Korban First Travel Minta DPR Bentuk Pansus

Category: Berita -> POLITIK & HUKUM | Posted date: 2018-05-30 19:40:05 | Updated date: | Posted by: Asro Rokan


Ceknricek.com - Calon jamaah umroh korban First Travel (FT) mendesak DPR-RI membentuk Panitia Khusus untuk pengembalian dana mereka. Korban juga meminta Kejaksaan Agung sebagai eksekutor negara terus memburu aset-aset FT.



Ceknricek.com - Calon jamaah umroh korban First Travel (FT) mendesak DPR-RI membentuk Panitia Khusus untuk pengembalian dana mereka. Korban juga meminta Kejaksaan Agung sebagai eksekutor negara terus memburu aset-aset FT.

“Kami meminta kepada DPR membentuk panitia khusus. Ini uang jamaah yang jumlahnya sangat banyak. Para korban terus menuntut agar uang yang mereka setorkan dapat dikembalikan utuh kepada mereka,” kata TM. Luthfi Yazid, SH.,LL.M, CIL,CLI, kuasa Hukum Korban First Travel/Tim Penyelamatan Dana Umroh (TPDU) di Jakarta, Rabu (30/5).

Menurut Luthfi, para korban sore tadi juga sudah menyurati Jaksa Agung untuk menyelidiki aset dan dana FT.

Pengadilan Negeri Depok, Rabu (30/5) menghukum Direktur Utama First Travel (FT) Andika Surachman 20 tahun penjara, istrinya yang juga direktur FT, Anniesa Hasibuan, 18 tahun penjara, dan Direktur Keuangan Siti Nuraida alias Kiki, 18 tahun penjara. Andhika dan Anniesa Hasibuan membayar denda masing-masing Rp 10 milyar. Sedangkan Kiki didenda Rp 5 milyar.

Dalam keputusannya, Ketua Majelis Hakim Sobandi, tidak meminta FT membayar kembali dana korban untuk dikembalikan.

Menurut Luthfi, Majelis Hakim seharusnya dapat menangkap suasana batin para jamaah yang gagal berangkat, menangkap aspirasi keadilan para jamaah dan mengambil putusan secara komprehensif dan seadil-adilnya.

Para jamaah korban FT, lanjutnya, sangat berharap ada transparansi soal asset-asset FT yang disita dan diharapkan agar JPU selaku eksekutor negara dapat terus memburu serta mengklarifikasi asset-asset FT. JPU juga harus segera mengembalikan uang jamaah secara penuh.

Seperti diketahui, korban First Travel berjumlah 63.310 jemaah, dengan total kerugian mencapai Rp905 milyar.

Menurut Luthfi, dari fakta persidangan jelas dan terangbenderang bahwa Andhika telah melakukan kejahatan penipuan, penggelapan dan tindak pidana pencucian uang.