Suka Duka Raih Master Dari Columbia University

Category: Berita -> FILM, MUSIK & SELEBRITIS | Posted date: 2018-05-30 12:21:41 | Updated date: | Posted by: Farid Ridwan


Tasya Kamila terlihat anggun berkebaya merah dibalut toga warna biru. Busana itu ia kenakan dalam wisuda yang menandai keberhasilannya menyelesaikan program S2 jurusan Public Administration Columbia University, Amerika Serikat. “Alhamdulillah,” kata Tasya



Ceknricek.com - Tasya Kamila terlihat anggun berkebaya merah dibalut toga warna biru. Busana itu ia kenakan dalam wisuda yang menandai keberhasilannya menyelesaikan program S2 jurusan Public Administration Columbia University, Amerika Serikat. “Alhamdulillah,” kata Tasya, sekembalinya ke Tanah Air, Jumat (25/5).

Mantan penyanyi cilik kelahiran Jakarta, 22 November 1992 itu diwisuda sebagai master di kampusnya, Senin (14/5). Di hari kelulusannya itu ia ditemani sang ibu, Isverina Andriany, dan kekasihnya, Randi Bachtiar. "So proud of her. You did it! @tasyakamila," tulis Randi dalam Instagram Story.

Tasya terbang ke Amerika untuk mengambil program S2 di Columbia University, September 2016. Ia sengaja mengambil public administration karena sesuai minatnya dengan konsentrasi pilihan pada environmental policy. 

“Program itu cocok denganku. Aku bisa menjalin networking untuk program keberlanjutan PBB yang di bawah United Nations Sustainable Development Solution Network (UN-SDSN),” kata Tasya dalam perbincangan sebelum terbang ke Amerika Serikat.

Beasiswa

Meraih gelar master di Columbia University adalah keberhasilan yang sangat membanggakan. Apalagi ia tercatat sebagai penerima beasiswa S2 dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di bawah Kementerian Keuangan. Meski mendapat beasiswa, Tasya harus berjuang keras untuk menyelesaikan studinya.

Perjuangan itu setidaknya terekam dalam video singkat yang ia unggah di akun social media-nya, @tasyakamila, saat sedang menghadapi UAS dan masih harus menyelesaikan tugas yang banyak.

"Aseli ini UAS kok kayak enggak selesai-selesai sih (emoticon nangis) masih aja ke library ngerjain paper (emoticon nangis) #finalsituation," tulis Tasya seraya memperlihatkan suasana perpustakaan yang dipenuhi para mahasiswa yang sibuk dengan laptopnya masing-masing.

Di postingan berikutnya, Tasya memperlihatkan laptopnya dan menuliskan sebuah caption singkat berupa, "Gimana kira2? Aman atau Ilang dahhh".

Tasya rupanya ingin beranjak sejenak dari meja dan meninggalkan laptop tanpa ada yang mengawasi. Baru dalam postingan selanjutnya, Tasya menegaskan bahwa laptop yang ia tinggal selama 10 menit tanpa pengawasan itu aman dan masih berada di tempat semula

Di postingan yang sama, Tasya juga menuliskan soal biaya kuliah per semester yang terbilang selangit. "Aman guys ditinggal 10 menit (emoticon senyum dan jempol) Iyalah keterlaluan banget kalau uang sekolahnya aja Rp 350juta per semester tapi masih pada nyolong (emoticon nangis sampai ketawa)," tulisnya.

Dalam kesempatan lain, Tasya sempat mengunggah foto berisi email tentang tagihan biaya kuliahnya. Ia melingkari angka yang bertuliskan nominal US$29.696.00 atau setara dengan Rp400 juta.

Reputasi Columbia University

Mengutip Wikipedia, Columbia University dianggap sebagai salah satu perguruan tinggi paling prestisius di dunia, sebagai pemimpin dalam bidang ilmiah, humanitas, hukum, kedokteran, pendidikan, teknik sipil, dan bisnis. Hingga tahun 2004, ada 72 pemenang Nobel merupakan lulusan universitas tersebut.

Pada awalnya Universitas Colombia bernama King’s College, karena diresmikan oleh raja Inggris (1754). Perubahan nama menjadi Columbia University terjadi pada 1784.

Selain Barack Obama, sejumlah tokoh dunia lahir dari Colombia University, di antaranya Theodore Roosevelt, Franklin Delano Roosevelt, Mikhail Saakashvili, Warren Buffett, dan Jose Ramos Horta.

Tasya terhitung berotak encer. Lulus SMA ia menerima beasiswa dari Nanyang Technological University, salah satu universitas favorit di Singapura. Tapi, ia lebih memilih kuliah di Universitas Indonesia. Tasya diterima di jurusan akuntasi fakultas ekonomi melalui penelusuran minat dan kemampuan (PMDK). Ia menyelesaikan program S1 (2010-2014) dengan predikat cum laude.

Mengenai jurusan akutansi yang dipilihnya, Tasya terpengaruh ayah dan dua kakaknya yang berprofesi sebagai akuntan. "Tadinya mau masuk kedokteran, tapi kuliahnya terlalu padat. Takut enggak bisa bagi waktu dengan karier," katanya.

Suka Duka

Menurut Tasya, kuliah di luar negeri lebih banyak suka ketimbang dukanya. Ia merasa mendapatkan suasana dan lingkungan baru. “Banyak pelajaran hidup baru yang bisa kita dapat. Sedangkan dukanya, pada saat tertentu kangen sama keluarga di rumah, karena jauh. Apalagi setelah Papa meninggal dunia, Mama di rumah sendirian. Jadi kadang juga kasihan. Tapi untunglah Mama bisa memahami kondisiku,” katanya.

Bekal gelar Master of Public Administration membuat Tasya semakin percaya diri dalam melangkah untuk mewujudkan cita-cita. Bahkan di tengah berbagai kesibukan sebagai artis yang masih dijalaninya, dia juga bertekad untuk meneruskan kuliah untuk mengejar gelar PhD.

Dengan begitu, Tasya merasa benar-benar paham dengan berbagai permasalahan sosial, yang kerap menjadi objek perhatian para pejabat publik.

Obsesi menjadi sosok yang bisa memberi manfaat bagi orang banyak, juga menjadi salah satu pendorong Tasya untuk terus menapaki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ia mengatakan ingin jadi pejabat tinggi yang bisa ikut memberi warna pada berbagai kebijakan di masyarakat.

Sejauh ini, Tasya beberapa kali dipercaya menjadi duta Indonesia dalam berbagai acara yang diselenggarakan lembaga internasional. Yang salah satunya, Youth Forum yang diadakan oleh badan PBB ECOSOC.