IMA Awards 2018, Selebrasi Keberagaman Film Indonesia

Category: Berita -> FILM, MUSIK & SELEBRITIS | Posted date: 2018-05-31 10:35:57 | Updated date: | Posted by: Raynaldi Wahyu


Indonesian Movie Actors (IMA) Awards 2018 tak hanya memberikan apresiasi kepada para aktor Tanah Air, dengan piala bergengsinya. Pada perhelatan IMA Awards ke-12, juga mengapresiasi judul film, seperti salah satu kategori yaitu Ansambel Terbaik.



Ceknricek.com - Indonesian Movie Actors (IMA) Awards 2018 tak hanya memberikan apresiasi kepada para aktor Tanah Air, dengan piala bergengsinya. Pada perhelatan IMA Awards ke-12, juga mengapresiasi judul film, seperti salah satu kategori yaitu Ansambel Terbaik.

Ansambel Terbaik merupakan satu dari 17 kategori IMA Awards 2018. Pengertian ansambel atau musik ansambel adalah bermain musik secara bersama-sama dengan menggunakan beberapa alat musik tertentu, serta memainkan lagu-lagu dengan aransemen sederhana.

Pada kategori Ansambel Terbaik terdapat 7 nomine. Yaitu film Pengabdi Setan, Kartini, Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak, Night Bus, Sweet 20, Turah, dan Sekala Niskala. Dari 7 film tersebut, satu judul cukup menyita perhatian, yaitu Sekala Niskala. 

Mengapa demikian? Karena film tersebut hanya kebagian tak lebih dari 15 layar di Indonesia. Padahal film The Seen and Unseen (judul internasional) ini sudah lebih dulu tayang, bahkan memboyong piala pada sejumlah festival film bergengsi. 

Film karya sutradara Kamila Andini tersebut memenangi penghargaan kategori Generation Kplus International Jury pada festival film internasional Berlinale 2018 di Berlin, Jerman. Bisa dibilang Sekala Niskala mengembalikan nama baik perfilman Indonesia di kancah dunia. Sebab film-film Indonesia absen dalam festival Berlinale sejak 2015.

Sebelumnya, film itu sudah tayang perdana di Toronto International Film Festival. Film Sekala Niskala juga sudah memenangi berbagai penghargaan, yaitu Film Remaja Terbaik di Asia Pacific Screen Awards 2017, Film Terbaik Tokyo FILMeX 2017, dan Film Terbaik Jogja-Netpac Asian Film Festival. 

Film berbahasa Bali ini diperankan oleh para seniman Bali, seperti Ayu Laksmi, I Ketut Rina, dan dua bintang baru, Thaly Kasih dan Gus Sena. Kekuatan seni peran, tari dan vokal menjadi pusat perhatian dalam film tersebut. 

Untuk memberikan soul dalam film, Yasuhiro Morinaga menggabungkan musik khas bali dengan sedikit sentuhan Asia Timur. Selain memperindah kesunyian, musik ini juga sejalan dengan visi sutradara yang ingin menggambarkan manusia Indonesia pada khususnya, dan Asia pada umumnya, yang sama-sama holistik.

Nah, ketika Ceknricek.com berbincang dengan Ketua Dewan Juri IMA Awards 2018, Marcella Zalianty, ia mengungkapkan alasan menyomot film Sekala Niskala menjadi nomine pada kategori Ansambel Terbaik. Kriteria kualitas yang dipatok oleh dewan juri adalah salah satu faktor utamanya.

"Artinya kita melihat esensi dari kualitasnya, keunikannya, ada juga dari sisi karena ini sebuah film kita melihat dari pendekatan artistiknya. Yang mana artinya sangat luas, mulai dari bagaimana treatment sutradaranya, bagaimana juga naskahnya, juga dari keseluruhan film," kata Marcella saat ditemui di MNC Studio, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Rabu (30/5/2018).

Marcella Zalianty melihat kelayakan Sekala Niskala berdasarkan tema yang diangkat pada film tersebut, serta bagaimana mengkomunikasikannya ke audio visual. 

Selain menjadi nomine pada kategori Ansambel Terbaik, film Sekala Niskala juga masuk nominasi Ansambel Terfavorit. Ada 11 nominee lain yaitu Yowis Ben, Susah Sinyal, Posesif, Critical Eleven, dan selebihnya yang menjadi nominee pada Ansambel terbaik.

Secara keseluruhan, ada 17 kategori IMA Awards 2018 yang terbagi menjadi 8 kategori terbaik, hasil mufakat juri dan 7 kategori terfavorit pilihan masyarakat melalui voting. Serta 2 kategori spesial, yaitu lifetime achievement dan special awards.

"Kita dewan juri memiliki objektivitas dan keleluasaan dalam menentukan skala kualitas film berdasarkan keputusan bersama. Jadi tidak ada ketentuan genre, jumlah penonton, tidak ada ketentuan penghargaan-penghargaan," ucap Marcella.

Pernyataan Marcella Zalianty itu tentu membawa angin segar bagi dunia film Tanah Air. Lantaran memang jumlah penonton Sekala Niskala tidak membeludak layaknya film Dilan 1990. Saat film adaptasi novel karya Pidi Baiq itu menembus angka jutaan, Sekala Niskala hanya berhasil memperoleh tak lebih dari 10 ribu penonton, dalam jangka waktu sepekan setelah tayang perdana, 8 Maret 2018.

"Justru di sini (IMA Awards 2018) kita selebrasikan keberagaman. Karena dari film komersil dan film festival, dari film yang penontonnya sedikit dan banyak. Kalau memang kualitasnya sesuai dengan yang kita tentukan ya kita beri apresiasi," ujar Marcella.

Ya, selain Marcella Zalianty, bangku juri IMA Awards 2018 juga diisi oleh Marsha Timothy, Lukman Sardi, Salman Aristo, Robert Ronny, Ifa Isfansyah, dan Ario Bayu. Mereka menilai secara adil dan obyektif untuk film yang diproduksi pada periode 1 Maret 2017 sampai 28 Februari 2018.