha tidak percaya.  Saat pertama kali menerima  kabar dari seorang kawan pagi tadi, saya berharap itu hoax. Sebagaimana banyak berita hoax tentang tokoh yang dibuat meninggal di media sosial.

Dua hari lalu saya masih ngobrol di telpon. Disambung dengan chatt di WA. Waktu telponan hari Rabu (23/5) malam saya wawancarai dia soal pengaduan Partai Gerindra. Dia diadukan Partai Gerindra ke polisi gara-gara statusnya di FB soal Revisi UU Anti Terorisme.  Malam itu juga penjelasannya saya turunkan ceknricek.com.

Dia senang waktu saya kirimi link berita tersebut. Dia kasih tanda jempol di WA.

Statusnya di FB yang jadi perkara  lebih kurang bunyinya begini: “Anggota DPR yang hambat revisi UU Anti Terorisme, berarti dia teroris.
Penjelasan Derek dalam wawancara masuk akal. Faktanya dia tidak menyebut nama orang. Begitu pun partai anggota DPR -RI dimaksud.
“ Jadi mau nuntut apa dari saya? tanyanya.

Ada sebelas nama yang diadukan Gerindra. Salah satu Derek Manangka. Kesebelas orang itu dituduh memfitnah Partai Gerindra di media sosial.

Terinsiprasi wawancara saya, Derek akhirnya menulis sendiri di FB keesokan harinya Kamis  (24/5) pagi. Penjelasan itu ditujukan kepada sejumlah rekan yang bertanya langsung kepadanya soal pengaduan Partai Gerindra. Ia menyebut nama saya juga sebagai salah satu yang bertanya.

Negeri ini kehilangan Derek

Derek betul- betul telah tiada.
Tondi, putera Derek Manangka, mengkonfirmasi berita duka itu.
“ Ya, Om. Tadi pagi jam 09.30. Maafkan ayah,” sahut Tondi masih sesenggukan. Kira-kira satu jam setelah Derek dinyatakan wafat di RS. Pagi itu saya  mengontak  nomer ponsel mendiang, dan yang mengangkat Tondi.

Derek meninggal dunia dalam usia 67 tahun ( lahir 9 Agustus 1950). Dua hari sebelumnya dia dibawa ke RS karena gangguan pernafasan. Sesak nafas. “ Ayah memang ada gangguan jantung. Dia meninggal karena sakit itu,” Tondi menjelaskan.

Tentu tak cuma saya kehilangan Derek Manangka. Juga tak cuma komunitas wartawan. Saya yakin  negeri ini kehilangan seorang wartawan yang selalu berpikir kritis. Derek terakhir bekerja di media sebagai  pemimpin redaksi Seputar Indonesia RCTI (2003-2005).

Derek sosok wartawan yang mengabdikan seluruh hidupnya dalam dunia jurnalistik. Sejak masih kuliah di Sekolah Tinggi Publistik ( kini IISIP) sambil bekerja sebagain wartawan koran sore terkemuka “Sinar Harapan”.  Derek termasuk beruntung di era kemajuan teknologi informasi. Ia menikmati keleluasaan berekspresi lewat media sosial Facebook. Saya kira dia  termasuk orang  pertama yang mengisi laman FB dengan karya jurnalistik. Amat produktif.

Tulisan-tulisannya mengalir setiap hari lewat rubrik “Catatan Tengah” yang cukup banyak followersnya. Analisisnya tajam menyengat. Itu menjelaskan mengapa  ia kerap hadapi ancaman diperkarakan oleh pihak yang terkena sengatan kritiknya. Sebelum Gerindra, relawan Jokowi juga pernah mengadukan dia.

Gara-gara tulisannya yang mengulas kedekatan Jokowi dan Rini Soemarno yang disindirnya seakan mengandung  “love affair.” Tapi tulisan  itu sekaligus “menolongnya”. Artinya, kritiknya terhadap anggota DPR-RI yang terkait Revisi UU Anti Terorisme bukan diorder oleh pihak pemerintah. Bukankah Jokowi pun dikritiknya?

Prinsip kerja jurnalistik secara universal memang membuka apa- apa yang kerap hendak ditutupi oleh orang lain. Derek saya duga penganut keras paham itu.

Tentu ia  paham itu sulit bisa diwujudkan dalam media mainstream. Di era mana pun. Orde Lama. Orde Baru. Juga di Era Reformasi yang  mayoritas pemilik media mainstream ikut terjun dalam dunia politik praktis. Itu yang saya sebut di atas tadi Derek beruntung. Saat nyalinya masih sangat besar dia ketemu saluran media sosial. Seperti FB. Di media ini tidak ada ponggawa.

Ponggawa adalah diri kita sendiri. Derek betul- betul merdeka di medianya itu. Girahnya luar biasa. Seperti anak kecil ketemu mainan. Paling- paling hambatannya diadukan ke polisi. Tapi sejauh ini belum ada yang benar-benar serius. Sampai menghadapkannya ke meja hijau. Apalagi sampai jatuh vonis untuk menghukum pikirannya.

Dengan bekal pengalaman menjadi wartawan puluhan tahun, Derek tentu punya instink kuat. Punya perhitungan bagaimana bisa menghindar dari lubang-lubang yang bisa membuatnya kejeblos . Apalagi ia pengalaman  bekerja di banyak media besar. Sebut saja Prioritas, Media Indonesia, Sinar Harapan, Radio Trijaya, dan RCTI.

Biografi

Kegiatan lain Derek semasa “pensiun” bekerja di media mainstream adalah menulis buku biografi beberapa tokoh. Yang sudah rilis antaranya Surya Paloh, Poppy Dharsono, dan lain- lain. Biografi Ketua DPR-RI Bambang Soesatyo kabarnya  Derek juga yang menulis. Masih dalam proses perampungan ketika dia dipanggil menghadap Tuhan.

Dua tahun lalu ia pernah intens  mengontak saya. Siang malam menelpon. Seperti biasa ngobrol banyak hal. Diseling dengan nanya ini itu tentang saya. Sampai suatu kali ia minta ketemu. Saya terima dia di kantor PWI Pusat suatu siang.

Saat itu dia meminta izin untuk menulis biografi saya. Sesuatu yang tidak pernah saya pikirkan. Sesuatu yang tidak pernah saya perhitungkan. Seorang wartawan senior, beken, bereputasi baik dalam dunia jurnalistik memperhatikan saya. Dia cerita sudah lama mengamati saya. Dan, merasa terpanggil  untuk menulis biografi saya.

Saya menyampaikan terima kasih atas perhatiannya. Saya bilang ini  suatu kehormatan besar bagi saya. Namun, saya tidak bisa langsung mengiyakan. Saya perlu bicarakan dengan isteri dan anak-anak. Maka itu saya minta waktu untuk dapat memutuskan.

Benar. Perkiraan saya tak meleset. Isteri dan anak-anak keberatan. “ Riya,” kata isteri. Dan, semua anak-anak mendukung. Riya, dalam menurut Islam  adalah suatu usaha penonjolan diri. “Allah tak suka itu,” tambah isteri. Saya terdiam. Menyerah.

Beberapa hari kemudian alasan itulah yang saya sampaikan kepada Derek. Ia maklum. Bilangnya begitu. Tapi saya merasa dia kecewa. Saya khawatir, dia menganggap saya sombong.  Mungkin dia belum pernah ditolak dalam urusan begini. Yang terjadi justru  orang lain berebut minta ditulis biografinya.

Saya sungguh-sungguh kehilangan Derek. Seorang jurnalis sejati yang masih menyimpan girah besar berkiprah di dunia jurnalistik. Seorang wartawan yang amat terganggu pada praktik-praktik penyelewengan kekuasaan.

Dia bukan cuma seorang sahabat, tetapi juga guru sekaligus, tempat saya menimba ilmu.

Selamat jalan kawan. Semoga Brother jauh lebih tentram di sisiNya sekarang.

Jakarta, Sabtu, 26 Mei 2018