Membongkar Sarang Radikalisme di Kampus

Category: BERITA -> POLITIK | Posted date: 2018-06-03 13:21:10 | Updated date: | Posted by: Rihat Wiranto


Detasemen Khusus 88 Antiteror bersama dengan Polda Riau menyita empat unit bom rakitan berdaya ledak tinggi dari hasil penggerebekan di Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Riau.



Ceknricek.com - KAMPUS yang seharusnya menjadi tempat belajar ilmu pengetahuan dan teknologi kini terganggu dengan “ancaman bom”. Apa yang terjadi di Universitas Riau sangat memprihatinkan.

Detasemen Khusus 88 Antiteror bersama dengan Polda Riau menyita empat unit bom rakitan berdaya ledak tinggi dari hasil penggerebekan di Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Riau.

"Barang bukti yang dikumpulkan, empat bom yang siap diledakkan," kata Kapolda Riau Inspektur Jenderal Polisi Nandang dalam konferensi pers di Pekanbaru, Sabtu (2/6) malam.

Kapolda menyebutkan keempat bom tersebut memiliki daya ledak tinggi, setara dengan bom yang meledak di sejumlah titik di Kota Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

Polisi juga  menyita sejumlah bahan peledak lainnya. Menurut Nandang, bahan-bahan peledak tersebut sangat sensitif.

Bahan peledak dan bom itu, kata dia, sengaja dirakit oleh tiga terduga teroris masing-masing berinisial Z, B, dan K. Ketiganya merupakan alumni perguruan tinggi negeri tersebut masing-masing angkatan 2002, 2004, dan 2005. Nandang menyebut ketiga terduga tersebut merupakan alumni Jurusan Pariwisata, Komunikasi dan Administrasi Negara.

Polisi  juga  menyita  senapan angin, busur panah dua buah berikut delapan anak panahnya. Mereka ingin  meledakkan bom  di Gedung DPR di Jakarta dan DPRD Provinsi Riau di Pekanbaru. 

Nandang menjelaskan bahwa ketiga terduga teroris itu sengaja menggunakan kampus untuk menutupi jejak mereka, terutama dalam merakit bom.

"Kebetulan barang bukti ini dirakit di Sekretariat Kelembagaan Gelanggang Mahasiwa. Mereka numpang tidur di mes Mapala Sakai selama sebulan (selama perakitan bom)," ujarnya.

Paham Radikal

Dalam sebuah diskusi di Jakarta (25/5), Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Hamli mengatakan hampir semua perguruan tinggi negeri (PTN) sudah terpapar paham radikalisme.

BNPT membeberkan Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) sudah disusupi paham radikal.

Direktur The Community Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya menyatakan adanya pandangan bahwa kampus menjadi tempat subur pembenihan ekstrimisme perlu bukti atau data empirik.

“Tidak boleh hanya karena ada satu dua orang oknum mahasiswa satu kampus terlibat aksi teror kemudian dibuat dasar mengeneralisir untuk semua kampus,” katanya kepada Ceknricek.com.

Lagi pula, masih menjadi perdebatan apa paramater kampus dikatakan sudah terpapar radikalisme? “Standar radikal itu apa juga masih kabur.
Hakikatnya radikal pemikiran itu tidak linear dengan radikal aksi fisik,” ujarnya lebih lanjut.

Menurutnya,  kampus adalah tempat kaum intelektual mendedah beragam pemikiran. Kampus tidak boleh dibonsai dengan doktrin monoton tanpa memberikan ruang dialog san mengedepankan rasionalitas dan ilmiah.

“Maka BNPT dan  pihak terkait jika perlu menyiapkan narasi yang cukup kuat untuk disemai  di kampus dengan beragam pendekatan sesuai dengan kultur kampus.

Nah di sana akan lahir dinamika. Jika narasi (konsep kontra ideologi radikal) itu kokoh basis argumentasinya maka dengan sendirinya kaum intelektual akan interes. Dengan demikian bisa mereduksi berkembangnya paham yang dianggap radikal.”

Pendekatan hard power untuk mereduksi pikiran yang ducap radikal itu sama saja menunjukkan kekalahan penguasa mengelola dan menangani masalah ini.

Polisi bisa saja masuk ke kampus jika memang  ada indikasi kuat ada kegiatan  hendak meledakkan bom. Tapi di luar itu usahakan proses penindakan dilakukan di luar kampus.

“Karena perlu memperhatikan marwah kampus, dan juga meminimalisir pandangan publik yang tidak sepakat dengan pola penindakan seperti itu.”

Konsolidasi

Rektor Universitas Riau Aras Mulyadi menyatakan akan melakukan konsolidasi secara internal setelah kejadian itu guna mencegah kejadian serupa terjadi lagi.

Menurut dia, tindakan tersebut sama sekali bukan tindakan terpuji dan jelas sebuah tindakan yang terlarang.

"Terus terang seluruh civitas academica mengutuk kegiatan yang mengarah ke bom, dan dibuktikan dengan ini," ujarnya, Minggu (3/5) dalam sebuah konferensi pers.

Selama ini, kata dia, pihak kampus sama sekali tidak mencurigai seluruh kegiatan, terutama yang melibatkan alumni di salah satu perguruan tinggi tertua di Riau tersebut.

Aras sangat menyayangkan dengan adanya insiden tersebut.