Wartawan Asean Sesalkan PDI-Perjuangan

Category: Berita -> SOSIAL BUDAYA | Posted date: 2018-06-04 09:34:42 | Updated date: | Posted by: Admin


Korps Wartawan Asean menyesalkan petinggi PDI-Perjuangan yang mengatakan kantor media bisa rata dengan tanah bila beritanya menyinggung pemimpin partai.



Ceknricek.com - Korps Wartawan Asean menyesalkan petinggi PDI-Perjuangan yang mengatakan kantor media bisa rata dengan tanah bila beritanya menyinggung pemimpin partai.

Pernyataan tersebut dinilai telah mencoreng nama baik Indonesia, kata  Wakil Presiden Konfederasi Wartawan ASEAN (CAJ) Teguh Santosa dalam siaran persnya yang diterima Senin (4/6).  Teguh menilai selama ini praktik kebebasan berpendapat dan kemerdekaan pers di Indonesia kerap dijadikan sebagai model dalam berbagai forum wartawan ASEAN.

"Pasca Orde Baru, malah ada semacam "kecemburuan" di kalangan teman-teman wartawan ASEAN melihat kemerdekaan pers di Indonesia. Terlepas dari indeks kemerdekaan pers yang dirilis Reporters Without Borders setiap tahun, paktik kemerdekaan pers di Indonesia dinilai  cukup baik. Prinsip self regulation yang dianut masyarakat pers nasional menjadi contoh yang diidam-idamkan dan coba ditiru di negara-negara ASEAN lainnya," ujar Wakil Presiden CAJ itu.

Dalam prinsip self regulation yang didasarkan pada UU 40/1999 tentang Pers, Dewan Pers yang dibentuk masyarakat pers nasional menjadi instrumen utama yang bertugas melindungi kemerdekaan pers dengan berbagai kegiatan, mulai dari mendorong peningkatan kapasitas kerja wartawan dan profesionalisme perusahaan media, hingga penyelesaian sengketa atas pemberitaan atau karya jurnalistik produk pers.

Sangat berbahaya

Ancaman  Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan di DPR RI Bambang Wuryanto sangat berbahaya. Menurut Teguh, karena disampaikan oleh seorang pejabat penting partai, pernyataan itu bisa dimaknai sebagai "instruksi" atau "restu" kepada kader dan simpatisan partai untuk melakukan represi sekeras mungkin terhadap media.

"Saya khawatir ini bisa memicu kekerasan terhadap wartawan dan media hingga ke level yang sangat sadis dan tak terbayangkan sebelumnya," ujar Teguh sambil mencontohkan pembantaian Ampatuan di Provinsi Maguindanao, Filipina, tahun 2009 yang menewaskan 58 orang, termasuk 34 wartawan.   

Pernyataan "rata dengan tanah" disampaikan Bambang Wuryanto sebagai respon atas pemberitaan Radar Bogor yang menyoroti aktivitas dan gaji Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

"Kalau pemberitaan kayak begitu ( Radar Bogor) di Jawa Tengah, saya khawatir kantornya rata dengan tanah," kata Bambang.

Apresiasi Megawati

Di sisi lain, Teguh juga mengapresiasi seruan Megawati Soekarnoputri yang disampaikan putranya Prananda Prabowo agar seluruh simpatisan dan kader PDIP menjaga hubungan baik dengan media.

Prananda Prabowo yang juga Kepala Pusat Analisa dan Pengendali Situasi PDIP meminta agar ketidakpuasan terhadap pemberitaan media ditempuh dengan cara-cara yang telah diatur oleh undang-undang.

"Semoga pernyataan yang disampaikan ini dapat menghindarkan situasi terburuk yang bisa membahayakan kemerdekaan pers kita," demikian Teguh menanggapi seruan tersebut.