INDONESIA MOVIE REVIEW

DUA GARIS BIRU (2019)

IMR 091
Apa Daya Bila Telanjur Mencapai
DUA GARIS BIRU
Ulasan : Yan Widjaya
Nilai IMR & AMR : Oleh Komite IMR

IMR 091
Apa Daya Bila Telanjur Mencapai
DUA GARIS BIRU
Ulasan : Yan Widjaya
Nilai IMR & AMR : Oleh Komite IMR

8

IMR

8

IMR

8

AMR

8

AMR

Share on facebook
Share on google
Share on twitter

LSF : 13+

Durasi : 113 Menit

Tayang : 11 Juli 2019

Genre : Drama

Para Pemain : Angga Yunanda, Zara JKT 48, Lulu Tobing, Cut Mini, Dwi Sasono, Arswendy Bening Swara Nasution, Rachel Amanda, Rahma Alia, Irgi Fahrezi, Asri Welas, Maisha Kanna, Shakira Jasmine, Ligwina Hartanto, Ariel JKT 48, Sindy JKT 48, Bintang Emon

DOP : Padri Nadeak

Skenario : Gina S. Noer

Cerita : Gina S. Noer

Sutradara : Gina S. Noer

Produser : Chand Parwez Servia, Fiaz Servia

Produksi : StarVision Plus, Wahana Kreatif

JAKARTA, masa kini, Dara, siswi terpandai, Bima siswa terbodoh di kelas dua SMA mereka. Beda level ekonomi mereka juga mencolok, Dara puteri keluarga kaya terpandang, Bima anak tukang gado-gado dalam gang sumpek. Toh itu tidak menjadi rintangan bagi mereka untuk menjalin kasih-sayang, bahkan sampai kebablasan…

“Tadi sakit ya?” bisik Bima setelah mereka menikmati buah terlarang.

Dara membisu. Namun kecemasan mulai melanda ketika sebulan berselang ia tak kunjung dikunjungi tamu bulanannya. Memeriksa diri dengan test pack, hasilnya dua garis biru!

Maka neraka dunia bagai melanda kedua keluarga. Bahkan papa-mama Dara protes keras pada Kepala Sekolah yang men-drop-out puteri mereka. Ayah-bunda Bima malu sekali karena digunjingkan para tetangga. Mau tidak mau keluarga Bima mesti datang melamar Dara secara adat, lalu memboyong si puteri kaya ke pondok bersahaja. Dara ikhlas saja, demi kandungan dalam rahimnya.

Namun Mama Dara diam-diam sudah menyiapkan rencana jangka panjang demi kebaikan sang puteri. Rencananya cukup matang dan sempurna dari berbagai sudut pandang. Hanya saja apakah Dara mesti dipisahkan dengan Bima, untuk sementara atau….. selamanya… ?!

 

MBA                  

Akronim dari Married by Accident (Menikah karena Kecelakaan) adalah sebutan untuk pasangan remaja yang terpaksa menikah karena sudah telanjur hamil. Ini kasus yang lazim terjadi pada banyak muda-mudi yang pacaran sampai melakukan perbuatan terlarang padahal belum terikat sebagai suami-isteri yang sah.

Dalam catatan saya di dunia film Indonesia, yang pertama memaparkan perihal ini adalah:

Aku Tak Berdosa (1972) arahan sutradara Charles K.M yang dibintangi pasangan Djunaedi Salat – Dewi Puspa.

Berturutan kemudian yang sangat popular adalah:

Buah Terlarang (1979) arahan Eduart Pesta Sirait dibintangi Rano Karno – Yessy Gusman (masih terngiang di telinga dialog tokoh yang diperani Rano, “Kita cuma melakukan sekali kok bisa ya?!”)

Akibat Buah Terlarang (1984) besutan Frank Rorimpandey dengan duet Chris Salam – Ayu Azhari,

Pernikahan Dini (1987) dibuat Yazman Yazid diperani Mathias Muchus – Gladys Suwandi, dan seterusnya, sampai kini versi terbarunya film ini.

Persamaan dari semua film tersebut adalah berlatar belakang pergaulan siswa-siswi SMA yang nampak sebagai anak baik-baik, en toch melakukan hubungan di luar batas pertemanan. Jadi sesungguhnya bukan hanya baru terjadi sekarang, tapi sudah dibuat filmnya semenjak 47 tahun lalu.

Dua hal terpenting yang dipesankan oleh para filmmaker berkualitas pada masyarakat, khususnya penonton film mereka adalah, bila menghadapi situasi gawat begini:

  1. Segera menikahkan mereka secara sah.
  2. Janganlah menempuh tindakan drastis menggugurkan kandungan, karena itu bukan saja perbuatan yang sangat berdosa, membunuh sang janin, calon manusia, namun juga sangat membahayakan keselamatan jiwa sang ibu remaja.

Sejatinya masyarakat bisa mengambil hikmah, betapa pentingnya pendidikan seks bagi remaja, bukan hanya harus diberikan lewat pendidikan formal di sekolah, namun juga dalam keluarga. Wahai para ayah-bunda, luangkan sedikit waktu dari kesibukanmu untuk hal ini, khususnya pada anak-anakmu yang mulai menginjak usia remaja.

Kembali pada film Dua Garis Biru, pujian patut diberikan pada sutradara debutan Gina S. Noer. Memang Gina baru pertama kali menyutradarai sebuah film, namun isteri penulis skenario beken Salman Aristo ini, sudah belasan kali menulis skenario film-film sukses. Bahkan menyabet piala Citra sebagai Penulis Skenario Terbaik dalam FFI 2013 untuk film Habibie & Ainun, yang ditulisnya bareng Ifan Adriansyah.

Di bawah pengarahan yang baik, casting yang pas dengan dialog-dialog bernas, mendadak film ini terasa mumpuni. Padahal dua pemeran utamanya masih sangat muda usia; Angga Yunanda, bintang muda 19 tahun asal Lombok yang baru bermain lima film (termasuk tiga horor Sajen, Tabu, dan Sunyi), berpasangan dengan Adhisty Zara (16 tahun) atau lebih ngetop dengan nama Zara JKT 48, penyanyi yang mendapatkan banyak pujian saat berperan sebagai si sulung Euis dalam Keluarga Cemara.

Peran sebagai ayah-ibu Bima dipercayakan pada aktor teater Arswendy Nasution yang sekarang memakai nama aslinya, Bening Swara, berduet dengan Cut Mini yang sudah paten aktingnya (lihat dialog sewotnya sambil mengulek gado-gado).

Untuk papa-mama Dara didapuk Dwi Sasono, serta welcome back Lulu Tobing (41). Aktris yang terorbit lewat sinetron panjang Abad 21 dan Tersanjung ini, sebenarnya baru main dua film; Aku Ingin Menciummu Sekali Saja, dan Negeri Lima Menara, toh di sini menampilkan kematangan akting yang mampu menyaingi Cut Mini (lihat wajah cantik-dinginnya dalam memutuskan segala sesuatu dengan kelewat tegas, demi kebaikan masa depan sang puteri, termasuk tega hati pada cucu kandungnya). Dialognya, “Jadi orang tua itu bukan cuma hamil sembilan bulan sepuluh hari, itu pekerjaan seumur hidup,” wanti-wantinya dipenuhi amarah dan penyesalan.

Dalam tempo sepekan film ini sudah menembus sejuta penonton, karena di mana pun ditayangkan diserbu oleh penonton-penonton remaja hingga menjadi Film Box Office ke-9 tahun 2019. Semoga mencapai angka dua juta penonton!

Indonesia Movie Rating

4 : Terserah
5 : Biasa Saja
6 : Cukup
7 : Lumayan
8 : Menarik
9 : Bagus
10 : Luar Biasa

Anjuran Menonton Rating

4 : Membuang Waktu dan Uang
5 : Tunggu, tak Perlu Ditonton
6 : Boleh Nonton kalau ada Waktu
7 : Memenuhi Syarat Tontonan
8 : Asyik sebagai Hiburan
9 : Direkomendasikan untuk Ditonton
10 : Jangan Lewatkan!