Tarawih Akbar, Merajut Kembali Persaudaraan Warga Jakarta

Category: Pengetahuan -> OPINI | Posted date: 2018-05-28 09:04:03 | Updated date: 2018-05-28 09:29:48 | Posted by: Tony Rosyid


Tarawih akbar berlangaung di Istiqlal.



Oleh : Tony Rosyid*

Ceknricek.com - SETELAH pro-kontra shalat tarawih di Monas, akhirnya Anies Baswedan membuat keputusan untuk memindahkannya ke Istiqlal. Lah, kok pindah?

Nasihat sejumlah ulama, termasuk ketua MUI K.H Makruf Amin, didengar. Lebih baik shalat tarawih di masjid, kata Kiyai kharismatik ini. Di Istiqlal lebih afdhal dari pada shalat tarawih di Monas, tambah K.H. Kholil Nafis, tokoh, da'i dan intelektual muda kebanggaan warga NU ini. Anies juga dengar pendapat dengan K.H. Zaitun Rasmin, seorang ketua Organisasi Ulama se-Asia Tenggara dan wasekjen MUI. Kabarnya Anies juga meminta nasehat kepada sejumlah ulama dan habaib yang lain sebelum akhirnya membuat keputusan untuk pindah.

Anies patuh, sami'na wa atha'na. Sendiko dawuh. Begitulah seharusnya Umara terhadap ulama. Tidak melawan, apalagi mem-peta konflik dan melakukan kriminalisasi.

Ulama adalah komunitas yang memiliki integritas dan otoritas keilmuan. Hatinya lurus dan pikirannya bersih. "Nothing to lose". Sudah sepatutnya diberikan tempat yang layak untuk memberi nasehat dan mengontrol umara. Sikap Anies dalam hal ini "on the track". Sudah seharusnya ulama dipatuhi oleh umara.

Pemimpin yang tak patuh pada ulama akan kualat, begitu kata orang Jawa. Anies yang hidup dan dibesarkan di Jawa tahu filosofi itu. Apalagi ia dididik dalam keluarga yang taat beragama. Anies pasti tahu betapa otoritatifnya fatwa dan nasehat ulama.

Kehadiran 200-250 ulama dan habaib se-Jabodetabek di acara Tarawih Akbar memiliki arti penting bagi Anies-Sandi. Kehadiran mereka sebagai bentuk apresiasi dan dukungan kepada Anies-Sandi dalam menjalankan amanah sebagai Gubernur-Wagub Jakarta. Tidak saja secara moral, tapi juga secara sosial. Kehadiran mereka akan menguatkan legitimasi kepemimpinan Anies-Sandi. Sebab, ulama adalah representasi dari umat muslim yang menjadi penduduk terbesar di DKI. Sekitar 87%.

Tarawih Akbar adalah gagasan dan ide segar. Setelah Pilgub Jakarta yang sempat membuat masyarakat Jakarta terbelah, kegiatan semacam tarawih Akbar bisa menjadi jembatan bagi pihak-pihak yang berseberangan. Anies-Sandi adalah pemimpin untuk semua rakyat Jakarta. Tak halal lagi muncul narasi mana pendukung dan mana bukan pendukung. Mana pemilih Anies-Sandi, mana bukan. Itu masa lalu, klasik dan sudah kuno. Selama mereka tinggal dan punya KTP Jakarta, mereka punya hak yang sama. Sama-sama rakyatnya Anies-Sandi, dan berhak diperlakukan dan mendapat keadilan yang sama. Dan juga, punya kewajiban dan tanggung jawab yang sama untuk membangun dan menatap masa depan Jakarta. Itu baru "move on".

Tarawih Akbar yang dihadiri ratusan ulama lintas ormas dan mazhab, puluhan ribu rakyat dari 44 kecamatan dan 267 kelurahan dengan berbagai latarbelakang etnis dan paham politiknya, tumpah ruah di Masjid Istiqlal, akan mensuplai optimisme baru bagi masa depan Jakarta. Bertemu di tempat yang damai dan sahdu. Merajut kembali hati dan pikiran yang sempat terbelah karena kesalahpahaman di Pilgub tahun lalu.

Ramadhan bulan damai. Tarawih bersama menjadi sarana hati yang terbelah berpelukan kembali. Anies menegaskan perlunya persaudaraan rakyat Jakarta. Sudah waktunya masyarakat melupakan masa lalu, mengumpulkan energi untuk membangun kembali Jakarta secara bersama-sama. Jakarta milik semua, dan hanya akan maju jika dibangun secara bersama-sama.

Anies-Sandi pun melibatkan semua unsur pemprov DKI. Mereka dihadirkan agar selalu dekat dengan rakyat. Pemprov DKI mesti sering hadir di tengah masyarakat dengan semua problem dan harapannya. Karena, mereka digaji dengan uang rakyat, dan sudah seharusnya bekerja untuk rakyat. Ini akan efektif jika mereka dekat dengan rakyat, mendengar dan tahu apa problem dan harapan rakyat. Sehingga, semua program dan kegiatan DKI berorientasi dan menyentuh langsung pada kebutuhan rakyat.

Tarawih Akbar yang ide awalnya digagas Sandiaga ini layak menjadi tradisi  tahunan. Baik sekali untuk menjahit luka karena kesalahpahaman. Ajang silaturahmi dan saling dengar pandangan. Ini akan jadi lokomotif energi untuk kerja bersama semua elemen membangun kota Jakarta.

Tarawih bersama diharapkan bukan sekedar "annual ceremony", tapi mesti dimaknai sebagai usaha bersama rakyat menjadikan Jakarta Maju Kotanya, Bahagia Warganya.

Jakarta, 28 Mei 2018

*Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa