INDONESIA MOVIE REVIEW

DILARANG MENYANYI DI KAMAR MANDI (2019)

IMR 094
Prasangka Mayoritas Memicu Persekusi pada Minoritas
DILARANG MENYANYI DI KAMAR MANDI
Ulasan : Yan Widjaya
Nilai IMR & AMR : Oleh Komite IMR

IMR 094
Prasangka Mayoritas Memicu Persekusi pada Minoritas
DILARANG MENYANYI DI KAMAR MANDI
Ulasan : Yan Widjaya
Nilai IMR & AMR : Oleh Komite IMR

7.5

IMR

7.5

IMR

7.5

AMR

7.5

AMR

Share on facebook
Share on google
Share on twitter

LSF : 17 +

Durasi : 96 Menit

Tayang : 18 Juli 2019

Genre : Komedi Satire

Para Pemain : Elvira Devinamira, Mathias Muchus, Wulan Ruz, David John Schapp, Yayu Unru, Jurike Prastica, Anne J. Cotto, Anna Tarigan, Ricky Malau, Farid Ongky, Maryam Supraba, Ingrid Widjanarko, Ade Puspa, Totos Rasiti, Emmi Lemu, Is Daryanto, Poppyasya Azzarra, Juliana Mochtar, Ferouz Afero, Anisa Sheban, Jo Sebastian, Iwan Gardiawan, Yan Widjaya

DOP : Umar Setyadi

Skenario : Seno Gumira Ajidarma, John De Rantau

Cerita : Seno Gumira Ajidarma

Sutradara : John De Rantau

Produser : Andy Shafik, Ir. Poedji Chimawan, Harry Purnomo, John De Rantau

Produksi : Himaya Studio, JDeR Syndicate

JAKARTA, kampung, masa kini…

Puluhan isteri berbaris di sepanjang lorong, sambil bersorak-sorai emosionil, “Usir, usir, usir sekarang juga si Sapi!”

Apa pasal?

Ternyata mereka berdemo di depan rumah Pak RT Muchus, karena ada seorang gadis muda, cantik tentu saja, yang kos di sini. Namanya bukan si Sapi melainkan Sophie. Pak RT blingsatan, “Apa salah si Sophie, coba?”

“Dia menyanyi dengan suara SSB setiap mandi!” tuduh Jainab yang paling galak.

“Apa itu SSB?”

“Serak-Serak-Basah kek di bokep, Pak RT sih, nonton bokep deh!” cetus Bu Riris yang tertua.

Spontan Pak RT membekap mulut perempuan kolot ini!

Ternyata nyanyian Sophie membuat para suami warga kampung terangsang. Diam-diam mereka antre ingin mengintip Sophie mandi sambil berimajinasi, membayangkan kemulusan bodynya, wow! Saking asyik sampai masturbasi berjamaah! Lantaran itulah mereka tak lagi punya nafsu untuk menggauli isteri yang sah di rumah!

Jadi, bagaimana? Tegakah Pak RT mem-persona-non-grata-kan Sophie? “Apa salah dan dosaku, sayang?” nyanyi Sophie dalam kamar mandi, “Jaran goyang, jaran goyang…” Bukan RT Muchus namanya kalau tidak punya cara bijak untuk solusi kasus geger kampungnya!

PUTERI INDONESIA                    

Seperti peribahasa, “Ada Seribu Jalan Menuju Roma”, maka banyak cara terjun ke dunia film. Umumnya kaum muda kalau bicara tentang film, hanya berangan-angan untuk menjadi artis atau bintang, padahal banyak sekali peluang untuk berkiprah, misalnya dengan belajar menulis skenario, mempelajari bidang penyutradaraan, tata kamera, tata artistik, tata suara, tata rias, dan lain-lainnya.

Kembali pada salah satu jalan untuk terjun sebagai artis, adalah dengan lebih dulu memupuk nama dalam bidang kesenian yang lain. Misalnya menyanyi, bagi penyanyi tenar pintu untuk main film terbuka lebar. Lihat dari Titiek Puspa, Titiek Sandhora, sampai sekarang ke Raisa, Fatin, Nisa Sabyan, semuanya sudah main film.

Nah, bagi Elvira Devinamira Wirayanti (26 tahun), jalan itu adalah lewat gelar Puteri Indonesia 2014. Elvira mewakili Provinsi Jawa Timur, dan menyabet gelar itu, hingga dikirim ke ajang Miss Universe 2014 di Amerika Serikat. Dan ia pun mendapat penghargaan khusus Best National Costum. Maka Elvira pun mulai berkarier di blantika akting dengan main sinetron dan film bioskop, tapi baru sekarang didapuk John De Rantau untuk menjadi pemeran utama dalam sebuah komedi satire.

Bagi John De Rantau (49), inilah film karya penyutradaraannya yang ketujuh, sejak debutnya, Denias, Senandung di Atas Awan (2006) sampai Wage (2018). Skenario yang ditulisnya sendiri, berdasarkan cerpen karya Seno Gumira Ajidarma. Sebelum difilmkan, sudah pernah dialihkan ke sebuah film televisi beberapa tahun yang lalu.

Tak mau kepalang tanggung, John mengarahkan 62 pemain yang berdialog, termasuk dari para senior seperti Mathias Muchus, Yayu Unru, Ingrid Widjanarko, Jurike Prastika, Anna Tarigan, bahkan enam sutradara ikutan tampil, antaranya Anggy Umbara dan Andibachtiar Yusuf.

Setting lokasi di sebuah perkampungan di pelosok Jakarta, aslinya di kawasan Menteng Pulo, di mana beragam etnis campur-aduk berdesakan dalam gang-lorong sempit. Kali yang berair hitam keruh mengalir. Suasana sumpek namun guyub antara para suami, dan juga kekompakan para isteri. Itulah gambaran masyarakat kalangan menengah ke bawah.

Mendadak sesepuh penari Sardono Waluyo Kusumo (74) bicara di layar Jder TV, “Kecenderungan masyarakat masa kini, pihak mayoritas menekan pihak minoritas.” Ini jelas sindiran pada situasi terkini yang dalam film digambarkan lewat unjuk rasa para isteri di depan pak RT menuntut pengusiran Sophie dari kampung mereka. Padahal seperti disanggah Komandan Sekuriti Jerry, “Apa kesalahan Sophie? Pernahkah ia menggoda para suami? Pernahkah ia tidak sopan pada ibu-ibu?”

Sesungguhnya Sophie memang seorang mahasiswi yang tengah membuat skripsi mengenai masyarakat bawah Jakarta. Sayangnya, tidak diperlihatkan bagaimana ia membaur dengan para tetangga di sekelilingnya. Satu-satunya yang berteman dengannya hanyalah Senja, pemuda yang menghajar pencopet ponsel Sophie di angkot. Nama Senja diduga adalah akronim dari nama penulis cerita pendek aslinya. Di penghujung film, pemuda pendiam yang gemar memotret, dan diam-diam merekam berbagai mimik wajah Sophie, ternyata sudah menerbitkan sebuah novel yang bertajuk sama dengan judul film ini…

Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi rasanya sudah lama sekali tidak ada film komedi satire Indonesia seperti ini. Dalam catatan saya antara lain adalah: Krisis (karya Usmar Ismail, 1953), Jembatan Merah (karya Asrul Sani, 1973), serta dua karya Nya Abbas Akup, Cintaku di Rumah Susun (1987) dan Kipas-Kipas Cari Angin (1989). Sayangnya, berbeda dengan penonton tempo doeloe, penonton masa kini nampaknya mengalami kemunduran dalam masalah selera, mereka belum mau menerima film cerdas…  

Indonesia Movie Rating

4 : Terserah
5 : Biasa Saja
6 : Cukup
7 : Lumayan
8 : Menarik
9 : Bagus
10 : Luar Biasa

Anjuran Menonton Rating

4 : Membuang Waktu dan Uang
5 : Tunggu, tak Perlu Ditonton
6 : Boleh Nonton kalau ada Waktu
7 : Memenuhi Syarat Tontonan
8 : Asyik sebagai Hiburan
9 : Direkomendasikan untuk Ditonton
10 : Jangan Lewatkan!